Haji Damris ketika sedang berada di salah sebuah kandang kuda. (Foto: FB Damris Aralle)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Manfaat grup WhatsApp (WA), salah satunya, adalah saling bertukar informasi sesama penghuni grup, bersenda gurau, dan menguji keberanian membangun “polemik” yang berguna.

Salah satu grup WA tempat saya bergabung adalah grup KKB-PUS. Penghuni grup ini umumnya keluarga PUS atau yang berasal dari PUS yang kini tersebar di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Memang, tak semua keluarga PUS bergabung di grup ini. Jika pun bergabung, dalam perjalanannya tak sedikit yang keluar dan atau masuk bergabung kembali. Hal seperti itu biasa di masa perkembangan IT dan digital yang kian tak terbendung.

Saya, dan kami yang aktif di media sosial (medsos) dan media online berbasis portal media siber atau daring, sungguh terbantu dengan fasilitas percakapan aplikasi WA tersebut.

Kami pegiat media siber itu bisa dengan begitu gampang memungut informasi yang mengalir tiada henti di WA. Meski begitu, informasi apa pun yang dihasilkan oleh grup-grup WA, ketika bahan yang informatif itu akan dijadikan berita resmi dalam media siber, maka seyogyanya tetap mematuhi ketentuan media siber di Indonesia. Salah satu ketentuan yang dimaksud adalah verifikasi, dan pada ujungnya berita tersebut tidak melanggar ketentuan di Jurnalistik. Sebab apa pun itu yang diberitakan di media siber tertentu, ia tergolong karya Jurnalistik.

Di grup WA PUS itu, saya menemukan nama Damris—yang oleh warga PUS di Mamuju lebih mengenalnya dengan sebutan Haji Damris. Nama Haji begitu lekat pada lelaki 50 tahun ini.

Saya masih kecil di kampung Sendana, Mambi, saat kali pertama lihat sosok Damris. Orangnya tinggi kurus—jangkung. Saat itu, ya, 20-an tahun silam. Sebelum 2010—sejak saya mulai bermukim di Mamuju—sesekali saya bertemu Damris. Dari cerita keluarga dan amatan saya, mulai tahu bahwa Damris dan kekayaannya yang tersisa—yang dibangun bersama istrinya tentunya—adalah sumber dasar ia dan istrinya kerap menderma kepada tak sedikit orang di Mamuju ini. Termasuk di kampungnya, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa.

Ketika saya melempar sejumlah anekdot dalam bentuk pertanyaan di grup WA KKB PUS itu, beberapa hari yang lalu, Damris menyambutnya dengan beri penjelasan. Awalnya tak ada niat untuk menulis terkait dirinya, tapi kadung saya telah berjanji di grup itu akan buat tulisan ringan di halaman transtipo.

Sebetulnya, sahutan saya mengenai “naiknya harga cabe di Mamuju” yang disarikan media online Lensa Sulawesi (LS), media milik Naim Samad, untuk menyemangati kru media ini menulis pula terkait kopi, ya, terkait Damris itu. Makanya, saya kemudian menyinggung soal kopi atau geliat Damris akhir-akhir ini tentang pengembangan tanaman kopi di Kabupaten Mamuju dan—akunya—di Kabupaten Majene.

Sejumlah pertanyaan saya lepas saja begitu santai di grup itu. Tau-taunya Damris sambut dengan jawaban yang serius.

“Pada saat selesai pemilihan umum 2019, saya langsung kembali bertani, tanam bibit kopi. Setelah itu saya mengajak masyarakat (keluarga), bagi yang mau. Kita tak bisa mengajak kalau tidak pernah jadi pelaku dan penikmat (kopi maksudnya, red),” tulis Haji Damris dalam grup itu.

Ia lanjutkan, “Artinya, saya pernah jadi petani kopi, pernah jadi pedagang kopi, dan peminum kopi pada saat saya masih di kampung halaman (Aralle).”

Buah kopi yang padat. (Foto: FB Damris Aralle)

Saat ini di Mamuju, Damris akui telah menanam bibit kopi di kebunnya. “Jumlah pohon kopi yang saya sudah tanam belum banyak, tapi sudah ada.” Berapa luas kebun kopi miliknya? “Tidak luas tapi ada,” aku Damris, merendah.

Tujuan Damris pamer tanam kopi tak meluluh untuk dirinya. Iya, mungkin ini benar. Jika ditelisik dari keadaannya saat ini, Damris kurang apalagi. Kalau untuk sekadar ingin menikmati aroma kopi, tidaklah seberapa jumlah warung kopi yang ada di Mamuju untuk ia kunjungi setiap malam, jika ia mau.

Geliatnya tanam kopi tersirat spirit untuk yang lain, bagi sejumlah kelompok tani di Mamuju. Seperti apa yang ia tulis, “Kelompok tani sudah mulai terbentuk mulai dari Desa Pamulukan, Rangas, sampai Tammasapi (Mamuju). Berkas pembentukan kelompok tani sudah ada di Kantor Kehutanan Provinsi Sulbar, karena kami membentuk kelompok lewat Kementerian Kehutanan, sekaligus kami mengurus izin penguasaan lahan untuk petani.”

Hanya Damris masih sungkan sebut berapa jumlah uang yang telah ia gelontorkan terkait upayanya tanam kopi sampai segala tetek-bengeknya dalam hal urus bantu petani kopi serta pengadaan dan izin lahan yang ia maksud itu. “Belum ada modal yang habis tapi sudah ada sedikit biaya beli bibit kopi.”

Ia tak mau bungkus idealismenya terkait kopi ini. Di ujung penjelasannya, ia sebut, “Program ini saya jalankan karena semata untuk membantu petani. Hanya dengan konsep (program, red) inilah yang bisa saya bantukan ke petani demi masa depannya. Dan, Alhamdulillah, sebagian masyarakat (keluarga) merespon baik.”

Kopi dan politik adalah aktifitas hari-hari yang menjadi pilihan baru bagi Damris. Kayu meranti, selamat tinggal—dan itu sudah lama. Banyak cerita tentang bisnis kayu bagi Damris.

“Nyawanya kerap ia pertaruhkan selama di dunia hitam itu,” kata seorang sumber pada saya, beberapa tahun silam.

Haji Damris kini dalam hari-harinya yang menyenangkan. Pada Pemilu 2019 lalu, satu kursi ia rebut dari Partai Golkar dengan mendudukkannya di DPRD Provinsi Sulbar untuk periode 2019-2024.

Tinggal menghitung hari, jabatan Damris bertambah: sebagai anggota parlemen provinsi, dan entah pada posisi apa di dewan nantinya.

Tiga pekan lalu, saya tak sengaja mendapatinya di sebuah warung kopi yang tak jauh dari Masjid Suada, Mamuju. Kopi hangat yang kami seruput pada sebuah meja kecil—untuk beberapa orang—ia bayar lebih dulu.

Lalu, saat berkumandang Iqomah untuk segera masuk Sholat Jamaah Jumat saat itu, kami bergegas tinggalkan warung kopi dan jalan berdua menuju Masjid. Setelah berpendar, dua pekan lebih kemudian, kami jumpa lagi di grup WA PUS itu. Jadilah tulisan pendek ini.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR