Abdul Waris Bestari. (Foto: Arisman)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tim penetapan harga tandan buah segar (TBS) kembali menggelar rapat terkait penentuan indeks K dan tandan buah segar (TBS).

Rapat ini berlangsung di ruang rapat Bidang Produksi Perkebunan Dinas Pertanian Pemprov Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa, 4 Desember 2018.

Pada rapat penetapan ini dipimpin oleh wakil ketua tim TBS Sulbar Abdul Waris Bestari yang didampingi sekretaris tim Kimoto Boda. Tampak hadir dari perwakilan setiap perusahan sawit serta petani sawit se-Sulbar.

Rapat berlangsung pada pukul 09.30 hingga pukul 11.40 WITA dengan menghasilkan keputusan, yakni harga indeks K ditetapkan sebesar 71.00 persen dan harga TBS umur 10 s.d. 20 tahun sebesar Rp. 776.45.

Dari pantauwan kru laman ini, selama mengikuti petetapan, harga TBS memasuki akhir tahun atau sudah 6 bulan terakhir ini, harga TBS tak kunjung membaik dalam hal ini selalu mengalami penurunan.

Seusai rapat, Abdul Waris Bestari menjelaskan, harga TBS untuk umur 10 s.d. 20 ditetapkan sebesar Rp. 776.45, dimana bila dibandingkan dengan harga yang ditetapkan bulan lalu, bulan ini kembali mengalami penurunan drastis dengan penurunan sebesar Rp 1,98.

“Harga tandan buah segar kali ini sangat mengecewakan dimana sudah memasuki 6 bulan terakhir, harga TBS kita selalu mengalami penurunan,” kata Abdul Waris.

Menurutnya, memang CPO kali ini melimpah, dimana tangki-tangki yang ada di perusahaan penuh namun lagi-lagi pembelian CPO sangat kurang, sehingga inilah yang menyebabkan harga TBS mengalami penurunan drastis.

Waris menambahkan, jika saat ini negeri China yang merupakan pembeli terbesar CPO kita rupanya sudah tidak membeli lagi, ditambah pula India yang sudah membatasi pembeliannya dikarenakan adanya kampanye hitam yang dilakukan salah satu LSM yang mengatakan jika CPO Indonesia dapat merusak lingkungan.

“Inilah yang menyebabkan harga TBS kita tidak kunjung membaik, selain membelian CPO dunia yang mengalami penurunan, disebabkan juga karena kampanye hitam,” terang Abdul Waris Bestari.

Ia berharap, dengan keadaan ini para perusahaan tidak penutup perusahannya atau menyetop pengelolaan TBS, dimana diketahui ratusan bahkan ribuan masyarajat  kita yang menggantungkan hidupnya di kebun kepala sawit.

“Kita berharap di tahun berikutnya harga TBS kita sudah membaik dan ada perubahan. Tahun depan, insyaAllah di Januari, kita sudah punya standar harga tersendiri dalam penentuan dan penetapan harga TBS,” tutup Abdul Waris Bestari.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR