Syamsul Samad, Anggota DPRD Sulawesi Barat. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Partai Demokrat di Sulbar adalah salah satu partai seksi, yang banyak diperbincangkan publik—terutama pasca pemilihan legislatif (Pileg) 2014 lalu. Pasalnya, partai ini memenangkan Pileg, dan menguasai parlemen Sulbar dengan 10 kursi plus ketua parlemen.

Keseksian partai ini berikutnya adalah telah bulatnya pimpinan partai ini, Suhardi Duka—biasa disapa SDK—untuk maju jadi bakal calon Gubernur Sulawesi Barat pada Pilgub Sulbar 2017. Ia menggandeng Kalma Katta, mantan Bupati Majene dua periode, untuk jadi wakilnya. Jadilah SDK – Kalma identitas pasangan ini.

Syamsul Samad, Plt. Ketua DPRD Sulbar pada Selasa siang, 6 September 2016, di ruang kerjanya, menyambung telepon dari seseorang yang disaksikan oleh laman transtipo.com.

“Intinya begini, kami ini memenangkan Pileg 2014. Empat bupati di Sulbar dari Partai Demokrat. Termasuk yang bapak sebut tadi (lawan bicara Syamsul, red), dia juga dari Demokrat. Jadi, kami enjoy dalam pertarungan ini,” kata Syamsul Samad menjelaskan kepada lawan bicaranya itu.

Tapi kondisi lain sedikit agak berubah di Kabupaten Mamasa. Memang, Ramlan Badawi sebagai ketua partai ini di sana. Dari penelusuran transtipo.com beberapa hari di Mamasa, sudah ada beberapa kader Demokrat yang mulai ragu dengan masuknya Enny Anggraeny Anwar ke gelanggang.

“Jujur bos, jika ibu (Enny, red) jadi wakilnya ABM, wah kami di Mamasa akan berat. Pengaruh pak Anwar masih kuat sekali di sini. Di Mamuju juga begitu. Tapi kalau dibilang Demokrat Retak, saya kita tidak juga bos,” kata salah seorang kader Demokrat tanpa mau disebut identitasnya kepada laman ini, Jumat malam lalu di Mamasa.

ZULKIFLI/ANDI ARWIN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR