Ali Baal Masdar (dua dari kiri) bersama Basuki Tjahaya Purnama (tiga dari kiri) dan Megawati Soekarnoputeri (kanan) sedang foro bersama di pesawat udara saat mendarat di Kota Surabaya, beberapa waktu lalu. (Foto: Net.)

Faktanya, Pilgub Sulbar benar-benar usai. ABM-Enny unggul 4.615 suara dari rivalnya terdekatnya SDK-Kalma.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tujuh provinsi di Indonesia yang sedang melaksanakan Pilkada serentak, bersamaan dengan 76 kabupaten dan 18 kota di Indonesia. Menarik. Banyak kejutan yang terjadi. Yang menang dan yang kalah terkadang di luar perkiraan publik. Di Banten dan di Aceh, salah satunya.

Jika di Sulbar memang ekspektasi publik sebelum pendaftaran, selama kampanye, dan menjelang pemilihan pada 15 Februari, publik Sulbar telah menaruh harapan pada yang menang saat ini—ABM-Enny.

Pilkada DKI Jakarta yang juga diikuti 3 kontestan—sama dengan yang terjadi di Sulbar—banyak persepsi rasional publik yang terbantahkan. Di saat teman Ahok berhasil mengumpulkan KTP-el untuk Basuki Tjahaya Purnama, yang sedianya akan maju di Pilkada DKI dengan jalur perseorangan, betapa sulitnya menemukan lawan sepadan untuk petahan Gubernur Jakarta ini.

Tapi kemudian, ketika partai politik saling mengelompok dan membentuk 3 peta kekuatan di Jakarta, maka lahirlah 3 pasangan calon dalam kontestan Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pendatang baru di belantika politik Jakarta, Agus Harimurni Yudhoyono dengan menggandeng tokoh ‘Betawi’ Hj Sylviana Murni. Agus – Sylvi lalu berpadu atas usungan Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PPP dengan Nomor Urut 1.

Setelah dipasangkan jaket merah oleh Megawati Soekarnoputeri, Basuki Tjahaya Purnama kemudian mengurungkan niatnya maju di jalur perseorang meski telah mengantongi satu juta lebih KTP—melebihi ambang batas yang dipersyaratkan.

Basuki Tjahaya Purnama sudah mantap dalam dukungan PDIP, Nasdem, Golkar, dan Hanura untuk bersama-sama dengan Djarot Saiful Hidayat. Basuki – Djarot ini memperjelas keduanya sebagai petahana—Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta—maju kembali jadi Cagub-Cawagub DKI Jakarta di Pilkada 2017. Basuki – Djarot mantap untuk Nomor Urut 2.

Penghias panggung politik Jakarta benar-benar nyata ketika Anies Baswedan membelokkan hasratnya dari semula akan kembali ke kampus sejak lengser sebagai menteri menjadi petarung lain di Pilkada DKI Jakarta. Partai Gerindra dan PKS sudah siap mengusungnya.

Dua partai ini lalu memaketkan Anies Baswedan dengan Sandiaga Salahuddin Uno (Anies-Sandi) sebagai pasangan yang dalam perjalanannya memakai Nomor Urut 3.

Di awal, Basuki – Djarot tetap melambung, ini hasil rilis dari sejumlah lembaga survei di Jakarta. Sayang, di Pulau Seribu—tempat yang ternyata tetap dimenangkan pasangan ini tatkala pencoblosan telah tiba—Gubernur Basuki “cedera”. Tuduhan penodaan agama kian massif yang dibuktikan dengan sekian kali demo besar-besaran oleh sejumlah orang di Indonesia.

Elektabilitas Basuki kemudian turun sekali, tentunya pasangan nomor dua ini mengalami nasib serupa. Melompatkan cerita, dari asumsi Basuki – Djarot akan tamat dalam Pilkada DKI Jakarta, toh saat pencoblosan yang disusul perhitungan suara yang sudah 100 persen, Basuki – Djarot mengungguli kedua rival itu.

Rinciannya: Nomor Urut 1 Agus – Sylvi beroleh 17.05 persen (936.609 suara). Nomor Urut 2 Basuki – Djarot beroleh 42.91 persen (2.357.609 suara). Nomor Urut 3 Anies – Sandi beroleh 40.05 persen (2.200.636 suara). Jumlah pemilih di Pilkada DKI Jakarta 2017 sebanyak 7.218.279 dengan pengguna hak pilih sebanyak 5.563.425 suara. Adapun suara sah sebanyak 5.465.598 suara dengan partisipasih pemilih 77.1 persen.

Dengan hasil ini, Basuki – Djarot ungguli Anies – Sandi dengan selisih 156.973 suara. Kedua paslon ini akan bertarung pada putaran kedua, 19 April nanti. Di Sulbar, tak ada putaran kedua. Memang dalam aturan bahwa hanya DKI Jakarta yang kemenangan dalam Pilkada harus mencapai 50 persen plus 1.

Tiga pasangan calon yang bertarung di Pilkada Sulbar 2017, yakni SDK-Kalma (1) dengan perolehan suara 38.03 persen atau 239.418 suara, Salim-Hasan (2) dengan perolehan suara 23.20 persen atau 146.059 suara, dan ABM-Enny (3) dengan perolehan kemenangan suara 38.77 persen atau 244.033 suara.

ABM-Enny unggul dengan selisih suara dari pemenang kedua sebanyak 4.615. Jumlah ini diketahui dari perhitungan portal resmi KPU di kisaran total 99.56 persen.

Kemenangan ini sudah tak akan berubah hingga perhitungan resmi 100 persen.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR