Dr. Yakub F. Solon. (Foto: Ist.)

Putra asli Mamasa ini telah kukuh hendak kembali mengabdi di daerah tondok kadadian-nya, di tanah tumpuan berpijak Pemerintahan Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sepekan ini saya sengaja luangkan perhatian berbincang dengan seorang pamong senior yang sehari-harinya adalah tenaga birokrasi di Kantor Pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Perbincangan itu melalui jalur murah meriah dan bebas hambatan. Cukup hidupkan ponsel android lalu buka program aplikasi percakapan maka muncullah simbol WhatsApp. Melalui sarana teknologi terbaru inilah, saya mencoba menyelami figur birokrat senior yang satu ini.

Orangnya bukan berasal dari tempat jauh-jauh amat. Saling bertutur pun tidak begitu ribet sebab kami bisa selingi dengan bahasa ibu—bahasa dari asal muasal di pegunungan Provinsi Sulbar.

Siapa sosok yang saya maksud? Dan, siapa pula YFS itu? Orangnya satu, yakni Yakub F. Solon. Saya sengaja menyingkat namanya seperti pada judul di atas: YFS.

Sebelum mengurai singkat sosoknya, dari sekian kali saya bercakap dengannya ditambah dengan percakapan kami melalui sambungan WhatsApp, saya kemudian menyarikan sebuah kisah pendek yang terjadi sekitar enam tahun lalu.

Ketika itu, ia seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mamasa. Meski ia seorang birokrasi, tapi para sejawatnya di komisioner KPU Sulbar sengaja mengirimnya ke Mamasa sebab satu pertimbangan bahwa Kabupaten Mamasa adalah daerah otonomi baru, maka wajarlah manakala YFS diberi amanah mengisi satu posisi di kepemiluan di Mamasa, pada saat itu.

Satu kisah yang sengaja saya pilih sebagai sebuah plot cerita pendek ini adalah tentang Pilkada Kabupaten Mamasa 2013—kisah yang belum pernah ditulis oleh siapapun sebelumnya.

Dr. Yakub F. Solon (kanan). (Foto: Ist.)

Tak lebih begini kisah YFS. Saya pernah ditawari pak Ramlan untuk berpasangan dalam Pilkada Mamasa pada Agustus 2013. Tapi saya tolak secara baik. Singkat kata, saya kemudian mengajukan nama seorang tokoh muda Mamasa, yang saya tahu pak Ramlan pun kenal betul nama ini. Victor Paotonan (kini telah berpulang).

Dengan segala potensi Victor, tak perlulah saya narasikan kepada beliau. Maka, kesepakatan terbangun, lalu jadilah Victor Paotonan mendampingi Ramlan Badawi sebagai salah pasangan calon di Pilkada Mamasa saat itu.

Waktu bejalan. Dengan Pilkada Mamasa 2013 yang diikuti tujuh pasangan calon. Dan pada hasil akhir dimenangkan oleh pasangan Ramlan-Victor.

Saya sebagai Ketua KPU Mamasa menghadapi banyak tantangan. Pasangan yang kalah melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta. Saya selaku pimpinan komisioner tentu harus pasang badan sebagai “salah satu pihak yang digugat”.

Saya ingat persis selama proses gugatan itu, saya banyak berkoordinasi dengan pak Ramlan dan pak Victor, termasuk pak Anwar Adnan Saleh selaku Gubernur Sulbar saat itu. Ketika itu pak Akil Mochtar sebagai Ketua MK.

Banyak peristiwa tentang ini tapi adinda cukup tahu saja, dan off the record untuk penulisan, ya.

Setelah secara resmi Ramlan Badawi-Victor Paotonan memimpin secara resmi Kabupaten Mamasa sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mamasa periode 2013-2018, saya tetap di KPU Mamasa.

Dr. Yakub F. Solon (di tengah-tengah). (Foto: Ist.)

Pada suatu waktu, di penghujung 2018, pak Ramlan—pula pak Anwar—meminta saya untu bersedia mengabdi di Pemerintahan Kabupaten Mamasa. jika tak salah beliau menyebut akan disiring sebagai sekretaris daerah (Sekda).

Ya, saya sebagai pamong negara, dan juga manusia biasa, tentu tawaran itu saya ucapkan terima kasih—walau tentu kita tak mungkin melangkahi proses seleksi secara benar dan valid.

Walhasil, dan karena bukan rezeki saya, pak Benyamin YD yang dilantik jadi Sekda Mamasa. Tak lama berselang, atas restu pak Anwar, saya kembali ke provinsi dan diposisikan memimpin sebuah SKPD.

Begitulah, YFS berkisah yang kemudian saya olah sedemikian rupa agar terbaca laiknya sebuah hasil reportase bertutur.

Seputar YFS

Nama lengkapnya adalah Dr. Yakub F. Solon, SH, M,Pd. Ia lahir di Mamasa pada 5 Oktober 1965. Mulai sekolah di SD Tawalian, Mamasa (1978), SMP Negeri Mamasa (1982), dan SMA Mamasa (1985).

Memulai karir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada 1988. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi dalam pelbagai jenjang: Diploma tiga (D3) di Universitas Hasanuddin (Unhas) Ujungpadang, 1988. Gelar Sarjana Pedidikan (S1) ia rengkuh di Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, 1997. Sementara gelar Magister (S2) ia peroleh di Universitas Negeri Makassar (UNM) di Makassar, Sulsel, 20017.

Sembari kuliah untuk jenjang S2 di UNM, Yakub F. Solon juga menyempatkan kuliah di bidang hukum di Universitas Satria (Unsat) Makassar, maka dari sinilah ia menyabet gelar Sarjana Hukum (S1). Beberapa tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan untuk jenjang doktoral (S3) di salah sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta: Universitas Persada Indonesia.

Pemilu begitu bekesan bagi YFS. Makanya, tak banyak yang ia ceritakan selain seputar pesta demokrasi lima tahunan itu.

“Saya pernah sudah 15 tahun jadi penyelenggara Pemilu. Saya tahu kemana arah politik dan paham aturan. Juga kita tak takut karena negara di belakang kita. Dan saya bebangga sebab hampir lima ribu penyelenggara Pilkada mulai dari tingkat kabupaten hingga di tingkat desa bekerja secara disiplin dan taat pada aturan yang berlaku.”

Yakub F. Solon ungkapkan begitu sebab ia akui melek betul tentang Pemilu 2009, Pilkada Gubernur Sulbar 2011, dan Pilkada Mamasa 2013. “Banyak suka dan duka yang saya alami selama menjadi penyelenggara pesta demokrasi lima tahunan itu,” katanya pada saya, beberapa waktu lalu.

Tentang Kabupaten Mamasa, katanya, dengan menjadi Ketua KPU Mamasa selama lima tahun itu, saya kian paham akan geografi, geopolitik, dan kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Mamasa. “Apalagi ditambah dengan pengetahuan kita selaku anak daerah,” sebutnya.

Pencalonan Sekda Mamasa 2018

YFS kembali mendaftar menjadi salah satu kandidat calon Sekda Mamasa tahun 2018 ini. Tentang pencalonan Sekda Mamasa ini, saya sempat mewawancarai Plt. Sekda Mamasa saat ini, Frans Kila.

Dokumen panitia seleksi Sekda Mamasa 2018. (Foto: Ist.)

Sejauh mana proses tahapan pencalonan Sekda Mamasa saat ini? Sejak kapan Anda dilantik sebagai Plt. Sekda Mamasa? Sampai kapan Anda menjabat sebagai Plt. Sekda Mamasa? Menurut jadwal dan waktu, kapan kira-kira pelantikan Sekda Mamasa sesuai hasil timsel saat ini?

Pertanyaan yang bertubi-tubi ini saya layangkan kepada bapak Frans Kila. Lalu beliau jawab, “Baik pak. Pencalonan Sekda sudah seleksi berkas. Saya menjabat Sekda Mamasa sejak 14 Agustus 2018, dan selesai sampai ada Sekda definitif. Maaf, kalau pelantikan Sekda baru saya tidak tahu.”

Jika tak salah, terdapat 6 nama pamong senior—5 di antaranya adalah kapasitas Pemkab Mamasa—yang dinyatakan lolos secara administrasi dalam tahapan pencalonan Sekda Mamasa 2018.

Kali ini, saya sudah mengonfirmasi sejumlah hal kepada YFS. Dan, dalam penelusuran yang lain, berdasar informasi tertulis yang dibuat oleh panitia seleksi (Pansel) terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama Sekretaris Daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Mamasa 2018, yang ditandatangani oleh ketua Pansel, Dr. Muhammad Idris, M.Si menyebutkan tentang hasil seleksi administrasi jabatan pimpinan tinggi pratama Sekretaris Daerah lingkup Pemerintah Kabupaten, pada poin 6 disebutkan, jadwal assesment, penulisan makalah dan wawancara akan dilaksanakan mulai tanggal 26 November 2018 sampai selesai, bertempat di Gedung PKP2A II LAN RI Makassar, Jalan Raya Baruga Nomor 48 Antang, Makassar.

Ketika dikonfirmasi kepada YFS, sembari menyunggingkan senyum ia bilang, “Syukur adinda, dalam ujian administrasi sebelumnya, saya beroleh nilai paling tinggi. Doakan, ya.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR