Salah seorang warga di Rea, Lakahang Utama, memindahkan rumahnya. Warga desa kemudian beramai-ramai bantu mengangkatnya, Senin, 12 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

Ini baru namaya gotong-royong. Di desa Anda, apa masih ada gotong-royongnya?  

TRANSTIPO.com, Tabulahan – Zaman modern ini, kegiatan bergotong-royong warga hampir hilang. Tapi di kampung Rea, Lakahang Utama, Tabulahan, Mamasa, kebiasaan bergotong-royong warga masih terpelihara dengan baik.

Salah satu kegiatan gotong-royong di Rea itu dapat dilihat saat usai melaksanakan acara syukuran di salah satu rumah warga. Puluhan anak muda dan orang tua berbondong-bondong ke salah satu rumah tetangga yang hendak memindahkan rumahnya.

Kegiatan pindah rumah itu kemudian para warga berkumpul untuk mengangkat rumah itu. Tampak jelas mereka kerjasama menyatukan tenaga dan kekuatan untuk mengangkat rumah rumah.

Salah warga, Amir, dikonfirmasi seusai mengangkat rumah dengan nafas yang masih tersengal-sengal mengatakan, gotong-royong dan kerjasama seperti mengangkat rumah kami masih lakukan di Desa Lakahang ini.

Warga kampung Rea, Lakahang Utama, bergotong-royong mengangkat rumah salah seorang warga, Senin, 12 September 2016. (Foto: Andi Arwin)
Warga kampung Rea, Lakahang Utama, bergotong-royong mengangkat rumah salah seorang warga, Senin, 12 September 2016. (Foto: Andi Arwin)

“Di sini gotong-royong masih terpelihara dengan baik. Bukan hanya mengangkat rumah tapi jika ada acara seperti orang menikah kita saling membantu, seperti angkat bambu, pasang tenda, dan mengambil kayu di hutan,” jelas Amir.

Menurut Amir, kita berharap ke depan gotong-royong dan kerjasama warga tetap terpelihara dengan baik. “Itulah perbedaan di desa dengan di kota,” puji Amir.

Bukan hanya Amir. Rajab, warga desa lainnya juga mengatakan, angkat rumah adalah salah satu bentuk kerjasama dalam bermasyarakat, apalagi di Rea itu tak ada orang lain semuanya berkeluarga.

“Angkat rumah ini sangat seruh karena banyak anak-anak yang juga ikut meramaikan, dan keseruannya karena biasa anak-anak ikut dan naik atau menggantung tangannya, bukan ikut mengangkat,” kata Rajab.

“Yang namanya gotong-royong pasti tak ada upah atau gaji yang diberikan oleh pemilik rumah. Kita murni membantu, ikhlas. Kalau selesai mengangkat rumah kita minum kopi dan makan kue yang dihidangkan pemilik rumah,” tutup Rajab.

ANDI ARWIN

TINGGALKAN KOMENTAR