Tomi Lebang (kiri), guruku dalam menulis dan 'mengenal alam intelektual Indonesia'. (Foto: Hasmawadi)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dulu, ketika dia masih aktif di Majalah TEMPO, saya terkadang gembira ketika menemukan namanya dalam sajian di beberapa lembar isi majalah terkemuka di Indonesia itu.

Cukup menemukan namanya saja, saya telah menganggap bertemu dengannya. Dia itu adalah guruku dalam menulis, bahkan untuk banyak hal lainnya.

Saya benar-benar ‘mengenal’ Makassar dan Jakarta dalam perspektif intelektual dan jurnalisme, tiada lain berkat guruku ini: Tomi Lebang.

Sejak tahun 1999, guruku ini telah bermukim di Jakarta. Sejak itu, saya sudah jarang bertemu. Tapi itu secara kasat mata.

Sebagai murid dalam menulis, saban minggu dia selalu ‘hadir’ dalam selingan aktifitasku di Mamuju, Sulbar, ini. Lantaran saya selalu menikmati tulisan-tulisannya: entah di laman facebooknya atau memelotot halaman perhalaman di web pribadinya.

Atau bahkan dia sesekali hadir dalam obrolan grup WhatsApp milik warga Mandar di Sulbar ini, saya terus mengikutinya. Kata demi kata yang ditulis guruku ini akan selalu jadi pelajaran baik dalam caraku belajar meniti karir sebagai Penulis berikutnya, walau di daerah saja.

Pesta Ruxon, Serasa Silaturahmi Warga PUS

Robinson, SH (dua dari kiri) dan Misbachuddin Gasma, SH (dua dari kanan). (Foto: Ist.)
Robinson, SH (dua dari kiri) dan Misbachuddin Gasma, SH (dua dari kanan). (Foto: Ist.)

Malam itu, di Sabtu lalu ini, saya sebetulnya bangga sekali. Saya mengoper kamera pada salah satu rekan untuk memintanya memotret saya bersama guruku.

Meski saya dikenalkan anak perempuannya yang sudah aktif bercakap dalam bahasa Inggris—bercakapnya bukan ke saya—tapi motivasi kebanggaan saya tetap ke guruku ini.

Bagaimana tidak, guruku yang begitu saya hormati dan banggakan pula, dia menyapa namaku dengan datar dan santun, persis masih sama ketika dia kerap mengajak kami main kelereng dan juppi’ di Mambi tempo dulu—antara tahun 1985 hingga 1990.

Ketika saya tiba pada ketikan untuk kisah pendek di atas, saya terhenti mengetik lataran air mata yang menitis ke pipi perlu diusap. Saya terhanyut ke masa silam, pada kampung Mambi tempat kami bersenda gurau. Dan, di masa itu pun, Dia selalu jadi Guru untuk kami –adek-adeknya.

Tak ada yang berubah. Meski kini guruku bukan lagai ‘orang biasa’ di lingkaran elit Indonesia di Jakarta. Tapi di malam Sabtu itu, di tempat pesta pernikahan Ruxon dan Rolin, Dia masuk ke tengah-tengah kami warga Mambi (PUS), persis di pintu masuk ballroom hotel besar itu.

Bercakap-cakap dengan kental bahasa kampung kami. Sudah 17 tahun di Jakarta bukanlah alasan guruku untuk berbicara bercampur logat dan langgam Betawi. Guruku bertutur sangat asli Mambi—kampung teduh di kaki gunung yang tinggi di Sulbar.

Berjalan ke ruangan pesta hingga memilih meja dan tempat duduk pun, guruku ini memilih tetap bersama kami, anak-anak muda yang terlahir dan besar di kampung Mambi.

Seolah tiada yang berubah dalam diri guruku ini, Tomi Lebang. Padahal dengan kedekatannya dengan Rudi Alfonso, terlebih dengan “kalangan atas” di Jakarta, sebetulnya sudah kuat alasan untuk tak lagi mencirikan dirinya sebagai anak Mambi yang kedaerahan.

Tapi itu tak mungkin guruku nampakkan. Sudah dari karakternya dan pembawaannya akan selalu menjadi anak Mambi di perantauan yang sukses namun tak lupa kampung tempat permainannya di kala masih kecil dan remaja dulu.

Guruku ini adalah ‘guru’ bagi banyak wartawan muda di Sulsel dan Sulbar –bahkan di tempat yang tak terhitung jumlahnya.

Janji saya sebetulnya, setibanya di Mamuju pada Senin subuh, tulisan ini saya buat. Tapi lantaran goncangan perjalanan darat di atas ‘bus wisata’ sekitar delapan jam yang membuat saya harus ‘berkontemplasi’ seharian penuh.

Barulah malam ini tulisan ini saya buat dengan beban yang mengasyikkan: kebanggaan yang sulit rasanya saya tuangkan secara baik, runtut, dan yang enak dibaca tentunya.

Dari setengah lusin buku karya muridmu ini, tetaplah selalu kupersembahkan pada Guruku. Dan, jika Tuhan berkenan, tunggulah tiga judul buku baruku sebagai penutup tahun 2017 nanti. Ini pun tetap untuk Guruku: Tomi Lebang yang kubanggakan, sampai kapan pun.

Mamuju, Senin tengah malam, 19 Desember 2016

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR