Rayu, Anggota DPRD Sulbar dari PDI-P (kanan, batik merah) ketika berdiskusi dengan sejumlah wartawan di Cafe Hero, Mamuju, Rabu sore, 28 September 2018. (Foto: Sarman SHD)

Selamat Haul Rayu ke-49, 28 September 2016. Dirayakan dalam bentuk ngopi bareng dengan wartawan. Diskusi santai tentang harga sawit.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Rayu, kerap kali bikin kejutan. Kali ini, politisi PDI-P Sulbar ini bilang, “Dinda, setiap bulan uang petani diambil oleh perusahaan sawit. Ini berlangsung sudah puluhan tahun di Sulbar,” kata Rayu kepada sejumlah wartawan di Cafe Hero, Mamuju, Rabu sore, 28 September 2016.

Rayu memang getol memperjuangkan harga sawit milik petani di Sulbar. Menurut Anggota DPRD Sulbar ini, kita terus berjuang agar perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Sulbar ini mau beli buah sawit petani secara wajar. Dalam artian, minimal sama dengan harga yang ada di Sumatra atau Kalimantan.

Mengapa mesti sama? “Ya, kan perusahaan tak perlu keluar ongkos angkut yang besar lagi. Di Matra kan sudah ada pabrik pengolahannya. Seandainya harus dikirim ke Kalimantan atau ke Sumatra, ya harga beli bisa ditekan sedikit,” urai Rayu.

Rayu (kanan), berulang tahun ke-49 hari ini, Rabu, 28 September 2016. (Foto: Sarman SHD)
Rayu (kanan), berulang tahun ke-49 hari ini, Rabu, 28 September 2016. (Foto: Sarman SHD)

Rayu menyebut bahwa harga TBS dibeli sangat murah, hanya Rp 1.271 padahal di Kalimantan dan Sumatra harga TBS petani Rp 1.700. “Saya duga ada permainan harga oleh perusahaan.  Selisih harga jual TBS itu menurut Rayu terlalu jauh sehingga patut diduga ada permainan harga oleh perusahaan sawit yang ada di Sulbar ini,” urai Rayu.

Rayu coba menghitung. Jika selisih harga antara Kalimantan dan Sumatra dengan harga yang ada di Sulbar, katakanlah Rp 300 saja, “Maka itu bisa menghasilkan sekitar Rp 50 miliar setiap bulan. Artinya, uang petani lari ke perusahaan sekitar Rp 50 miliar setiap bulan. Kali miki’. Ini sudah berlangsung puluhan tahun dinda,” jelas Rayu.

Laman ini kemudian berasumsi, dipersepsi dari apa yang dikemukakan oleh Rayu. Misalnya, jika Rp 50 miliar itu dalam sebulan—maksudnya dugaan uang milik petani yang ‘diambil’ perusahaan sawit—dikasi 10 tahun saja, maka asumsinya, uang petani yang ‘lari’ ke perusahaan sawit sekitar Rp 6 triliun. Bagaimana jika dikalikan dengan 20 tahun? Anda bisa hitung sendiri.

Yang jadi bikin janggal soalnya, menurut Rayu, sebab ketika diminta dokumen kepada perusahaan tentang dasar-dasar mereka menetapkan harga TBS, dan dokumen persyaratan lainnya, mereka (perusahaan, red) tidak mau kasi.

Wawan Dinawan, salah seorang ‘orang dalam’ salah satu perusahaan sawit di Sulbar, ketika laman ini konfirmasi lewat nomor ponselnya, beberapa menit lalu, dijawab, “Saya pindah ke Jambi pak sarman.” (sarman maksudnya adalah Sarman SHD—kru laman ini).

Inilah semua yang membuat Rayu berang—alias, selalu marah jika berbincang soal harga TBS di Sulbar ini. Tak salah jika kemudian, Rayu digelari “pejuang harga sawit petani” di Sulbar ini. Kesempatan berikutnya, masih akan tersaji tulisan sekaitan dengan harga sawit.

RISMAN SAPUTRA/ANDI ARWIN/SARMAN SHD

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR