Ki-Ka: HM Taslim Tammauni, Obed Nego Depparinding, dan Ilham Zainuddin alias Rory. (Foto: Ist.)

Ali dan Obed sudah sekian kali berbincang tentang potensi Mamasa yang khas: kopinya yang nikmat sekali.

Akankah komoditi itu tak hanya nikmat di tempat? Jadi teman tatkala sedang bersenda di balai-balai atau di beranda penghabis waktu untuk menyeruputnya di kala petang menembus malam?

Akan lebih dari itu.

Bung Rory punya jawaban.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Jumat malam ini, Mamuju diapit oleh dua suhu yang bersahabat: tak terlampau panas, pula tak turun hujan yang menjadikannya ia dingin. Terasa sejuk sekali.

Pejalan kota di malam ini, tampak riang dan gembira. Berkelana di sudut-sudut kota mana pun, ia bisa dengan sejenak pula kembali ke tengah kota dengan suasana tetap gembira.

Kota Mamuju malam ini sungguh indah tak berdiam diri di rumah. Mencari lawan tanding bicara, tersedia banyak warkop-warkop yang di sana-sini menyebar pelbagai rupa dan warna oleh para sejoli.

Duduk di warkop—yang temaram dan yang kerlap-kerlip—sembari menyeruput kopi panas, duhai nikmat sekali. Kopi dengan segala cita rasa juga tersedia, tinggal pesan sesuai selera.

Sebut kopi, ingat Mamasa.

Ya, Mamasa. Sebuah kabupaten dalam provinsi ini yang berada di kaki gunung yang menjulang tinggi. Dingin. Curah hujannya tinggi.

Di situlah tempat tumbuhnya kopi-kopi petani yang semerbak daunnya. Buahnya membiak secara perlahan. Mula-mula muncul sekuncup, lalu menghijau tua, dan merah menyala kemudian. Padat rapat sekali. Itulah saatnya sang tuan akan datang memanennya. Maka jadilah ia rupiah–meski harganya tak sebanding peluh dan tetesan keringat merawatnya.

Tapi tidak sampai di sini.

Kopi yang banyak itu haruslah menembus mata uang dollar—hingga ke tanah Eropa yang jauh. Dengan begitu petani kita di sana akan sejahtera.

Proses menanam kopi hingga memanennya telah berlangsung puluhan tahun lamanya di Mamasa. Itulah pula bangsa-bangsa Eropa senang berpelesir ke puncak gunung itu, tempo dulu.

Kopi Mamasa telah menarik minat tuan-tuan dari bangsa di seberanag jauh itu—hingga kini tapi dalam metode yang berbeda, bisnis salah satunya.

Dari percakapan melalui WhatsApp, Bung Rory telah menguburkan minat kru laman ini untuk beranjang sana di malam Jumat ini.

“Saya begitu terpukau dengan kopi Mamasa dinda,” kata Rory, sapaan Ilham Zainuddin.

Ilham ini adalah salah satu Pembina Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Idonesia (BPD HIPMI) Sulbar. Dari sejumlah pertanyaan laman ini, Ilham alias Rory menjawabnya.

“Beberapa waktu lalu, saya bersama pak HM Taslim Tammauni (Ketua KADIN Sulbar) berbincang bertiga dengan pak Obed Nego Depparinding. Kami bicarakan masa depan kopi Mamasa,” kata Ilham Zainuddin pada Sarman Shd–kru laman ini.

Dia dan Taslim, ini cerita Ilham, akan berjuang hingga ke Jakarta, coba meyakinkan para pengurus pusat KADIN dan HIPMI di sana, agar bersedia bekerja sama mengembangkan kopi Mamasa.

Bahkan, aku Rory, kelak kita akan perjuangkan agar pabrik kopi bisa dibangun di Sulbar ini. Nah, dengan begitu maka kopi Mamasa akan bisa kita pasarkan hingga ke tanah Eropa yang jauh di sana, tentu bersama kawan-kawan pengusaha di Jakarta.

“Kita mau warga Mamasa sejahtera dengan komoditas kopinya itu,” kata Rory. Kata Bung Rory lagi, pak Obed telah rencanakan akan menginisiasi untuk pertemukan kami dengan sejumlah petani kopi di Mamasa.

Soal kopi Mamasa itu, “Tolong dicatat baik-baik dinda, kita berharap tidak hanya menjadi andalan Mamasa, tapi kelak akan menjadi ikon besar Provinsi Sulbar. Percayalah ini dinda,” kata Rory, penuh keyakinan.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR