Bank Indonesia Luncurkan Uang Rupiah Baru

258

TRANSTIPO.com, Mamuju – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan pengeluaran dan pengedaran sebelas pecahan uang rupiah tahun emisi (TE) 2016, hari ini (Senin, red), 19 Desember 2016 di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

Peresmian sekaligus menandai bahwa sebelas pecahan uang tersebut mulai berlaku, dikeluarkan, dan diedarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Uang rupiah kertas terdiri dari pecahan Rp 100.000 TE 2016 ada Dr. (HC) Ir. Soekarno dan di sampingnya ada Dr. (HC) Drs. Mohammad Hatta, pecahan Rp 50.000 TE 2016 ada Ir. Djuanda Kartawidjaja, Rp 20.000 TE 2016 gambarnya ada Dr. G.S.S.J. Ratulangi, Rp 10.000 TE 2016 ada Frans Kaisiepo, Rp 5.000 TE 2016 ada Dr. K. H. Idham Chalid, Rp 2.000 TE 2016 ada Mohammad Hoesni Thamrin, dan pecahan Rp 1.000 TE 2016 ada gambar Tjut Meutia,” jelas Asep Budi Brata, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulbar  kepada tamu dan undangan di ruang rapat Kantor bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulbar, Senin, 19 Desember 2016.

Masih menurut Asep Budi Brata, untuk uang logam pada 4 pecahan yaitu: pecahan Rp 1.000 TE 2016 terdapat gambar Mr. I Gusti ketut Puadja, Rp 500,00 TE 2016 ada gambar Letnan Jenderal TNI T.B. Simatupang, Rp 200,00 TE 2016 terdapat gambar Dr. Tjiptomangunkusumo, dan Rp 100,00 TE 2016 terdapat gambar Prof. Dr. Ir. Herman Johanes.

Peresmian pecahan uang rupiah tahun emisi (TE) 2016 ini bertepatan dengan peringatan Hari Bela Negara. Sejalan dengan semangat bela negara, uang rupiah TE 2016 menampilkan sebelas gambar tokoh Pahlawan Nasional sebagai gambar utama di bagian depan uang rupiah.

Pencantuman gambar Pahlawan Nasional tersebut merupakan bentuk penghargaan atas jasa yang telah diberikan bagi negara Indonesia. Untuk lebih memperkenalkan keragaman seni, budaya, dan kekayaan alam Indonesia, uang rupiah kertas menampilkan pula gambar tari nusantara dan pemandangan alam dari berbagai daerah di Indonesia.

Asep Budi Brata, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulbar kepada wartawan mengatakan, akan segara melakukan sosialisasi untuk memperkenalkan dan mengedarkan pecahan rupiah baru kepada seluruh masyarakat Sulbar.

“Mulai hari ini (Senin, red) kita lakukan pengenalan ke masyarakat. Semenjak launching tadi, bapak Presiden RI mengatakan edarkan.

“Kita langsung ke masyarakat untuk mengedarkan itu. Jadi nanti kita akan datang ke enam kabupaten di Sulbar itu covering kita. Kita akan datangi setiap kabupaten, terus kemudian kita akan lakukan sosialisasi kepada masyarakat, kepada unsur-unsur stakeholder di daerah yang bisa mempercepat proses sosialisasi dan komunikasi secara langsung. Kita juga minta kepada pihak jajaran Bank Indonesia perbankan terutama melalui kas keliling luar kota dan dalam kota. Di samping itu dukungan perbankan juga siap untuk melakukan seperti itu,” kata Asep Budi.

Menurut Asep Budi, untuk wilayah Sulbar, Bank Indonesia menyiapkan Rp 19 miliar pecahan rupiah baru untuk dikenalkan ke masyarakat Sulbar.

“Kalau di Sulbar ini totalnya Rp 19 miliar sebagai pengenalan. Kita akan sebarkan kepada masyarakat untuk ditukarkan. Nanti saat sosialisasi kita sampaikan di mana mereka bisa melakukan penukaran uang,” kata Asep Budi.

Bank Indonesia, kata Asep Budi, bank yang ada di Sulbar sudah siap melakukan penarikan uang di BI untuk dikenalkan ke masyarakat.

“Seluruh bank di sini sudah siap. Empat belas bank di Sulbar yang bekerja sama dengan BI sudah siap melakukan penarikan uang. Tapi mereka melakukan proses penukaran dulu karena baru launching. Penukaran dulu lalu penarikan secara resmi. Jadi melalui proses yang bertahap. Di ATM juga belum karena di ATM harus ada proses lebih lanjut. Karena proses menggunakan sensor elektronik jadi pecahan uang itu harus dibaca dulu,” Urai Asep Budi.

Budi juga menegaskan, dengan berlakunya uang rupiah TE 2016 ini, uang rupiah yang beredar saat ini masih tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.

“Uang lama masih tetap berlaku sampai dengan Bank Indonesia mengeluarkan aturan penarikan terhadap pecahan yang dimaksud,” tutup Asep Budi.

ZULKIFLI

TINGGALKAN KOMENTAR