Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu, Sabtu pagi, 18 November 2017. (Foto: Sarman SHD)

Bukan kampung Laskar Pelangi, bukan pula tanah tumpah darah ‘Zainuddin dan Hayati’—pemeran utama dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Tapi kampung yang Soekarno tahu betul—tempo dulu. Bahwa, di kampung inilah, Bapak Proklamator itu menjalin kasih dengan Ibu Fatmawati—jadi istrinya kemudian.

Karena itulah, Bengkulu jadi mozaik sejarah bangsa, pula bentangan kisah heroik di zaman pendudukan bangsa Eropa di bumi Nusantara.

Soekarno pernah diasingkan di Bengkulu, 1938-1942. Ia ‘diinapkan’ di sebuah rumah bercorak daerah berpadu ala Eropa.

(Tentang fakta sejarah ini akan diulas pendek di tulisan berikut)

TRANSTIPO.com, Bengkulu – Di zaman pendudukan bangsa Inggris tempo dulu, tersebutlah sebuah nama di Pulau Sumatera: Bencoolen. Bencoolen adalah nama sejarah Bengkulu, Ibukota Provinsi Bengkulu saat ini.

Jejak nama ini masih lestari hingga kini, paling tidak bisa dilihat dari nama sebuah mal besar dalam Kota Bengkulu: Bencoolen Indah Mall.

Bagi generasi Bengkulu kini, entah apa yang hadir terlintas di benaknya ketika melihat tulisan ‘nama sejarah’ itu: Bencoolen. Atau mungkin sekadar pada hasratnya masing-masing: berbelanja seadanya atau sekadar memanjakan pandangan mata, untuk sesuatu yang ‘diimpikan’ atau untuk peneduh rasa yang seolah telah saling kenal mengenal.

Bagi laman ini, inilah kunjungan yang pertama ke salah satu kota tua di Pulau Sumatera ini. Untuk kali pertama ini, bukanlah kedatangan sebagai pengunjung wisatawan lokal.

Kedatangan ke Kota Bengkulu ini adalah delegasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulbar untuk menghadiri Konferensi Kerja Nasional (Konfernas) PWI, berlangsung 17–19 November 2017.

Kami—Penulis (Sarman Sahuding, Sekretaris PWI Sulbar) dan Sulaeman Rahman (Ketua DKP PWI Sulbar—menginjakkan kaki di tanah Bengkulu tepat jam 10.00, Sabtu pagi, 18 November.

Kedatangan kami telambat satu malam lantaran “kesalahan” agenda penerbangan milik maskapai tempat kami menumpang.

Di pelataran Bandar Udara Fatmawati Soekarno, dua orang telah menanti—penantian sejak Jumat malam, 17 November, malah. Dua orang ini punya tugas untuk kami. Dari delegasi PWI Sulbar.

Ketua DPK PWI Sulbar Sulaeman Rahman (kiri) sedang mengikuti Rapat Pemandangan Umum Ketua PWI Pusat dalam ajang Konkernas PWI di Hotel Santika, Bengkulu, Sabtu siang, 18 November 2017. (Foto: Sarman SHD)

Nadia Amanda adalah LO PWI Provinsi Sulbar. Yang satunya lagi Mamat. “Nama saya Mamat,” begitu sapaan pembukanya kepada kami saat pengenalan awal di pintu luar bandara udara itu. Lelaki Mamat (49 tahun) ini adalah ASN atau staf di Kantor Dinas LHK Pemprov Bengkulu.

Manda—sapaan mahasiswi (21 tahun) yang masih kuliah ilmu manajemen dan komunikasi di salah sebuah perguruan tinggi di Kota Bengkulu—adalah salah seorang LO dari 20 LO yang memang diberi tugas oleh Dinas Kominfo Pemprov Bengkulu untuk ‘mengawal kegiatan luar’ peserta Konkernas PWI.

Kami beruntung ‘berjumpa’ dengan Mamat dan Manda. Dia setia mengikuti ‘perintah’ dari kami berdua selama di Bengkulu. Di luar agenda tugasnya adalah keluar menyeberang jalan beli rokok, misalnya, di depan hotel—Hotel Santika—tempat kami menginap dan tempat Konkernas PWI itu dilaksanakan.

Sekilas dinamika dan riuhnya pembicaraan dalam Konkernas PWI akan tersaji pada tulisan berikut.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR