Wakil ketua tim penetapan harta TBS Sulbar Abdul Waris Bestari (kiri) sedang memimpin rapat penentuan harga TBS yang baru di Aula Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Sulbar, Senin, 12 Juni 2017. (Foto: Risman Saputra)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tim penetapan harga tandan buah segar (TBS) kembali menggelar rapat terkait penentuan indeks K dan tandan buah segar (TBS). Rapat ini berlangsung di ruang rapat Didang Produksi Perkebunan Dinas Pertanian Pemprov Sulbar, Senin, 12 Juni 2017.

Rapat penetapan kali ini dipimpin oleh wakil ketua tim penetapan harga tandan buah segar, Abdul Waris Bestari, didampingi oleh sekertaris tim, Kimoto Boda, dan dihadiri perwakilan setiap perusahan sawit serta petani sawit se-Sulbar.

Rapat yang dimulai pada jam 3 sore hingga jam 5.30 petang menghasilkan keputusan, yakni harga indeks K ditetapkan sebesar 80% dengan harga tandang buah segar sebesar Rp. 1,258,83.

Seusai rapat Abdul Waris Bestari menjelaskan, kami selaku tim menetapkan harga tandan buah segar sesauai dengan kesepakatan bersama sebesar Rp. 1,258,83. Menurut Waris, jika dibandingkan dengan harga yang ditetapkan bulan lalu, maka bulan ini mengalami kenaikan sebesar Rp. 9,00 lebih.

“Bulan ini harga tandan buah segar mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu sebesar Rp. 1,258,00,” kata Abdul Waris.

Masih menurut Abdul Waris, terkait masalah dokumen, dari 6 perusahaan ada 2 perusahaan yang memperlihatkan dokumen, yaitu PT. Unggul dan PT. Triniti.

Namun, katanya, kami sudah meminta penjelasan kepada perusahaan lain. Oleh pihak PT. Astra misalnya, mereka menawarkan bagaimana sekiranya agar tim sekali 3 bulan diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan pihak manajemen mereka (baca: perusahaan pusat) untuk memnita memperlihatkan kontrak penjualan atau dokumen penjualan.

Mendengar hal itu, respon pihak tim penetapan harga atau oleh Abdul Waris menyambut baik usulan PT Astra itu.

“Kami dari tim akan membicarakan hal ini jangan sampai ada yang menanggapi secara negatif bila kami melakuan pertemuan dengan pihak perusahaan. Apalagi ini akan bertemu di luar Sulawesi. Itu yang kita takutkan,” jelas Abdul Waris.

Alasan yang dikemukakan oleh Abdul Waris masuk akal. Ia ungkapkan, “Masalah petemuan itu kami akan bicarakan bersama tim, karena kami kuatir ada pihak tertentu beranggapan kalau kami ada permainan dengan pihak perusahaan.”

Untuk itu, pinta Waris, segala sesuatunya harus dibicarakan. “Kami mesti serba hati-hati dalam melakukan sesuatu,” kunci Abdul Waris Bestari.

RISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR