DR. Yundini Husni Djamaluddin (kedua kiri) bersama Shaifuddin Kadir (Penulis/kanan) di rumah kediaman H. Zikir Sewai (sedang terbaring karena sakit), Makassar, Sulsel, 18 September 2017. (Foto: Ist.)

Catatan: Shaifuddin Kadir

SENIN pagi 18 September, pukul 10.15 wita. Saya menjadi saksi sebuah suasana haru, pertemuan DR. Yundini Husni Djamaluddin dengan HM Zikir Sewai—salah seorang pejuang pembentukan Sulbar.

Pertemuan ini berlangsung di kediaman HM Zikir, di Kompleks Perumahan Griya Fajar Mas, Makassar, Sulsel.

Yundini, akrab disapa Yuyun, dipersilahkan langsung masuk ke kamar,  di mana tempat H. Zikir terbaring sakit.

Zikir langsung menerawang dan berkisah pada beberapa penggal peristiwa, tetang situasi tatkala akan terbentuk Provinsi Sulbar. Sesekali—dalam kisah beliau itu—menukik pada episode yang cukup rawan.

Suatu hari, Husni Djamaluddin—ayahanda Yundini—datang menemui H. Zikir. Dengan nada masygul, Husni bilang pada Haji Zikir bahwa akan ada kunjungan tim dari Jakarta, terdiri dari sejumlah Anggota DPR RI.

Masalahnya, kelompok pejuang sedang kekurangan dana. Untuk menjemput tim yang datang dari Jakarta itu jelas butuh yang tidak kecil.

Inggaqta na masiriq puayi (rupanya kita akan tertimpa malu pak haji, pen),” kata Husni Djamaluddin kepada H. Zikir, ketika itu.

Dalam beberapa helaan nafas, H. Zikir berucap, “Muwaq namasiriq mi tau, andiang mi tuu tau namasiriq (jika tiba saatnya kita akan malu, maka kita tidak akan malu, pen),” jawab H. Zikir kepada Husni.

Ketika itu, H. Zikir sedang membenahi setumpuk sertifikat (bangunan dan tanah). Dan, sejurus degan itu, dia bilang kepada Husni, “Nadziapai immai sertifikaq e,  muwaq andiangi mala dipassamboang siriq (apa gunanya ada tumpukan sertifikat ini, jika tak bisa dipakai mengatasi masalah krusial kita, pen).”

Tak disebutkan tahunnya tentang rencana kedatangan tim dari DPR RI itu. Tapi di kesempatan lain, H. Zikir memberi info kepada Penulis. Kedatangan wakil rakyat dari Senayan adalah bagian hasil lobi Syahrir Hamdani.

Zikir pun punya apresiasi khusus pada sosok Syahrir Handani. “Berbulan-bulan Syahrir tinggalkan anak dan istrinya demi melobi di Senayan,” kenang H. Zikir Sewai yang diutarakan pada saya.

Penulis yang menemani DR. Yundini ketika membesuk H. Zikir, membuncah rasa haru, pula sedih nian. Meski ketika perjuangan berlangsung, Penulis sama sekali tak punya kontribusi setetes peluh pun.

Yuyun mengatakan, kedatangannya menemui H. Zikir terpetiklah tiga hal:

Pertama, untuk mengenang dan menghargai sejarah.

Kedua, kunjungan seorang anak bersilaturahmi kepada orangtuanya.

Ketiga, untuk berterimakasih kepada para pejuang pembentukan Sulbar. Sebab hasil perjuangan beliau-beliau itulah diperingati—termasuk tahun ini—dengan penuh takzim.

Selamat kepada pejuang, dan selamat kepada rakyat yang menikmati perjuangan.

Bravo Sulawesi Barat.

Makassar, 19 September 2017

TINGGALKAN KOMENTAR