Air Mata Menitis di Ujung Pengabdian AAS

2061

TRANSTIPO.com, Mamuju – Suara terisak itu tak sampai menitisklan air mata. Tapi dari kelopak matanya yang sembab, jelas benar jika sebelumnya air mata berderai—mungkin—hingga ke pipi.

Muhammadong, pejabat teras Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulbar menyapa kru laman ini persisi di lantai dasar Kantor Gubernur Sulbar pada Rabu sore, 14 Desember 2016.

Lelaki asal Botteng, Mamuju, ini baru saja mengikuti acara ‘perpisahan’ antara PNS di lingkungan Pemprov Sulbar dengan Gubernur Sulbar selama 10 tahun, Anwar Adnan Saleh. Lelaki kelahiran asli Pitu Ulunna Salu, Mandar, ini memimpin Sulbar genap dua periode.

Hari ini (Rabu, 14 Desember, red), jabatan Anwar Adnan Saleh sebagai gubernur benar-benar berakhir. Dari segi waktu, ini sebuah prestasi yang layak dibanggakan.

“Saat hendak mengakhiri nukilannya kepada kami, beliau sempat menyebut nama saya. Saya begitu terharu sappo,” kata Muhammadong kepada laman ini. “Saya bisa begini, dapat jabatan di pemerintahan Sulbar karena beliau,” jujur Madong lagi yang sudah tak kuasa menahan isakannya.

Akhir Pengabdian Anwar-Aladin

Muhammadong telah berlalu. Waktu magrib pun tiba. Sesuai ‘undangan’ dari staf Humas Pemprov Sulbar, jam 5 Rabu sore akan diadakan pertemuan khusus antara Gubernur Anwar denga sejumlah pekerja pers.

Agenda ini batal lantaran Anwar Adnan Saleh masih dikerubungi oleh sekian banyak PNS di Auditorium Kantor Gubernur Sulbar, tempat acara ‘perpisahan’ itu digelar. ‘Anak buah’ gubernur itu secara bergantian foto bersama dengan Gubernur Anwar.

Ba’da magrib, Anwar masih belum bisa bertemu wartawan lantaran TVRI Sulbar telah menyiapkan waktu AAS untuk wawancara khusus. Setelah itu barulah sejumlah wartawan bertemu dengan ‘ikon penting’ Sulbar selama 10 tahun—atau bahkan selama 15 tahun, terhiitung dari sejak perjuangan pra terbentuknya Sulbar di Bumi Mala’biq ini.

Bertepatan 14 Desember 2016 ini (kemarin, red), Anwar Adnan Saleh dan Aladin S. Mengga secara resmi melepas jabatannya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar Periode 2011-2016.

Malam tadi, di rumah jabatan Gubernur Sulbar, konferensi pers digelar. “Bahwa hari Rabu, 14 Desember, sesuai dengan undang-undang, saya resmi mengakhiri masa tugas sebagai Gubernur Sulbar terhitung mulai dari jam 00.00. Saya sangat berbahagia pada hari ini karena pada 14 Desember saya resmi berhenti jadi gubernur,” kata Anwar membuka pembicaraan.

Sesuai dengan aturan perundang-undangan, bahwa tak boleh ada kekosongan pemerintahan. Makanya ditunjuklah Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Sulbar. Plh ini untuk sementara menjalankan roda pemerintahan di Sulbar selama pesta demokrasi (Pilgub Sulbar) berlangsung.

“Harus ada yang ditunjuk untuk melanjutkan pemerintahan ini. pada hari ini saya juga telah menerima surat rekomendasi caretaker. Sekretaris Daerah Sulbar yang ditunjuk oleh Mendagri, yakni Ismail Zainuddin sebagai pelaksana harian Gubernur Sulbar terhitung mulai 14 Desember pukul 00.00 Wita. Sekali lagi bahwa tak boleh ada kekosongan pemerintahan,” urai Anwar semalam.

Menurut Anwar, saya kira Ismail Zainuddin itu sudah bisa menjadi Pelaksana Harian Gubernur Sulbar.

Anwar juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat dan para pejuang pembentukan Sulawesi Barat yang telah mendukung Anwar Adnan saleh selama sepuluh tahun menjalankan roda pemerintahan sebagai Gubernur Sulawesi Barat.

“Saya berterima kasih kepada masyarakat Sulbar yang telah memberikan dukungan pemerintahan saya selama 10 tahun, terutama 5 tahun terakhir. Saya menyatakan bahwa 10 tahun—bahkan sejak ikut memperjuangkan provinsi ini—saya bersama teman-teman hingga menjadi gubernur dengan susah payah membangun provinsi ini,” kata Anwar.

Masih kata Anwar, saya diberi amanah menjadi gubernur definitif pertama di provinsi ke-33 di Indonesia ini. “Saya juga telah bertemu semua pejabat yang ada di Sulbar ini. Saya sampaikan rasa terimah kasih saya atas bantuan dan kerjasama dalam membangun Sulbar ini.”

Anwar mengatakan selama 10 tahun memimpin roda pemerintahan bersama 2 wakil gubernur yang berbeda, telah mampu menjawab hampir keseluruhan permasalahan yang ada di Sulbar.

“Saya sudah maksimal berusaha menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Awalnya daerah kita ini adalah daerah tertinggal, daerah terbelakang, daerah terisolasi. Alhamdulillah setelah 10 tahun saya memimpin pemerintahan bersama dua wakil gubernur yang berbeda, kita telah mampu menjawab hampir keseluruhan permasalahan yang ada. Semuanya sudah hampir terjawab, semua sudah hampir bagus, Polman itu sudah sejahtera. Kita sudah tak lagi terisolasi, terbelakang, dan tertinggal,” kata Anwar.

Dalam hal pengelolaan keuangan daerah, menurut Anwar, Sulbar mendapat peringakat yang sangat memuaskan, dan memperoleh dana intensif terbesar.

“Alhamdulillah juga kita telah berhasil menghadirkan kelembagaan keamanan seperti Korem, Polda, dan tak akan lama lagi kapasitas Angakatan Laut yang akan operasi di sini. Semua yang kita butuhkan akan hadir di sini, di Sulbar ini,” puji Anwar.

Anwar berharap kepada gubernur dan wakil gubernur yang terpilih nantinya, akan melanjutkan pembangunan yang telah dirintisnya.

“Saya sangat lelah menjadi gubernur. Mudah-mudahan apa yang saya letakkan itu, bisa dilanjutkan oleh gubernur yang akan menggantikan saya. Dan, tentunya saya akan melaporkan semua tugas-tugas saya kepada Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Indonesia di Jakarta, dalam waktu dekat ini,” urai Anwar.

Selamat mengakhiri tugas berat bapak Anwar Adnan Saleh. Dalam pena yang mengalirkan tinta sejarah akan terus mengukir indah namamu: ‘Bapak Pembangunan Sulbar’—hingga kapan pun.

ZULKIFLI/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR