BERGEGASLAH, SEBELUM BLOGGER PEGANG KENDALI

505

Oleh: Adi Arwan Alimin

KEMATIAN media, atau mungkin ini sekadar sinyalemen Mark Twain yang dibesar-besarkan. Namun kita tak juga dapat mengelak dari realitas. Dalam era kecepatan akses informasi dan internet yang makin mudah dan murah, media berita tradisional kini menghadapi tantangan yang sangat besar. Era baru dalam perspektif yang ingin menjadi tercepat dan pertama penyampai kabar terbaru mulai melampaui kemampuan media mainstream.

Untung saja, di Sulawesi Barat misalnya, blogger masih dapat dihitung dengan jemari. Hingga media tradisional yang masih memerlukan jalur lebih panjang untuk menyuguhkan berita ke pembaca masih tertolong.

Yang sedang tren, kemunculan situs online dengan pelbagai nama sudah hitungan puluhan. Penulis tak akan menyebutnya satu demi satu, kuatir bakal ada yang tertinggal atau bahkan akan ada lagi yang paling terkini aqiqahnya.

Mengapa Penulis mengatakan untung saja blogger masih sehitungan jemari? Karena keberadaan mereka yang—sebagian—berada di luar jangkauan standar etika jurnalistik, dan kerumitan mekanis newsroom akan makin memberi tekanan dalam ceruk bisnis media yang memang pelan-pelan megap-megap.

Kemunculannya—situs online itu—akan menantang gagasan tentang siapa yang sesungguhnya disebut pewarta, atau jurnalis.

Embrionya sebenarnya berkecambah, lihatlah para pemilik akun media sosial Facebook yang gemar memanfaatkan tautan live, atau para facebookers yang lebih dekat dengan sumber peristiwa di mana mereka dapat langsung mewakili kehadiran jurnalis yang belum sampai di lokasi. Mereka seakan mencoba mulai mengambil peran wartawan yang selama ini dianggap sebagai sumber pertama.

Gagasan Penulis di catatan ini akan lebih dalam pada kehadiran pemilik blog, yang intensitasnya mungkin akan jauh lebih bernas dibanding pemangku medsos yang kerap menjadi pengabar pertama. Siapakah blogger?

Blog merupakan singkatan dari web log, adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan yang dimuat sebagai posting pada sebuah halaman web. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urutan terbalik (isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. (Baca Wikipedia).

Kata blog awalnya tercipta secara tidak sengaja tahun 1997 oleh John Bargerm, seorang editor Robot Wisdom. Ia menciptakan kata “web-log” yang diikuti oleh Peter Merholz dengan menulis We Blog di situsnya.

Hingga lahirlah seorang bernama Evan Williams di Pyra Labs yang mulai menggunakan kata “blog” tunggal sebagai kata kerja dan kata benda, sebelum akhirnya menciptakan istilah “blogging” dalam hubungan dengan produk Blogger Pyra Labs. Istilah ini yang terus berkembang hingga saat ini.

Blogger akan tampak sebagai jurnalis atau wartawan, yang menyebarkan berita kepada khalayak, khususnya pada informasi yang mungkin tidak terjangkau audiens.

Menariknya, para pemilik akun dengan trust yang baik di publik mulai diandalkan untuk informasi yang akurat. Blogger analitik dapat menggeser gengsi wartawan yang bisa saja kehilangan kepercayaan pembaca.

Sejak tahun 2007, ketika masih aktif di Radar Sulbar, Penulis telah membaca potensi warga yang dapat diandalkan sebagai kontributor berita. Dewasa ini istilahnya lebih dikenal sebagai jurnalisme warga, netizen, atau citizen jurnalisme.

Surat kabar sebenarnya telah lama memberi kesempatan untuk Pembaca untuk mengungkapkan pandangan mereka melalui surat. Tetapi ini kurang interaktif.

Paragraf di atas tentu berbeda dengan konteks blogger yang Penulis maksud. Sebab blogger dapat memanfaatkan situs di mana pembaca yang dapat muncul dengan pandangan atau pendapat sebagaimana gagasan blogger.

Wall dalam Handbook Komunikasi Politik (2016) menyebut, blogger disebut sebagai jurnalis partisipatif karena blogging menampilkan interaktivitas bukan sekadar mengamati.

Konteks ini juga mulai memosisikan blogger sebagai ‘pasar gelap jurnalisme’ karena produk jurnalistiknya di luar sistem yang selama ini didominasi konglomerasi media.

Yang sedang menjamur di daerah barulah situs online dengan usungan nama media beragam. Namun Penulis meyakini dalam beberapa tahun ke depan, aktivitas blogger akan memasuki ruang di mana ia akan bersaing menekankan perbedaan antara pendekatan pada jurnalisme dengan apa yang diterima sebagai metode jurnalistik standar.

Wartawan tradisional, istilah ini untuk menyebut persona yang masih kukuh pada kebakuan langkah, sementara perkembangan surat kabar atau media berjibaku dengan tren baru.

Sedang di tempat lain kehadiran dunia blog telah berdampak serius pada mutu media berbasis konvensional. Meninggalkan media tradisional memang belum terjadi secara sungguh-sungguh di daerah, namun kehadiran situs online telah memengaruhi cara bekerja jurnalis untuk melahirkan produk yang berhubungan dengan konsumen Pembaca yang terbatas, dan kritis.

Transformasi ini sesungguhnya berkembang. Blogger kini mulai berperan sebagai sumber-sumber informasi yang baru. Bila dicoba untuk dilandaikan, ini ibarat lompatan dari buku harian menjadi pengumpul dan penyebar informasi.

Blogger untuk saat ini masih menyamarkan diri dalam banyak nama terbatas, tetapi ia tetap saja bagian dari masa depan jurnalisme.

Publik yang makin cerdas, juga makin familiar dalam kecepatan informasi, pelan-pelan akan menjauhkan dirinya dari obyektifitas media konvensional. Mereka akan tertarik pada sumber blog yang jauh lebih memikat. Sekali lagi, aktivitas blogger di daerah belum sekencang di negeri lain.

Richard Davis (ibid) menyebutkan, salah satu alasan mengapa blogger dapat bertindak begitu cepat karena mereka tidak memiliki rutinitas dan terkungkung struktur jurnalistik. Ia tidak membutuhkan editor yang memutuskan apakah harus meliput sebuah agenda. Reporter memerlukan waktu mengikuti peristiwa, lalu mengumpulkan informasi kontekstual, materi dan narasumber, lalu proses editing yang melewati editor sebelum publikasi.

Berita untuk website pun tidak melewati jalur produksi, namun masih harus melalui siklus lain. Televisi tentu lebih rumit karena kendala mobile lokasi dan kru serta syarat lainnya. Dalam waktu kurang dari liputan wartawan reguler, blogger melewati semua lajur itu. Di era berita 24 jam blog yang aktif selalu memenuhi dan melampaui.

Sebelum semua ini menggeser kebebasan dan kemampuan membingkai narasi dengan cara yang khas dan merebut kesan pertama Pembaca, kita harus tetap dapat mempertahankan relevansi dalam lingkungan media atas nama aturan jurnalistik.

Kelak perebutan ceruk pembaca hanya dapat dicapai bila setiap wartawan tetap menjaga integritasnya, sikap profesionalnya, dan kompetensi personalnya. (*

Mamuju, 19 September 2017

*) Penulis adalah Anggota Luar Biasa PWI Sulbar

Diolah dari sejumlah bacaan

TINGGALKAN KOMENTAR