Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Barat Dr Yakub F. Solon, S.Pd, SH (kiri) sedang melayani wawancara oleh salah seorang wartawan di Mamasa, beberapa waktu lalu. (Foto: Ishaka M. Toib)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kontes Liga Dangdut (LIDA) di salah satu stasiun televisi swasta nasional dimanfaatkan betul pemerintah dan masyarakat Provinsi Sulawesi Barat memperkenalkan kearifan budaya lokal.

Selain hadir langsung memberi dukungan kepada peserta LIDA asal daerahnya, Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar (ABM) juga mempromosikan kekhasan karya seni budaya Sulawesi Barat, salah satunya Lippa’ Sabbe’, Sambu’ Bembe (Mamasa), dan Sekomandi (Kalumpang, Mamuju).

Kuliner khas daerah seperti penja (ikan seribu), sambusak, baupiapi, dan segala rupa lainnya dikenalkan dan bahkan dicicipi bersama oleh Gubernur ABM dan kru televisi indosiar.

Lippa’ Sabbe misalnya, kerap dipakai pada hajatan upacara Adat, pernikahan, bahkan acara penting lainnya seperti upacara memperingati hari ulang tahun kabupaten dan provinsi.

Ada banyak corak dan jenis kain produksi lokal di provinsi yang berslogan Malaqbi’ ini, yang merupakan buah tangan dari para perajin tradisional. Salah satu diantaranya adalah kain Lippa Sabbe’ atau lebih populer dikenal dengan sebutan kain Sutera Mandar.

Produk lokal yang sangat diminati orang ini berasal dari Kabupaten Polewali Mandar—di Kabupaten Majene juga ada.

Selain itu, ada kain tenun Sekomandi asal Kecamatan Kalumpangi Kabupaten Mamuju, dan kain Sambu’ Bembe—produksi tangan-tangan terampil dari Kabupaten Mamasa.

Jutaan pasang mata di seluruh Indonesia yang sempat menonton siaran langsung atau live acara LIDA pada Minggu malam, 25 Februari 2018, menyaksikan betapa Ali Baal yang mantan Bupati Polewali Mandar dua periode itu, ikut langsung membagi-bagikan kain Lippa Sabbe’. Momentum gratis ini tentunya sekalian ajang promosi potensi seni budaya daerah Sulawesi Barat.

Memang, saat ini diketahui ABM begitu gencar memperkenalkan dan mempromosikan kain Sutera Mandar.

Lippa’ Sabbe maupun Sekomandi, dan Sambu’ Bembe, serta produk lokal lainnya menjadi cinderamata bagi masyarakat atau pun tamu yang berkunjung di provinsi yang meliputi enam kabupaten ini.

Tidak sedikit turis mancanegara dan turis domestik berusaha mencari souvenir khas daerah ini sebagai ole-ole yang biasa dibawa pulang ke kampung halaman atau negaranya.

Terkait pengembangan kepariwisataan di Sulawesi Barat kini, upaya ABM sebagai orang nomor satu di provinsi ini pun menuai dukungan positif dari jajarannya maupun masyarakat.

Yakub F. Solon, Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Barat kepada Ishaka M.Toib dari Majalah TIPO—group transtipo.com—menuturkan bahwa kehadiran Gubernur ABM di ajang LIDA yang memperkenalkan dan mempromosikan Lippa’ Sabbe adalah untuk mengangkat nama daerah melalui budaya.

“Apa yang dilakukan pak Gubernur harus didukung. Daerah, di mana-mana menggali dan mengangkat budaya sebagai salah satu ikon. Karena, di berbagai daerah, kekuatan kita bukan saja bertumpu pada potensi sumber daya alam seperti minyak dan sebagainya. Tetapi, kekuatan kita ada pada kearifan lokal dan budaya,” kata Yakub, doktor bidang sumber daya manusia yang lulus dengan predikat cumelaude.

Budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tentunya berbeda-beda. Budaya kita yang ada di Provinsi Sulbar ini tentu tidak ada ditemukan di daerah lain.

“Saya menilai bahwa pikiran pak Gubernur sangat tepat untuk mengangkat budaya yang ada. Termasuk mendorong kemajuan kepariwisataan melalui ajang festival budaya,” tambah mantan Kepala Biro Hukum Setprov Sulawesi Barat ini.

Keanekaragaman budaya di provinsi ini berbanding lurus dengan sejumlah objek wisata yang tersebar di kabupaten yang ada. Sebut saja, misalnya, objek wisata yang tersebar di beberapa kecamatan di Mamasa, kabupaten yang menjadi daerah destinasi pariwisata Sulawesi Barat.

Menariknya, Mamasa memiliki keragaman dan keunikan budaya dan objek pariwisata.

Ismail Zainuddin (IZ), yang kini menjadi Sekprov Sulawesi Barat, ketika masih Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Sulawesi Barat mengirim 25 wartawan ke Mamasa, termasuk Penulis yang kini bergabung di Majalah TIPO.

Salah satu agenda itu—dalam kunjungan selama dua hari—mengunjungi sejumlah objek wisata budaya dan alam di Mamasa.

Di tengah urun rembug sebagai satu rangkaian pelepasan kala itu, Ismail menjelaskan soal keunikan budaya dan objek wisata di Mamasa.

“Apa yang ada di Mamasa belum tentu ada di Toraja, tetapi sebaliknya, apa yang ada di Toraja dipastikan ada di Mamasa,” Ismail menutup dengan menegaskan sebuah promosi.

ISHAKA M. TOIB

TINGGALKAN KOMENTAR