Tomi Lebang, warga Sulawesi Barat, kini menetap di DKI Jakarta. (Foto: Net.)

LEONARDO da Vinci, orang pintar dari Eropa itu mungkin manusia terakhir yang begitu memahami rupa-rupa pengetahuan, yang tak terpikirkan orang-orang di zamannya, dan tetap mengagumkan orang-orang sesudahnya.

Pada setiap keping kelabu di benak Leonardo, cabang-cabang ilmu seperti menempatkan akarnya.

Ia menggambar dan menulis tentang pesawat terbang, mesin tenun, senjata pelontar peluru, peralatan selam, cermin suryakanta, anatomi tubuh manusia, dan lain-lain. Semuanya menjadi rujukan ilmu pengetahuan di zaman sesudahnya.

Lima abad sejak kepergian Leonardo, dunia masih terpikat senyum Monalisa di Louvre, Paris, masih terhanyutkan suasana Perjamuan Terakhir di dinding gereja di Milan, bahkan masih terbawa ketegangan cerita the Da Vinci Code yang menjadikan lukisan the Vitruvian Man sebagai pembuka kisah—lukisan yang sebenarnya imaji Leonardo tentang proporsi tubuh manusia.

Leonardo yang hidup pada masa setengah millenium silam, adalah orang pintar hampir di segala ilmu, yang pemikirannya mengarungi beratus-ratus tahun pengetahuan. Pengertiannya tentang masa depan melayari berabad-abad peradaban manusia.

Sepandai itu, ia masih menyebut dirinya sebagai “omo sanza lettere”, lelaki tanpa pengetahuan.

Begitulah.

Ilmu berkembang. Dulu cuma ada tabib-tabib dan dokter-dokter. Lalu ada dokter spesialis, dan kini bahkan sub-sub spesialis.

Buku The Da Vinci Code: Dan Brown, Serambi, Oktober 2005/Cetakan ke-XVII. (Foto: Sarman Shd)

Dulu cuma ada ahli teknik yang membangun dan mengurus mesin perang dan peralatan militer, lalu bercabang jadi teknik sipil untuk kemaslahatan masyarakat biasa.

Ilmu teknik memecah lagi menjadi teknik mesin, elektro dan arsitektur, kemudian muncul pula arsitektur bangunan, jalan raya, perkapalan…. dan sebagainya, dan seterusnya.

Kian ke belakang, pengetahuan semakin dalam, semakin rinci dan semakin membuat penasaran.

Pada setiap pintu misteri alam yang terbuka, ada pintu-pintu lain yang menanti pengerahan akal budi manusia.

Saya, dan kita semua hanya butuh berendah hati: di keluasan semesta raya, belum setitik cahaya dari sang Pencipta yang terlihat dan dipahami.

Zaman berganti-ganti, pengetahuan bertambah-tambah, tapi ketidak-tahuan masih luas bersamudera-samudera.

Jauhi keangkuhan, jangan pernah merasa pandai sendiri. Belum juga setitik ilmu, dan engkau sudah seolah tahu segala rupa.

Selamat pagi kawan-kawan yang rendah hati.

untuk diri sendiri

Jakarta, 30 Januari 2016

Sumber: facebook Tomi Lebang

TINGGALKAN KOMENTAR