CITRA DIRI PEMIMPIN YANG BERKARAKTER

376

Oleh: Jumail
Widyaiswara Badan Diklat Sulbar

CITRA diri (Self Image) memengaruhi perilaku dan cara seseorang bertindak. Citra diri yang atas kesadaran mengenai dirinya yang sejati akan melahirkan citra diri positif yang berdampak pada diri seorang pemimpin yang berkarakter dalam melayani.

Setiap orang sudah lahir dengan memiliki potensi diri dan nilai-nilai yang positif dalam dirinya. Pemimpin yang berkarakter dapat lahir dari pribadi-pribadi yang menghidupi jati dirinya yang sejati.

Citra diri itu ditentukan oleh bagaimana seseorang memandang dirinya (konsep diri). Konsep diri dapat dibedakan menjadi dua, yakni:

(a) Konsep diri ideal adalah bagaimana seseorang mempersepsikan dirinya, terutama tentang kemampuan dan sifat-sifatnya. Kita yakin bahwa kita mempunyai sifat atau kompetensi tertentu seperti yang kita cita-citakan, walaupun orang lain belum tentu melihat kita seperti itu.

(b) Konsep diri aktual adalah diri kita apa adanya yang sesungguhnya. Biasanya orang lain dapat melihat dengan jelas diri kita yang aktual ini, termasuk kelebihan dan kelemahan kita.

Keseluruhan pemahaman kita tentang diri kita itulah yang kita sebut konsep diri. Stuart & Sudeen (1998) mendefenisikan konsep diri sebagai “semua ide, pikiran, kepercayaan (belief) dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.”

“Musim semi tiba, rerumputan pun tumbuh sendiri; kedatangan pemimpin alamiah sejati menginspirasi kesukarelaan untuk bertindak.” Demikianlah Lao Tzu memberi iktibar.

Tak lama lagi perhelatan Pilkada serentak akan terselenggara. Setelah sekian lama jagat politik Indonesia mengalami musim kemarau harapan, kering rerumputan menanti kemunculan pemimpin (relatif) otentik yang dapat mengembalikan kesuburan akar rumput.

Dengan tumbuhnya harapan, gerak kesukarelaan bangkit tanpa menunggu komando dan janji imbalan. Simpul-simpul relawan  bergerak-serempak, mengatasi keterbatasan logistik dan jaringan institusi kepartaian. Indonesia pun disapu gelombang partisipasi politik rakyat yang masif, energetik, dan kreatif.

Betapapun kontestasi kepemimpinan berlangsung sengit, politik harapan mendamba kekuatan kesukarelaan dan kreativitas memiliki daya kendali tersendiri untuk tidak memasuki medan pertarungan yang dapat menghancurkan nilai-nilai kesukarelaan dan kreativitas itu sendiri. Maka, dengan segala ketegangannya, ajang pemilihan harus berlangsung aman dan damai.

Siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin nanti, yang dipertaruhkan bukanlah gengsi personal dan golongan, melainkan nasib seluruh rakyat Indonesia. Para kandidat pemimpin harus bersifat kesatria; yang menang tidak mentang-mentang, yang kalah tidak marah-marah.

Kemenangan sejati mestinya kemenangan seluruh rakyat, yang bisa diraih manakala pemimpin terpilih sanggup mengubah politik kecemasan menjadi politik harapan bagi seluruh rakyat.

Untuk mengubah kecemasan menjadi harapan, dibutuhkan sosok pemimpin yang berkarakter. Citra diri pemimpin terpilih harus sungguh-sungguh menjamin kebebasan sipil dan perbedaan dengan merealisasikan negara kekeluargaan yang dapat melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah.

Citra diri pemimpin terpilih juga harus sungguh-sungguh berusaha menciutkan kesenjangan sosial dan mengembangkan keadilan sosial dengan merealisasikan negara kesejahteraan.

Dalam mengarungi jalan terjal politik harapan itu, sikap optimistis harus terus dipelihara. Orang boleh kecewa terhadap pelaksanaan demokrasi, tetapi mesti bersabar untuk mempertahankan rezim demokratis. Berbeda dengan ledakan harapan, pemerintahan demokratis baru sering dihadapkan dengan aneka masalah dan kekecewaan.

Karena itu, betapapun legitimasi kinerja memainkan peranan penting bagi kelangsungan pemerintahan demokratis, yang lebih menentukan bukanlah kesanggupan mereka dalam menuntaskan masalah-masalah itu, melainkan cara pemimpin politik itu menanggapi ketidakmampuannya.

Suatu pemerintahan demokratis bisa bertahan jika mampu menggalang kerja sama lintas batas, bukan menyulut pertikaian, sambil mengupayakan secara bersama cara mengatasi permasalahan secara institusional.

Citra diri pemimpin yang berkarakter harus menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan menerobos batas-batas politik lama.

Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang dapat mendorong partisipasi dan tanggung jawab warga untuk bergotong royong merealisasikan kebajikan bersama.

Tabe’

MAMUJU, 20 NOVEMBER 2016

TINGGALKAN KOMENTAR