Ini jalan di Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. (Foto: Ist.)

Curahan hati Jasmin, salah seorang warga Mambi yang kini menetap di perantauan, kepada kru laman ini tak lain dari sekadar panggilan nuraninya melanjutkan apa harapan dan amanah masyarakat di pegunungan yang sempat berbicara padanya. Tak lebih dari itu.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sebuah kegelisahan mengabarkan kepada Anda Pembaca yang Budiman, bermula dari perbincangan ringan dalam sebuah grup WahatsApp.

Seorang kerabat bernama Jasmin, asli dari Mambi, Mamasa, Sulawesi Barat. Tentang Kecamatan Matangnga—salah satu kecamatan di wilayah pegunungan Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat—ia banyak paham.

“Keluarga kita banyak di Matangnga dinda. Mambi dan Matangnga seolah sulit dipisahkan,” katanya.

Saya tertarik saat melihat gambar-gambar kondisi jalan di Kecamatan Matangnga yang kerabat Jasmin kirim di grup perbincangan “keluarga MambiE” rantau itu.

Selanjutnya, dalam percakapan pribadi saya dengan Jasmin—secara jarak jauh tentunya—kian banyak gambar-gambar kondisi ril jalanan di wilayah Hadat Andiri Tattempo Anna Samba’ Tamarapona Pitu Ulunna Salu yang dikirimkan pada saya.

Maka, dalam halaman transtipo.com ini saya hanya tampilkan tiga buah gambar, paling tidak dengan tiga gambar ini cukup “mewakili realitas ketertinggalan infrastruktur” di kecamatan tetangga kita itu.

Ini jalan di Kecamatan Matangnga. (Foto: Ist.)

Seolah tak percaya, ketika melihat sebuah gambar dengan keterangan waktu Desember 2017. Lalu ia tampilkan pula gambar hasil potretan kondisi jalan di Matangnga pada pembuka tahun 2018.

Nyaris sama, walau sebetulnya beda—jika dilihat dari ketajaman warna latar belakanng. Tapi substansinya sama: jalanan masih rusak parah.

Lihat baik-baik gambar yang ada di depan Anda.

Jasmin gelisah. Itu saya bisa pahami dari cara dia meng-upload gambar-gambar jalan di Matangnga dalam layanan WhatsApp.

Saya pun seolah ikut “kena gerahnya”. Saya lalu janji sama sobat dan kerabat itu untuk menuangkan tulisan ringan di laman ini—seperti yang Anda baca saat ini.

“Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tapi jalanan di Kecamatan Matangnga masih memprihatinkan,” kritik Jasmin melalui perantaraan WhatsApp ke saya.

Saya bisa pahami kritikan seperti ini. Ketika semua daerah berlomba bicara agenda-agenda kemajuan, kita—lihat misalnya di Matangnga ini, dan mungkin pula masih ada sekian banyak daerah lainnya di Sulawesi Barat ini—yang berkutat pada tiga kata: jalan, jalan, dan jalan.

“Kalau hujan jalanan banjir. Licin karena belum ada drainase (parit, got),” ia berondong saya keterangan melampaui apa yang saya tanyakan padanya.

Jasmin tak lupa terangkan sejumlah titik parah pada sejumlah kampung tua: Rangoan, Lilli’ hingga tembus Mambi.

Ia beri saran begini: “Jalan yang ada di Kecamatan Matangnga itu agar dimasukkan ke APBD Polewali Mandar, bukan APBD Sulawesi Barat.”

Sebuah pesannya yang saya tak paham maksudnya, “Nanti nasilalai.” Ini berbau filosofis yang tak sempat lagi saya konfirmasikan.

Ini jalan di Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar. (Foto: Ist.)

Dalam tebaran pesan-pesannya itu, saya mengutipnya ini, “Pada jaman Belanda dulu, jalan-jalan tersebut (yang dipotret, red) bisa dilalui mobil. Jadi belum ada progres, sudah puluhan tahun NKRI merdeka.”

Jasmin juga punya solusi atas kondisi jalan itu. “Minimal ada pelebaran dan perbaikan jalan di titik pendakian itu,” sarannya.

Secara kasat mata, sebut Jasmin, jalan itu parah. Sempit. Rawan terjadi kecelakaan dan kendaraan rusak.

Ia sudahi perbincagan tertulis ini dengan satu untaian yang mengharu biru:

“Saya uraikan ini dinda, kasihan keluarga kita di Matangnga. Banyak Solasohong kita dari Mambi tinggal di Matangnga. Kita hanya menyampaikan amanah Solasohongta dari kampung. Kasihan mereka. Sekali jalan kendaraan mereka pasti masuk bengkel.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR