7 Pulau Tak Berpenghuni, Parman Parakkasi: Dicanangkan Jadi Lahan Konservasi

854

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) mencanangkan tujuh pulau yang akan dijadikan sebagai lahan konservasi.

Dicanangkannya tujuh pulau yang ada di Sulawesi Barat ini, sesuai dengan arahan dan permintaanan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Ditemui, saat menghadiri acara penandatangana MoU Pemerintah Sulawesi Barat dengan Universitas Negeri Makassar, Parman Parakkasi, Kepala Dinas Kalautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Barat, membenarkan ada tujuh pulau yang akan dijadikan sebagai lahan konservasi, Senin, 22 Januari 2018.

“Tujuh pulau di Sulawesi Barat akan kita canangkan jadi lahan kawasan konservasi,” sebut Parman Parakkasi.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu dirinya bertemu dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Kata Parman, Ibu Menteri minta agar Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar menyediakan beberapa pulau di Sulawesi Barat yang dapat dijadikan sebagai lahan konservasi.

“Kita merespon baik hal itu,” aku Parman.

Sebagai komitmen kita, yang tidak hanya memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan saja, tapi pemerintah juga akan memerhatikan bagaimana melindungi dan merawat pulau-pulau kita sehingga kita akan mengusul tujuh pulau ini untuk dijadikan sebagai lahan konservasi.

“Dengan dicanangkannya sebagai lahan konservasi, maka akan mendatangkan kesehatan dan kebersihan pulau itu sendiri,” sebut Parman Parakkasi.

Dari tujuh pulau yang akan dicanangkan menjadi lahan konservasi yang tidak berpenghuni ini, sebut Parman, di antaranya: Pulau Panampeang, Pulau Landea, dan Pulau Dea-Dea (Pulau Kucing).

“Ketiga pulau ini berada di Kabupaten Polewali Mandar (Polman),” sebut Parman lagi.

Masih Parman Parakkasi, sedangkan empat pulau lainnya ada di Kabupaten Mamuju, terletal di Pulau Bala-Balakang, di antaranya: Pulau Kamariyang Besar, Pulau Kamariyang Kecil, Pulau Sumanga Besar, dan Pulau Sumanga Kecil.

“Ketujuh pulau ini—di Polewali Mandar dan Mamuju—tidak dihuni oleh manusia,” tutup Parman Parakkasi.

ARISMAN SAPUTRA

TINGGALKAN KOMENTAR