Isra Daming Pramulya, Sekretaris Gerindra Sulbar. (Foto: Net.)

Sebetulnya ini untuk reportase politik. Tapi karena dimasukkan dalam ‘Rubrik Opini’ maka persepsi dan ‘prasangka’ Anda bisa tertuju langsung pada Penulisnya.

Dimulai dengan komentar Abdul Rahim, Sekretaris Partai Nasdem Sulbar.

Berikan saya waktu untuk berfikir baik2 dulu,” kata Abdul Rahim, Sekretaris NasDem Sulbar, menjawab pertanyaan saya melalui WhatsApp, semalam.

Setelah itu, Android Abdul Rahim terlelap.

MEMANG, tak ada pertanyaan yang dilayangkan kepada Munandar Wijaya. Ia bergabung di partai Gerindra, dan dalam kepengurusannya, ia sebagai ketua partai ini di Mamasa. Kini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Sulbar.

Pada ruang dan waktu berikutnya, tentu ia akan punya ruang dan waktu untuk komentar tentang isi sajian ini.

Tepat  jam 10.50 malam tadi, saya layangkan pertanyaan kepada Isra Daming Pramulya, juga via WA. Ia Sekretaris Partai Gerindra Sulbar.

Dari sas-sus yang mulai hangat di luar, lalu saya bertanya, “Jika benar Ramlan Badawi bergabung di Nasdem, maka apakah akan berkorelasi langsung pada Munandar Wijaya dalam hal apa pun di Gerindra Sulbar?” Kurang lebih begitu pertanyaan saya.

Jawaban Abdul Rahim, itulah lead di atas.

“Sikap politik itu—Ramlan Badawi maksud saya—tidak akan memengaruhi proses penegakan konstitusi partai. Kalau Munandar Wijaya memang terbukti melanggar aturan (partai), ya, kita akan berikan punishment (putusan final, red),” kata Isra Daming Pramulya.

Jawaban beruntun Isra ini, saya olah sedemikian rupa. Tanpa mengaburkan hal yang paling substantif.

Jika samar-sumir di pelbagai lintasan diskusi yang mengendus langkah politik Munandar Wijaya selama Pilgub lalu, bahwa ia kurang “disiplin” berjuang dalam Gerindra, maka sekaitan keputusan Ramlan Badawi—jika itu telah benar-benar terjadi—masuk Nasdem, maka Isra punya analogi.

“Jadi, kalau Ramlan Badawi nanti masuk Nasdem, ya, bisa saja kami (Gerindra, red) koalisi. Tapi, sekali lagi, tidak berbanding lurus dengan proses penegakan disiplin partai—pada siapa pun yang indisipliner—ya,” tegas Isra, menegaskan batas-batas demarkasi dalam kebijakan tuntas politik partai.

Ruang terbuka hijau, pula tak tertutup rapat dalam hemat pikir Isra. Ini jika dipersandingkan politik kekinian, katakanlah untuk Pilkada Mamasa dan Polman 2018.

“Tapi tidak kami pungkiri bahwa untuk Pilkada Mamasa dan Polman, sepertinya kami akan koalisi lagi dengan Nasdem, dan koalisi Maju Malaqbiq lainnya,” begitu asumsi Isra.

Cadangan

Entah benar atau tidak, dalam sejumlah selingan-selingan cuap sini cuap sana, terlintaslah kabar bahwa Munandar Wijaya sudah tidak dijadikan sebagai salah satu ‘kampiun’ apik untuk merengkuh satu kursi lagi di Pileg 2019 nanti.

Singkatnya? Namanya out dalam “susunan daftar sementara” caleg Gerindra di 2019.

Untuk memahami dua paragraf pendek di atas, maka kita perlu kembali pada perihal penegakan disiplin partai.

Memang, menurut Isra, “Kan sampai saat ini, belum ada hukuman atau sanksi untuk pak Munandar. Beliau masih tetap Wakil Ketua DPRD Sulbar. Kalau pun nanti (dia) direposisi dari Ketua DPC Mamasa, ya, itu tidak mesti dilakukan dan dipahami bahwa karena ada pelanggaran konstitusi partai yang dilakukan oleh beliau.”

Terkonsumsi sejuk kan… jika yang beri kontribusi pemikiran adalah mantan Sekjen PMII yang kantornya di Jakarta itu. Maksud saya, jika anak muda yang melek pemikiran besar, ia akan tetap mampu iringi perspektif baik di tengah arus kuat yang sedang tarik menarik.

“Reposisi dalam organisasi itu adalah hal wajar. Sama seperti pelatih yang menempatkan pemain dalam tim sepakbola. Kadang jadi pemain inti, kadang jadi cadangan,” tiga kata Isra terakhir sangat menarik, bukan hanya pada saya kan!

Jawaban di bawah ini sebetulnya mempersepsikan pertanyaan yang menyebutkan, manakala Ramlan Badawi tak jadi maju di Pilkada Mamasa 2018—asumsikanlah begitu—lalu Munandar Wijaya akan kiah kukuh pada sikap berlaga. Analisa Anda?

“Kita liat survey saja. Di Mamasa juga ada pak Sudirman Darius koq. Cadangan, bisa jadi disimpan untuk pertandingan yang lebih kerasnya to,” kata Isra.

Kata cadangan dan kata disimpan, lalu melompat ke pertandingan baru, tentu akan menyita dalam relung batok kepala kita semua untuk bisa menyederhanakannya memahaminya.

Goenawan Mohamad pernah bilang pada kami—calon-calon Penulis ingusan di tempo dulu di Wisma TEMPO, Sirnagalih, Megamendung—jika Anda tak punya data dari hasil reportase atau ide jika hendak bikin Esai, maka berhentilah menulis.

Jika terus menulis, maka Anda akan bohong.

Untuk sekadar bacaan Senin siang yang penuh Berkah dari-Nya.

Tabe’…  Kurru’ Sumanga’ Pole Paraja

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR