Kuatkah Golkar Tantang AIM di Pilbup Polman 2018?

905

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pemilihan Bupati Polewali Mandar (Polman) tak lama lagi digelar. Atau jika mengikuti masa jabatan lima tahunan kepemimpinan saat ini, maka kalau tak ada aral menghadang pada Juni 2018 akan dilakasanakan pemilihan Bupati Polman.

Dengan begitu maka masa jabatan Andi Ibrahim Masdar (AIM)—Bupati Polman saat ini—akan segera berakhir, untuk satu masa periode. Dalam tradisi politik Indonesia mutakhir, sudah barang tentu AIM, yang dalam posisi incumbent, akan maju lagi untuk memantapkan pembangunan Kabupaten Polman lima tahun ke depan.

Lalu, dalam posisi AIM saat ini sebagai Ketua Partai NasDem Polman, adalah satu pertanda kuat bahwa AIM telah benar-benar siap menyiapkan kendaraan untuk mengantarnya berlaga di Pilbub Polman nanti.

Bagaimana dengan Golkar?—partai yang pernah lama dipimpin, bahkan pernah dibesarkan oleh AIM sendiri?

Ini yang menarik diikuti. Yang mana itu? Paling tidak dari pernyataan Sekretaris DPD Golkar Sulbar, Haji Hamzah Hapati Hasan, yang tak menyebut nama AIM sebagai salah satu figur dalam perburuan bakal calon (balon) Bupati Polman 2018 usungan Golkar, oleh Maenunis Amin menyebutnya sebagai langkah politik Golkar Sulbar yang berani.

Menurut Maenunis, Pilbup Polman akan lebih seru jika diisi pertarungan kekuatan besar. Jika satu sisi AIM dipersepsi sebagai figur yang kuat, maka seharusnya di kubu yang lain juga selayaknya ada sosok lain yang diasumsikan kuat. Nah dengan begitu, keduanya—katakanlah begitu—keduanya kemudian dinilai akan menjadi rival serius jika berhadap-hadapan.

Simplikasi yang dimaksud pemikir arus utama kemenangan ABM-Enny di Pilgub lalu, “Pilbup Polman akan lebih seru jika AIM dan Golkar berhadap-hadapan. Keduanya lama menyatu, tentu saling memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing. Ini kesempatan tepat untuk menunjukkan klaim mana yang benar, AIM besar karena Golkar atau Golkar besar karena AIM?”

Perspektif politik Maenunis di atas—yang tanda kutip langsung itu—menarik disimak, dan tentu diperbincangkan secara mendalam.

Direktur Logos Politika ini menyebut, Golkar sebaiknya saling uji kekuatan dengan AIM setelah memilih berpisah pada Pilgub 2017 lalu.

“Ketika memilih untuk melepas AIM pada Pilgub lalu, itu artinya Golkar sudah tak nyaman dengan AIM. Saya rasa, itu yang menjadi alasan kenapa Golkar tak prioritaskan mantan kader terbaiknya itu. Jadi, sudah saatnya Golkar menantang AIM untuk saling uji adrenalin,” katanya.

Meski demikian, dirinya melihat suasana politik Polman jelang tahapan pilkada serentak 2018 masih akan dinamis. Potensi ketegangan antara Golkar dan AIM bukan hal mustahil untuk bisa cair.

“Pra-tahapan masih cukup lama dan segala potensi untuk bisa cair juga masih terbuka. Kita lihat saja perkembangannya, apakah Golkar serius akan melawan, ataukah akan menyerah kepada nama besar AIM dan memilih berkoalisi dengan dominasi baru Nasdem ini,” tutup Maenunis.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR