Pemateri: Ketua KPU Sulawesi Barat Rustang (kedua kiri) bersama Ketua Bawaslu Sulawesi Barat Sulfan Sulo (kedua kanan). (Foto: Andry)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Saya seolah terciduk di tengah keasyikan mengolah tulisan di awal sore tadi, Jumat, 29 Juni 2018.

Guyuran hujan turun begitu menantang ketika Ashari Rauf seketika menggetarkan panggilan handphone saya, tepat pukul 14.15 WITA.

Kelalaian saya membuka kiriman pesan melalui layanan WhatsApp dari adinda Sholihin semalam, yang isinya mengoper amanah Ketua PWI Sulawesi Barat Naskah M. Nabhan untuk mewakili menghadiri paparan sebuah acara bertajuk Pilkada.

Dari penjelasan Ashari Rauf itulah menjelaskan perihal bahwa saya harus bertindak tak ada rotan akar pun jadi pada sore tadi. Maksudnya adalah saya—sebutlah Sekretaris PWI yang kerap tak disiplin pada jabatan ini—mengganti peran ketua Naskah untuk hadir mencereweti bincang-bincang jalannya Pilkada kita.

Fakta hujan deras itu pun disolusi oleh Ashari dengan memanfaatkan jasa angkutan layanan grabcar.

Pada sebuah ruang berpendingan yang tampak mungil eksklusive d’Maleo Hotel & Convention Mamuju di sore tadi itu, sudah lebih dulu hadir Ketua KPU Sulawesi Barat Rustang, Ketua Bawaslu Sulawesi Barat Sulfan Sulo, dan pemrasaran lainnya—ada unsur tentara, polisi, dan wakil-wakil stakeholder kepemiluan di daerah ini.

Foto bersama seusai FGD tentang Pilkada Serentak di dua kabupaten, Polewali Mandar dan Mamasa, Mamuju, Jumat, 29 Juni 2018.(Foto: Andry)

Acara diskusi dan bedah tuntas fakta-fakta yang telah mulai mengemuka di pekan pembuka pasca pemungutan suara Pilkada serentak di Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa, diselenggarakan oleh Jari Manis Mamuju, dengan Ashari Rauf selaku komandan.

Nama formal gelaran ini adalah Forum Group Discussion (FGD) Jari Manis Mengawal Pilkada Serentak 2018 di Polewali Mandar dan Mamasa, Mamuju, Jumat, 29 Juni 2018.

Satu hal yang menggelitik dalam benak saya ketika Ketua KPU Sulawesi Barat bilang, besok pagi-pagi saya berangkat ke Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, memantau langsung pemilihan suara ulang (PSU) di TPS II Desa Saludurian.

“Kita belum bisa simpulkan karena dalam identifikasi teman-teman KPU Mamasa. Tapi sementara, laporan yang kita terima di TPS itu ada kelalaian pihak penyelenggara. Faktanya, setelah perhitungan jumlah suara sah dengan kertas suara yang terpakai berbeda,” begitu saya menangkap paparan komisioner KPU Rustang itu.

Baca: Lalai Setitik di TPS, Rusak Hasil Pilkada Berbiaya tak Murah

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR