Dialog film sebagai media penyebaran gagasan damai dilaksanakan oleh BNPT dan FKPT Sulbar dengan menghadirkan guru dan siswa se-Sulbar di d'Maleo Hotel & Convention Mamuju, Kamis, 6 Oktober 2016. Salah seorang Narasumber Suastika Mohara (tengah) yang didampngi oleh wartawan senior Ashari Rauf (kanan). (Foto: Risman Saputra)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Salah satu elemen sebagai ujung tombak suatu Negara adalah generasi mudanya. Bila generasi muda tak dibina dengan baik maka kemajuan Negara akan sulit digapai, terlebih lagi di era modern ini sangat dibutuhkan kecerdasan dan skill (keterampilan) untuk melakukan perubahan.

Hal inilah yang jadi acuan BNPT dan FKPT Sulbar adakan diolag bersama yang melibatkan guru dan siswa sederajat di Sulbar. Tema yang dipilih dalam dialog yang berlangsung di d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Kamis, 6 Oktober 2016, sangat berhubungan erat dengan perubahan zaman: kecanggihan akan teknologi yang berdampak positif dan negatif.

Dalam sebuah sesi dialog pada siang hingga sore tadi, salah seorang Narasumber mengenalkan sebuah film pendek kepada peserta. Suastika Mohara, adalah seorang Narasumber yang dimaksud, yang telah menyusun sebuah naskah film itu. Film yang berdurasi lima menit itulah yang dikreatori oleh Suastika Mohara.

Film menyiratkan tema: film sebagai media penyebaran gagasan damai. Suastika Mohara—perempuan tinggi semampai dengan raut wajah yang cantik—selain pembuat film, juga bertindak selaku juri tingkat nasional.

Dalam ceramahnya siang tadi, Suastika mengatakan, generasi muda harus bisa menjadi kreator, aktif menciptakan hal-hal yang baru. “Dengan menciptakan sesuatu kita dapat memberikan informasi yang baru kepada masyarakat, khususnya bila kita bisa jadi kreator dalam sebuah film,” katanya.

“Informasi apa yang akan kita berikan kepada masyrakat luas jika kita pasif atau hanya bisa menerima dan menonton? Harusnya, kita menjadi creator, pencipta. Saya yakin bila kita punya niat dan kemauan untuk berkarya maka semua akan bisa terwujud,” kata Suastika dengan suara meninggi.

Menurut perempuan berkaca mata ini, saya menginginkan anak muda di seluruh Indonesian aktif sebagai kreator, aktif sebagai pencipta dan tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.

“Anak muda sebaiknya tak sekadar aktif menikmati informasi yang lalu lalang di pelbagai medsos saja. Mestinya anak muda pintar melihat apa yang bisa dijual (baca: kreatifitas),” tutur Suastika.

Dengan kreatifitas dirinya itulah, makanya perempaun ini bilang, “Itulah sebabnya saya mengangkat dan membuat film pendek, karena di dalam film pendek inilah saya dapat mengeluarkan ide, gagasan dalam pikiran saya, atau apa yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat,” tutup Suastika.

RISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR