Muhammad Yasin Hakim, Ketua DPW Perindo Sulawesi Barat. (Foto: Sarman Shd)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Segala jenis gorengan murahan pernah ia jual. Dari yang berbahan tahu, tempe, ubi, pisang, hingga bakso. Dia lelaki berjenggot lebat yang rasionalitas-modernisnya tak perlu diragukan.

“Sepertinya, saya mau menjual ikan boncengan lagi dinda. Keluarga di kampung-kampung bilang ke saya, itu pekerjaan baik.” Kata-kata itu adalah penutup dari sekitar sejam waktu obrolan dengan si jenggot.

Penulis hanya bisa menyunggingkan senyum sebelum benar-benar setengah batok kepala telah ditutupi helm saat persis di tumit pintu kantornya di suatu sore itu, beberapa waktu lalu.

Jauh di palung hatinya, tak pernah terbetik sedikit pun kelak akan jadi orang partisan. Ia tak pernah menyangka akan menjadi politisi lalu memimpin partai politik di level provinsi.

Tapi begitulah hidup. Ia berjalan mengikuti waktu, mengalir bersama dinamika dan romantikanya dunia. Di tengah sebuah masa dalam pergulatan hidup terkadang harus melangkahi cita-cita.

Umumnya orang kampung, bisa mengayuh langkah secara mandiri itu sudah lebih dari cukup. Jika tiada sanggup menghidupi orangtua dan sanak famili terdekat, paling tidak sudah tidak menjadi beban dalam tanggungan mereka.

Menjadi seorang guru—atau menjadi tenaga pamong di pemerintahan sebutan sekarang—adalah cita-cita teranyar orang di kampung. Ujuk-ujuk berprofesi petani pun sudah lumayan.

Lelaki ini bernama Muhammad Yasin Hakim. Ia beristri dengan seorang perempuan pilihannya, Lilik Andayani. Sejak ia membina keluarga bersama Lilik, mereka telah dikaruniai 4 orang anak.

Yasin Hakim lahir pada 5 Desember 1969 di Taupe, sebuah kampung yang dulu disebut Popatapeang yang berada di pegunungan Tapalang, Kabupaten Mamuju. Kampung Yasin itu tak jauh dari Sungai Malunda, Kabupaten Majene.

Masa kecil Yasin ia habiskan di kampung Bela’, Desa Kopeang dulu. Kepada kru laman ini ia bercerita bahwa sejak kecil sudah terbiasa jalan kaki dari Bela’ hingga ke Mambi—wilayah Kabupaten Mamasa kini.

Begitu pula Yasin kerap jalan kaki jika hendak bepergian ke Tapalang. Ia masih hafal betul segala jenis permainan rakyat di masa kecilnya. Ia sebut menyukai permainan sibola, sigasing, motekka, mekkalisusu, mosea sea, massuppi, mangngeteng, mangngoko, mekandango, manoke, dan aneka rupa permainan anak-anak pegunungan lainnya tempo dulu.

Bisa dibilang sejak kecil jiwa sosial Yasin sudah mulai terbentuk. Sebelum beranjak pada umur sekolah, ia ingat jika Ibunya sudah pergi merumput dan mepare (potong padi di gunung), maka tugas Yasin di rumah menunggui adiknya, termasuk anak tetangga yang sepentaran dengan umur adiknya.

Anak ketiga dari 9 bersaudara ini lahir dari seorang Ayah bernama Abdul Hakim (almarhum) dan Ibu bernama Sitti Jausah.

Di masa kecilnya itu, tempat tinggal keluarga Yasin lebih tepat disebut kebun. Memang, Ayahnya memiliki kebun yang luas. Dari situlah sumber utama penghasilan keluarga Yasin.

“Satu hal yang membangkitkan dedikasi yang tinggi adalah karena rumah kami jauh dari pasar, dan ketebasan segalanya maka kadang jatah ikan cukup 2 ekor ikan terbang (tui-tuing) untuk 12 orang anak. Segala upaya membagi satu ekor ikan tui-tuing untuk setiap 6 orang anak. Harus adil supaya semua puas, karena kalau ada yang merasa sedikit akan menangis dan melapor kepada Mamanya,” kisah Yasin sembari terkekeh.

Begitulah cara sang kakak—bagi adik-adiknya dan bagi anak tetangga—ketika sedang menjadi bapak di rumah.

Muhammad Yasin Hakim benar-benar pengelana. Ia bilang kepada kru laman ini, “Dulu, antara tahun 1991-1992, saya jual tempe dan tahu di Tappalang. Sayalah penjual pertama di Tappalang. Saya juga selingi jual ikan dengan pakai motor keliling,” cerita Yasin.

Urusan jual-jual gorengan, ia juga tak lupa sampaikan ketika awal membuka usaha di kota Mambi.

“Mungkin Anda masih ingat, pada 1995-1996, saya menjual bakso, tempo, dan kue buroncong di Mambi. Dari sore hingga malam, saya sudah standby di perampatan Mambi, dekat Masjid lama,” ujar Yasin Hakim.

Cerita di atas terjadi sepulangnya ia merantau dari Kalimantan. “Saya ke Kalimantan pada 1988, dan kembali ke Mamuju pada 1991. Sejak itulah saya mulai kerja serabutan.”

Anak seorang petani di Tappalang ini tak lupa sebut jika pada 1999 hingga 2000 masih sempat jual ikan keliling di kota Mamuju. “Banyak warga di Mamuju yang masih ingat itu. Makanya, sepertinya selain mengurus partai saat ini, kayaknya saya mau sambilan kerja menjual ikan keliling lagi.”

Tawa Muhammad Yasin Hakim adalah menutup obrolan singkat pada suatu sore di Mamuju, beberapa waktu lalu.

Untuk mengenal lebih dekat lelaki berjenggot yang murah senyum ini, berikut biodata lengkap beliau.

Data Diri
Nama: Muhammad Yasin Hakim, S.Pd.i
Tempat lahir: Mamuju, 5 Desember 1969
Jenis kelamin: Laki-laki
Agama: Islam
Status perkawinan: Kawin (Istri: Lilik Andayani, Anak 4 orang)
Alamat: Jalan  Abd. Syakur, Kelurahan Karema, Kecamatan Mamuju, Mamuju
Kontak Person: 081227147823

Pendidikan Formal

STAI Al-Azhary Mamuju (2008)
SMAN Mamuju (1988)
SMPN Tapalang (1985)
SDN Taan (1982)

Pendidikan Non Formal

* ToT Supervisor Bangun Mandar (21-25 Maret 2010) Pembangunan Desa Mandiri Berbasis Mayarakat Sulawesi Barat; Program Kerja Sama Pemprov Sulbar dengan Unhas)
* Training Konsultan Referesentatif PT. Bentara Antara Asia Makassar (2 Maret 1992)
* Pelatihan Instruktur Pengembangan Program Yayasan Masyarakat Islam Depag Kota Balikpapan (11 November 1989)
* Patihan Kepemimpinan AMM & Penataran P4-Pola Pendukung 72 Jam, Kota Balikpapan (2-7 Februari 1989)
* Penataran P4 dan Wawasan Nusantara Pola Pendukung 24 Jam SMA Negeri Mamuju (1986)
* Training LDK KKN Unhas Gel. VII (5 Februari1983)

Pekerjaan

  • Supervisor Kabupaten Mamasa Program Membangun Desa Mandiri Berbasis Masyarakat (Program Kerja Sama Pemprov Sulbar dengan Unhas). (2010-2011)
  • Supervisor Kabupaten Majene Program Pembangunan Desa Mandiri Berbasis Masyarakat (Program Kerja Sama Pemprov Sulbar dengan Unhas). (2011-2012)
  • Kepala Madrasah Aliyah At-Taufiq Pattaropura (2008-2010)
  • Guru Mts At Taufiq Pattaropura Papalang Mamuju (2003-2010)
  • Karyawan Vc Usaha Pangkep Timika Papua (2001-2003)
  • Pendiri/Pengurus Yayasan Al- Ummah Al-Islamiyah Polmas (1995)
  • Karyawan PT. Bentara Antara Asia Indonesia Timur (1992-1995)
  • Karyawan PT. Rante Mario Base Camp Salu Le’bo Mamuju (1990-1992)
  • Mengajar SMP Babulu Darat Balikpapan Sebrang (1988-1989)

Riwayat Organisasi

  1. Pengurus Osis SMP Negeri Tapalang (1983-1984)
  2. Ketua Osis SMA Dh Pepabri Tapalang (1986-1987)
  3. Ketua IPM Cabang Babulu Darat (1988-1990)
  4. Direktur Lembaga Da’wah Pbhq, Yayasan Masyarakat Islam Kodya Balikpapan Kalimantan Timur (1988-1990).
  5. Ketua Panitia Pelaksana Ldk Pemuda dan Pelajar Tapalang (4-10 Juli 1990).
  6. Pendiri Yayasan Al-Ummah Al Islamiyah Polewali Mamasa (1995).
  7. Semiloka Pengelolaaan Hutan Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat oleh Yayasan Tumbu Mandiri, DFID dan Lembaga Alam Tropica Indonesia (1999).
  8. Inisiator Seminar Pendapatan Petani Lima Macam, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Tandratu Patttana Bali Mamuju (2000).
  9. Inisiator Sosialisasi Budidaya Nilam di Kecamatan Mambi (2001).
  10. Dewan Pendiri Yayasan At-Taufiq Pattaropura Topore Mamuju (2008).
  11. Seminar Nasional Pendidikan Peningkatan Akses Mutu Pendidikan di Sulawesi Barat, Dinas Pendidikan Sulawesi Barat Kerja Sama TP-PKK Sulawesi Barat (22 Juli 2008).
  12. Study Banding Ke PT. Taka Sago Indonesia Purwokerto Bersama Tim Dinas Koperindag Sulawesi Barat (2009).
  13. Seminar Pendidikan Nasional “Strategi Provinsi Sulawesi Barat Dalam Percepatan Mutu Pendidikan’’, KNPI Sulawesi Barat Kerja Sama PGRI Sulawesi Barat (5 April 2009).
  14. Peserta Seminar Pendidikan dan Budaya yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat Kerja Sama Pemkab Mamuju Utara di Pasangkayu (27 September 2012).
  15. Peserta Rakernas Dewan Masjid Indonesia di Jakarta (30 November-1 Desember 2012)
  16. Ketua DPW Partai Nasdem Provinsi Sulawesi Barat (2011-2013)
  17. Ketua DPW Partai Perindo Provinsi Sulawesi Barat (2015-2022)

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR