(Ki-Ka) Bupati Mamuju Almalik Papabari, Bupati Polman Ali Baal Masdar, Anggota DPR RI Anwar Adnan Saleh, Bupati Majene Muhammad Darwis, Bupati Matra Abdullah Rasyid, dan Bupati Mamasa HM Said Saggaf, Jakarta akhir 2003. Repro foto ini bersumber dari bingkai foto Almalik Pababari, beberapa tahun lalu. Para bupati di kawasan barat Sulawesi inilah yang ikut andil dalam perjuangan pembentukan Sulbar. Mereka bersama-sama para pejuang mendorong percepatan pembentukan provinsi ini. Dan, ABM didaulat sebagai “kepala suku” para bupati, tempo itu. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Akhir-akhir ini, perbincangan tentang kilas balik perjuangan pembentukan Sulbar kerap dibincang di pelbagai forum: di ruang-ruang yang resmi ataupun sekadar pelengkap obrolan di warkop-warkop setiap kota di Sulbar ini.

Memang, sudah sepatutnya warga Sulbar ini tak larut dalam kelupaan pada sejarah perjuangan itu. Sebab, jika saat ini, atau sejak Sulbar ini jadi sebuah provinsi, dengan segala indah, pesona, dan kesejahteraan yang diberikannya, maka sudah sepatutnya perjalanan sejarah perjuangan itu direnungkan kembali, ditelaah kembali, dan selayaknya disyukuri, tentunya.

Di jazirah Mandar besar ini—dari Paku (Polman) hingga Suremana (perbatasan Palu dengan Matra), atau dari ujung pesisir pantai Pitu Ba’bana Binana hingga di puncak gunung Pitu Ulunna Salu—warganya mesti berterima kasih kepada sekumpulan pejuang pembentukan Sulbar, di tempo hari.

Hari ini, mungkin sejumlah dari tokoh pejuang itu telah tiada, namun apa yang telah ditorehkannya perlu kita jaga baik-baik, dibangun sebaik mungkin, dan dimajukan sehebat mungkin untuk kepentingan anak generasi saat ini, dan untuk anak cucu di masa-masa mendatang.

Sebelum tahun 2004, kawasan Mandar besar ini—yang kini di sebut Provinsi Sulawesi Barat—sungguh ironi dengan fakta dan kondisi kebangunannya: dalam arti yang luas. Kemiskinan begitu massif. Infrastruktur sangat terbelakang. SDM nyaris tak bisa diandalkan—dalam hal jumlah (meski secara person ada yang unggul di atas rata-rata nasional).

Hampir bisa dibilang untuk segala bidang di kawasan ini—dulunya, sebelum Sulbar terbentuk jadi provinsi—semuanya “jadi pelengkap penderita” dalam percaturan nasional.

Kini, atau 10 tahun terakhir ini, semua telah banyak berubah. Nyata. Secara kasat mata bisa dibuktikan. Bisa diuji secara ilmiah—dengan pendekatan yang jujur dan ‘laboratorium’ intelektualitas yang memadai.

Memori perjuangan itu terucap kembali di hotel berbintang tiga pertama—dan satunya-satunya di Sulbar ini, beberapa hari yang lalu. Penuturnya, Profesor Hamka Haq—seorang guru besar dalam suatu bidang ilmu agama Islam, yang sejak beberapa tahun lalu jadi pengurus inti DPP PDIP.

Kisah pendek Profesor Hamka itu jadi sumber tawa hadirin di Ballroom d’Maleo Hotel, Mamuju, Senin sore, 30 Januari. Kisah itu, tentang kiprah AAS dan ABM—termasuk sejumlah bupati di Mandar semasanya ketika itu—dalam perjuangan pembentukan Sulbar, terutama beberapa kejadian selama perjuangan bergulir di Jakarta.

Kisah Hamka, pernah sekali waktu rombongan pejuang dan para bupati di Mandar hendak bertemu dengan Presiden RI Ibu Megawati Soekarno Puteri. Para pejuang ini, untuk jajaran bupati ‘diketuai’ oleh pak Ali Baal Masdar (ABM), sedangkan untuk tokoh pejuang Sulbar dikomandoi oleh pak Anwar dan Rahmat Hasanuddin.

“Saat memasuki pekarangan rumah ibu Megawati, salah seorang Paspampres sempat menahan pak ABM. Beliau dikira anak kecil, padahal seorang bupati,” kata Hamka Haq sembari tertawa yang disambut tawa hadirin, termasuk ABM yang hadir dalam acara PDIP Sulbar itu.

Dari Syahril Hamdani, juga terurai sebuah cerita pendek tentang perjuangan Sulbar. Salah seorang tokoh pejuang Sulbar asli ini berbicara saat kampanye Paslon ABM-Enny di Kalukku, Selasa sore, 31 Januari.

“Dari 3 pasangan calon gubernur, hanya pasangan calon ini yang terlibat dalam sejarah pembentukan Sulbar. Yang lain tidak pernah terlibat. Karena itu, dukungan para pendiri Sulbar bermakna kami ingin melanjutkan tanggung jawab, bukan yang baru mau belajar bertanggungjawab,” katanya.

Menurut lelaki bersahaja dengan ciri khas kumis tipis dan kaca mata ini, hanya pasangan ini (maksudnya, ABM-Enny) yang didukung oleh mayoritas partai yang sedang berkuasa di Indonesia.

“Itu artinya, kalau pasangan ini menang maka segala visi misinya akan dengan mudah dilaksanakan,” urai tokoh yang dikenal ‘singa podium’ ini sejak di kampus dulu.

SARMAN SHD

2 KOMENTAR

  1. Sejarah terbentuknya sulbar memang tdk lepas dari peran pemerintah di lima kabupaten di bagian barat sulsel kala itu. Sulbar yg telah di perjuangkan sejak jaman revolusi hingga jaman reformasi mengalami pasang surut krn dinamika politik khususnya politik nasional. Peran para bupati bersama elemen2 pejuang (kapp sulbar, kkmm, dp3sb, para pemuda) mampu memanfaatkan dinamika2 politik di pusat yg berbuah positif bagi proses percepatan lahirnya prop. Sulbar. Ini tdk terlepas dr kemampuan baik secara personal maupun kolektif dari tokoh2 sulbar sebagai Negosiator atau tepatnya jika dlm konteks internasional adalah diplomat2 ulung…

TINGGALKAN KOMENTAR