(Ki-Ka) Abubakar Kadir (ABK), Rudi Alfonso, Setya Novanto, dan Andi Ibrahim Masdar (AIM) ketika bersama-sama di Jakarta, beberapa hari lalu. (Foto: Ist.)

Jika Golkar andai seberkas cahaya di pagi yang terang, ‘pendulum’ di Pilkada bagai laron-laronnnya.

Para pencari selembar ‘surat kuasa’, tampak di mana-mana.

Masih ingat surat rekomendasi ‘copy paste’—kop atas dan judulnya tepat—tapi sebutan klausul pengguna di Pilkada pada sebuah kabupaten kita yang keliru? Digugat kemudian, tapi “anjing menggonggong kafilah berlalu”.

Bayangkan saja. Di Kantor DPP Golkar sana, menyemut pendulum pencari surat rekomendasi itu.

Tabrak sana tabrak sini. Loby super ketat. Jadinya, administrator terkadang keliru. Bukan sengaja salah, tapi aura dan daya mejik figur tampak hampir selalu sama: membawa maskot sebagai ‘utusan’ DPD terkuat dengan jaminan sebongkah ‘modal kost’ politik mengerek proses laga hingga usai.

Beringin masih lebat daunnya. Dan, kuat akarnya?

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia tahap pertama dilaksanakan pada 9 Desember 2015. Hal ini merupakan perintah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015, tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung tahun 2015.

Pada Pilkada tahap pertama 2015 digelar di 269 daerah di Indonesia, rinciannya 8 provinsi, 170 kabupaten, dan 26 kota.

Perhelatan Pilkada tahap kedua berlangsung pada 15 Februari 2017. Digelar di 101 daerah, masing-masing 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota.

Pilkada tahap pertama di 2015 menjadikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai jawara. Partai besutan Megawati Soekarnoputeri ini meraih kemenangan jauh di atas partai-partai lainnya yang mengusung kader atau figurnya dalam Pilkada kala itu.

Berikut urutan partai pemenang Pilkada 2015:

(1) PDIP 119 kemenangan, (2) Partai Nasdem 99 kemenangan, (3) Partai Gerindra 91 kemenangan, (4) PAN 86 kemenangan, (5) PKS 85 kemenangan, (6) Partai Demokrat 83 kemenangan, (7) PKB 72 kemenangan, (8) Partai Hanura 70 kemenangan, (9) Partai Golkar 52 kemenangan, (10) PKPI 38 kemenangan, (11) PBB 35 kemenangan, (12) PPP 28 kemenangan, dan (13) Independen 12 kemenangan.

(Dikutip dari WWW.BATAMNEWS.CO.ID, Kamis, 2 Maret 2017. Catatan: saat tulisan ini dibuat, hitung cepat KPU RI belum rampung 100 persen)

Hasil Pilkada di atas tentu tak mengenakkan bagi Golkar. Berada di urutan sembilan dari dua belas partai politik yang menjadi pemain utama dalam penentuan peserta Pilkada, justru menjadi cambuk serius bagi partai berlambang pohon beringin ini.

Hanya setahun lebih kemudian, atau ketika digelar Pilkada tahap kedua pada 15 Februari 2017, Partai Golkar berhasil menggeser PDIP dan menempatkan partai yang dipimpin Setya Novanto ini sebagai pemenang Pilkada dengan 54 kemenangan.

Berikut urutan partai pemenang Pilkada 2017:

(1) Partai Golkar 54 kemenangan, (2) Partai Nasdem 47 kemenangan, (3) Partai Demokrat 45 kemenangan, (4) PDIP 45 kemenangan, (5) Partai Gerindra 40 kemenangan, (6) PKB 40 kemenangan, (7) PKS 39 kemenangan, (8) PAN 39 kemenangan, (9) Partai Hanura 35 kemenangan, (10) PPP 26 kemenangan, (11) PBB 11 kemenangan, dan (12) PKPI 3 kemenangan. (Sumber: www.kompasiana.com, Februari 2017)

Golkar belajar dari kekalahannya di Pilkada 2015. Justru PDIP mengalami ‘nasib tragis’ pada Pilkada 2017 lalu, dengan terjun ke posisi ketiga—di bawah torehan kemenangan Partai Demokrat.

Tapi Partai Nasdem tetap ‘jawara’—bertahan di posisi kedua di dua kali Pilkada, 2015 dan 2017.

Entahlah. Dari sinilah mungkin Andi Ibrahim Masdar (AIM) membacanya. Bahwa Partai Golkar tak bisa dipandang sebelah mata dalam gelaran pertarungan politik di Indonesia.

Di tengah ruwetnya banyak soal yang dihadapi, dan badai datang seolah tanpa henti menghunjam tubuh partai ini, toh ia tetap mampu bangkit dan jadi pemenang—untuk satu momentum tentunya.

Berseteru dengan partai yang membesarkannya—dan yang ia besarkan kemudian, dalam region Polman tentunya—tak membuat AIM lupa daratan. Ia kembali. Dan, Partai Nasdem Sulbar yang dipimpinnya sejenak ia tinggalkan. Hanya AIM dan Abdul Rahim yang tahu, pula dengan Surya Paloh?, ‘big boss’ partai ini.

Di belakang layar entah apa yang terjadi. Biasanya selalu lebih jernih dari fakta yang tampak secara kasat.

Keyakinan AIM untuk dapat rekomedasi dari DPP Golkar, hal itu sudah diumbar jauh hari sebelum ‘surat kuasa’ itu benar-benar ada di genggaman. Itu soal kecil. Malah AIM over confidence, makanya pernah ia bilang, “DPP minta saya pimpin Golkar.”

Maunya AIM, begitu pula dengan Ramlan Badawi (RB) di Mamasa. RB pernah merasakan nikmatnya ‘bulan madu’ dengan Golkar Mamasa.

Menghadapi Pilkada Mamasa 2018, RB—petahana—sepertinya menghitung tak valid kekuatan tanpa dukungan resmi Golkar—partai pemenang Pileg 2014 di Mamasa.

Bagi AIM dan RB, kemenangan Pilkada seolah ada pada rekomedasi partai. Padahal itu hanya bagian dari syarat pencalonan beroleh dukungan partai politik. Tapi RB, juga AIM, tahu persis ‘senjata’ politik Golkar dalam sebuah kompetisi.

Keinginan RB “yang tersembunyi” sesungguhnya adalah ingin genggam Golkar di Mamasa. Dan sebetulnya—jika analisis sumber laman ini benar—penyatuan Golkar dengan RB di Pilkada kali ini adalah jalan pembuka menuju pucuk pimpinan DPD di Mamasa. Tak lupa dikecualikan, jika Pilkada Mamasa dia menangkan.

Di Polman, AIM pun sejurus dengan itu.

Sekadar bacaan ringan di Kamis malam yang masih dilumuri rintik dan tampak temaran dalam kota Mamuju.

TABE’

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR