Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar, Senayan City, Jakarta, 13 Mei 2017. (Foto: Rahmat)

Dalam tulisan ini, saya lebih sering menyebut namanya Ali—yang tak mungkin mengurangi makna khusus nama lengkapnya, Ali Baal Masdar.

TRANSTIPO.com, Makassar – Berbincang bersama Gubernur Sulbar yang baru. Seolah tak ada jarak. Dari penampilannya yang sederhana, itu juga yang membuat kami—setengah lusin awak media dari Mamuju, Sulbar—yang menemuinya terasa tak berjarak.

Ali tak sendiri. Dari dua lelaki yang mengawalnya, sudah tak asing bagi kami yang sejak kampanye Pilgub lalu, dua lelaki ini kerap mendampingi Ali.

Jakarta, Sabtu malam, 13 Mei 2017. Tepat jam tujuh malam waktu Jakarta, kami sudah duduk berenam—ditambah seorang staf Humas Pemprov Sulbar—di sebuah ruang tengah yang luas di JJ Royal Bistro, Senayan City.

Konon, orang-orang Jakarta kerap menyebut Mall Senayan City ini adalah tempat para selebritis Indonesia bersenda gurau sembari menyeruput minuman kesukaan.

Bagi orang kampung seperti kami—pekerja media dari Mamuju—tak mungkinlah bisa keluyuran di mall luas ini dengan jualan segala rupa bertarif dollar.

Hidangan telah tersaji setelah kisaran 30 menit kami duduk. Dan, sejurus dengan itu, gubernur baru kita Ali Baal Masdar (ABM) muncul dan secara cekatan menyalami kami satu-persatu.

Ali rupanya belum makan malam. Maka untuk beberapa menit kemudian jadilah kami yang tak sampai selusin ini santap hidangan malam bersama.

Setelah itu, wawancara pun berlangsung hangat. Ali atau ABM ini, di Sabtu malam itu tampil sedikit parlente. Sebuah kemeja berwarna merah maron yang dibalut dengan jas hitam. Bawahannya celana kain warna hitam.

Jika tak salah, kaca mata yang dikenakan masih yang itu-itu yang selalu dipakainya waktu kampanye dulu. Pula, jas hitam yang membalut tubuh mungilnya itu, tampak tak baru. Tak tampak mengilap.

Meski tak terkonfirmasi pada Ali, tapi dari terkaan kami jas itu bukan terbuat dari kain wool buatan Itali.

Makan malamnya di Sabtu malam itu, Ali juga duduk di kursi yang sama dan dengan ukuran meja yang sama dengan kami. Meja bundar kecil yang tersusun berbaris itu, seolah masih meja buatan zaman Laksamana Cheng Ho. Atau mungkin pula sudah ada sejak zaman Ratu Wilhelmina. Unik. Putih pekat.

Ali makan malam di meja yang kecil nan unik itu, yang mungkin sengaja dipermak untuk menyerupai zaman peradaban lama. Di malam itu, tak tampak sesuatu pelayanan yang super istimewa untuk gubernur baru kita ini.

Dalam percakapan WhatsApp, seorang teman mengomentari sebuah foto—yang ia lihat di halaman akun facebook Dian Afrianti.

“Celana hitam beliau itu kayaknya agak lusuh bro. Ikat pinggangnya juga biasa-biasaji di,” begitu komentar seorang kawan di Mamuju itu.

Ali kini—mungkin—tengah dalam perjalanan ke Mamuju, ibukota Provinsi Sulbar. sesuai rencana, Senin esok, 15 Mei 2017, Ali akan berkantor untuk kali pertama di Rangas sebagai Gubernur Sulbar yang baru.

Segala rupa agenda telah dibuatkan untuk Ali, dan tentu pula untuk Enny—Wakil Gubernur Sulbar kita yang baru.

Tapi kabar-kabar yang mengasyikkan telah beredar luas di Mamuju, bahkan hingga ke Makassar, Sulsel.

Bahwa, sejumlah warga dari Kecamatan Malunda (Majene) dan Tapalang (Mamuju) akan berjalan kaki secara konvoi menuju Mamuju.

Warga ini, yang notabene adalah pengagum Ali—gubernur kita—akan mulai berjalan kaki seusai shlat subuh di Malunda.

Mereka akan tiba di Mamuju pada sore hari. Ini dalam perkiraan sebab akan menembuh puluhan kilometer.

Informasi ini datang dari sobat kami Huzair Zainal, Koordinator Liputan MNC TV di Sulbar.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR