Ali Baal Masdar dan Golkar tak akan pernah berseberangan secara 'prinsip'. Berbeda dalam mempersepsi satu momentum politik, di Pilgub ini misalnya, adalah hal yang lumrah. Perspektif inilah yang tergambar dari gambar di depan Anda. (Foto: Zulkifli)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Memang tak bisa disangkali bahwa ‘akar’ Partai Golkar di Sulbar ini masih belum bisa ‘dipisahkan’ dengan keluarga Ali Baal Masdar. Salah seorang sesepuh Golkar di provinsi ini, yakni HM Masdar Pasmar (alm.), tak akan pernah terhapus dalam catatan sejarah partai ini, bahwa dia, hampir separuh hidupnya diabdikan pada partai yang berlambang pohon beringin.

Sebutlah di Polewali Mandar (Polman). Daerah ini, sebelum Mamasa memekarkan diri, masih bernama Polewali Mamasa (Polmas). Di Polmas sejak dulu selalu menempatkan Golkar sebagai pemenang, untuk tidak menyebut ‘penguasa politik’.

Pasca 2002, atau sejak berganti nama menjadi Polewali Mandar (Polman), Golkar masih selalu memenangi kontestasi politik, khususnya Pilbub dan Pilgub. Kemenangan Golkar itu sangat dipengaruhi oleh peran tokoh-tokoh Golkar.

Kini, atau pada Pilgub Sulbar kali ini, Partai Golkar mengusung dua figur yang bisa dibilang ‘bukan kader utama’ Golkar di Sulbar. Memilih Salim Mengga sebagai calon gubernur, dan memasangkan calon wakil gubernur Hasanuddin Mas’ud—lelaki Majene yang pengusaha sukses di Kalimantan Timur—adalah ujian serius bagi Golkar Sulbar, pula di Polman.

Kali ini mampukah Golkar merengkuh kemenangan tanpa Andi Ibrahim Masdar (AIM)? Sebab umum diketahui, beberapa waktu lalu AIM mengundurkan diri secara resmi sebagai Ketua DPD Golkar Polman, dan kemudian diikuti oleh sejumlah pengurus Golkar lainnya.

Pertanyaan berikutnya, mampukah Golkar mempertahankan kemenangan di Pilgub Sulbar 2017 setelah partai ini mendepak AAS dari posisinya ketua? Dua pertanyaan inilah yang akan jadi taruhan serius partai ini ke depan.

Tapi apapun semua itu, kader Golkar yang hadir di d’Maleo Hotel kemarin siang, Selasa sore, 25 Oktober 2016, toh tetap beri simpati—dan mungkin pula empati—kepada pribadi Ali Baal Masdar (ABM).

Jika ABM di kubu yang kain, lalu Golkar di kubu yang berseberangan misalnya, keakraban yang tampak pada gambar di atas, telah menjelaskan satu hal: berbeda itu boleh, tapi visi tetap sama.

SARMAN SHD

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR