Tokoh pendiri Perhimpunan Indonesia (PI). (Foto: Net.)

Jika dirunut waktu, kini telah 89 tahun yang lalu: Sumpah Pemuda 1928.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, pada 28 Oktober 1928 pemuda-pemuda Indonesia telah ‘memproklamirkan identitas Indonesia’.

Apa yang disebut Benedict Anderson—ahli Indonesia dari Amerika—bahwa ‘Indonesia lahir karena dibayangkan ada’. Tertulis dalam sejarah, sebelum Sumpah Pemuda 1928, pemuda-pemudi Indonesia telah bergerak mengerek kejuangan untuk kedaulatan bangsanya.

Fakta-fakta sejarah kemudian ‘menjelaskannya’. Pemuda Bung Hatta—salah seorang proklamtor kemerdekaan Indonesia—telah banyak menulis tentang kelahiran perhimpunan pemuda yang bergerak mendorong kemerdekaan bangsa Indonesia.

Selain Bung Hatta—pula ‘para pendiri’ bangsa lainnya dan ilmuan Indonesia—tak sedikit pula ilmuan ‘asing’ yang menulis tentang Indonesia.

Salah seorang ilmuan pesohor itu adalah Benedict Aderson. Pegiat media di Jakarta kerap menulis namanya lebih pendek, Ben Anderson.

Tentang nasionalisme dan identitas sebuah bangsa yang berkehendak merdeka, kerap dikaitkan dengan sebuah buku karya Ben Anderson: Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.

Buku ini memperkenalkan konsep terkenal dalam ilmu politik dan sosiologi, yaitu komunitas terbayang. Buku ini pertama kali terbit tahun 1983 dan diterbitkan ulang pada tahun 1991 dengan bab tambahan dan 2006 dengan revisi lain.

Ben Anderson percaya bahwa sebuah bangsa adalah komunitas yang dikonstruksi secara sosial, dibayangkan oleh orang-orang yang memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Benedict Richard O’Gorman Anderson adalah nama lengkap profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell ini. Ia terkenal karena bukunya Imagined Communities.

Lahir pada 26 Agustus 1936 di Kunming, Republik Rakyat Tiongkok. Berkebangsaan Britania Raya, Irlandia, dan Amerika Serikat (AS). Pada 13 Desember 2015, ia meninggal di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Sejarah Singkat Pergerakan Pemuda

Indische Partij (Partai Hindia) adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri pada 25 Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara yang merupakan organisasi orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia.

Perhimpunan Indonesia didirikan pada 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Belanda, antara lain Sutan Kasayangan dan R.N. Noto Suroto. Sebelum bernama Perhimpunan Indonesia organisasi ini bernama Indische Vereeniging.

Pada 1922, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Sejak tahun 1925, selain nama dalam bahasa Belanda juga digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu Perhimpunan Indonesia.

Untuk menyebarkan semangat perjuangannya, PI menerbitkan majalah Hindia Putra. Dalam majalah bulan Maret 1923 disebutkan asas PI adalah “Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata, bahwa hal yang demikian itu hanya akan dicapai oleh orang Indonesia sendiri bukan dengan pertolongan siapa pun juga; Bahwa segala jenis perpecahan tenaga haruslah dihindarkan supaya tujuan jelas tercapai.”

Dan, pada 1924, majalah Hindia Putra diubah namanya menjadi Indonesia Merdeka.

Meningkatnya kegiatan ke arah politik terutama sejak kedatangan dua orang mahasiswa Indonesia yang belajar ke Belanda, yaitu Ahmad Subardjo pada 1919 dan Mohammad Hatta—Bung Hatta—pada 1921.

Pada 1925 dibuatlah suatu anggaran dasar baru yang merupakan penegasan dan perjuangan Perhimpunan Indonesia (PI). Di dalamnya disebutkan bahwa kemerdekaan penuh bagi bangsa Indonesia hanya akan diperoleh dengan aksi bersama yang akan dilakukan secara serentak oleh seluruh kaum nasionalis dan berdasarkan kekuatan sendiri. Untuk itu, sangatlah diperlukan suatu bentuk kekompakan rakyat seluruhnya.

Dalam kegiatan pergerakan nasional Indonesia, pengaruh PI cukuplah besar. Beberapa organisasi pergerakan nasional lahir karena mendapatkan inspirasi dari PI, seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada 1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) pada 1927.

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari pemuda-pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan di Jakarta, Minggu, 28 Oktober 1928 sebagai hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda Indonesia II dilaksanakan oleh organisasi PPPI yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia, dengan wakil-wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumateranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, serta pengamat dari pemuda Tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan, Oey Kay Siang, dan Tjoi Djien Kwie.

Panitia Kongres Pemuda Indonesia yang merumuskan lahirnya Sumpah Pemuda Indonesia di Jakarta pada Minggu, 28 Oktober 1928. (Foto: Net.)

Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari:

Ketua Soegondo Djojopoespito (PPPI), Wakil Ketua R.M. Djoko Marsaid (Jong Java), Sekretaris Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Bendahara Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Pembantu I Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), Pembantu II R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Pembantu III Senduk (Jong Celebes), Pembantu IV Johanes Leimena (Jong Ambon), Pembantu V Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi).

Peserta: Abdul Muthalib Sangadji, Purnama Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abdul Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo, Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu.

Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr. Pijper, Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi, Soekowati (Volksraad).

Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo, Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo, Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad Roem.

Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin (Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage Rudolf Soepratman, dan Nona Tumbel.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Muhammad Yamin dan dibacakan oleh Soegondo, kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Muhammad Yamin.

Isi Sumpah Pemuda sebagai berikut:

PERTAMA: Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia.

KEDUA: Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indoesia.

KETIGA: Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indoesia.

(Diolah dari berbagai sumber, salah satunya Wikipedia)

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR