Sekjen PWI Pusat Hendry Ch Bangun (kiri), juga Anggota Dewan Pers, sedang beri sambutan yang sekaligus membuka Pelatihan Safari Jurnalistik di Ruang Camar d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Senin pagi, 13 November 2017. (Foto: Arisman Saputra)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Memang, sesekali satu persatu dari 40 orang peserta—meski tak seluruhnya—terkadang keluar ruangan karena dua hal: tunaikan ibadah wajib, lohor dan ashar bagi yang Muslim, dan ke toilet buang air kecil.

Dalam sebuah perhelatan serius yang hampir sehari, maka sudah barang tentu melalui dua waktu Ibadah, ya lohor di tengah siang dan ashar di kala sore. Di ruang sejuk perpendingin itu, air mineral menjadi penyegar basahi kerongkongan—terutama bagi peserta.

Pemateri tampak tetap segar dan seolah ‘lupa’ haus dan dahaga sebab aliran ilmu tercurah yang diperjelas mendengung oleh alat mikrofon dalam ruangan Camar itu. Sesekali pula ia menyeduh air mineral yang telah disiapkan.

Pada Senin di pagi-pagi buta, 13 November 2017, sembilan orang tetamu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat (Sulbar) telah melewati rasa penat dari goncangan kecil ketika melintas di udara, esok siangnya, Minggu 12 November.

Sebuah ‘burung besi’ yang berangkat dari Bandara Internasional Cengkareng, Banten, lalu transit sejenak di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel. Dan, di Minggu siang kemarin itu pula, kesembilan rombongan ini telah berbijak di Tampak Padang, Mamuju, tempat bandara pertama Provinsi Sulbar ini.

Dari sore Minggu dan melewati waktu malam, maka Senin pagi adalah saat tepat meregangkan sisa sekat otot kecil dengan berjalan-jalan kecil di sepanjang bibir jalan Yos Sudarso, Mamuju, sembari menengok desiran ombak kecil di bibir pantai Manakarra, Mamuju.

Jika belum pulih dan segar benar, maka siraman air hangat di kamar mandi d’Maleo Hotel & Convention Mamuju—tempat sembilan rombongan itu menginap—telah menjadi pelengkap sebelum sarapan pagi dimulai, di Senin ini.

Dari raut wajah sembilan tetamu ‘istimewa itu, tampak benar jika Pelatihan Safari Jurnalistik akan berlangsung seru sedap dan menarik lantaran Pemateri tampak benar siap—dari style dan ‘aura’ yang membuncah dari mereka, khususnya yang akan dapat giliran beri paparan dan ajaran dalam safari kali ini.

Sesaat sebelum seremoni pembukaan dimulai, Senin pagi kota Mamuju diguyur hujan. Meski agak lebat turunnya tapi tak berlangsung lama. Selang sejam lebih kemudian, Mamuju kembali cerah ceria, dan pendidikan wartawan seru-serunya di ruang sejuk. Semangat pagi hingga petang tampak tetap sama.

Sembilan tetamu itu adalah dari dua ‘dua pihak: Dewan Pers dan PWI Pusat. Di antara 9 tetamu itu, ada Henry Chairudin Bangun, Anggota Dewan Pers, dan di PWI Pusat sudah dikenal luas di Indonesia sebab ia sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Pusat.

Ada Imam Wahyudi, Anggota Dewan Pers, mantan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat (2005-2012), dan kini Anggota Dewan Pertimbangan IJTI.

Marah Sakti Siregar. Ia Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat. Pendidikan safari wartawan di Mamuju ini adalah domain bidang yang dikepalai oleh Marah Sakti Siregar. Karena itu, setelah dibuka oleh Hendry Chairudin Bangun—lebih akrab dengan tulisan nama Hendry Ch Bangun—pada Senin pagi itu yang mewakili Ketua Umum PWI Pusat H. Margiono, maka pada petang atau jelang malam tiba, kegiatan ini ditutup oleh Marah Sakti Siregar, juga atas nama Ketua Umum PWI Pusat.

Sekjen PWI Pusat Hendry Ch Bangun, juga Anggota Dewan Pers, sedang sampaikan materi dalam Pelatihan Safari Jurnalistik di Ruang Camar d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Senin pagi, 13 November 2017. Safari kali ini diikuti oleh 40 orang peserta dari wakil pelbagai media di Sulbar. (Foto: Arisman Saputra)

Yang penting pula dicatat adalah kehadiran Lumongga Sihombing (49 tahun), Sekretaris Dewan Pers.

“Saya pertama kali datang di Mamuju pada 1990. Kami lewat darat. Dari Makassar, lalu singgah di sebuah kabupaten di Sulsel, lalu terus ke Mamuju. Saya ingat nama Majene,” sepotong cerita Lumongga di atas kendaraan roda empat saat perjalanan dari Bandara Tampak Padang menuju kota Mamuju, Minggu siang, 12 November.

Tak lengkap jika tak menyebut nama Ibu Taty, Kepala Sekretariat Kantor PWI Pusat. Perempuan berpostur tak tinggi yang berhijab ini, jika pada bulan pertama 2018 nanti, ia sudah genap berusia 70 tahun. Sudah sekian puluh tahun mengabdi di PWI pusat.

Jelang Minggu sore, di bawah sebuah ‘bangau’ beratap daun rumbia yang tak jauh dari hotel tempatnya meneduhkan penat dan rasa capai, ia mengisahkan sedikit—dari ‘tak terhitung’ waktu dan tempat—kiprah perjalanannya bersama PWI.

“Pada suatu waktu, pak Rosihan Anwar—salah seorang tokoh Pers Indonesia lintas masa—tandang ke rumah kami. Beliau, heran melihat bapak saya yang sudah berumur 82 tahun tapi dengan rambutnya yang masih hitam. Bapak saya memang tak beruban,” kisah pendek Ibu Taty kepada kru laman ini di teras d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, beberapa jam kemudian setibanya di Mamuju.

Pemuda Wawan juga tak boleh dilupa. Ia adalah salah seorang staf sekretariat di Dewan Pers. Setibanya di Mamuju, ia begitu sibuk. Selain ‘menginspeksi’ segala urusan untuk kegiatan safari jurnalistik tersebut, pula mulai mendata dan persiapan verifikasi faktual perusahaan media di Mamuju—yang untuk kali ini telah dikunjungi Kantor Harian Sulbar Express dan Harian Radar Sulbar.

Simak berita berikutnya terkait Pelatihan Safari Jurnalistik oleh Dewan Pers bersama PWI Pusat di Mamuju, Sulbar.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR