Bendungan Ladongi di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). (Foto: Biro Pers Setpres)

TRANSTIPO.com, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) saat ini tengah berupaya keras menyelesaikan 34 bendungan yang tersebar di berbagai Provinsi di Indonesia.

Bendungan-bendungan tersebut merupakan bagian dari program pembangunan 65 bendungan Kementerian PUPR tahun 2015-2019 dalam rangka mendukung Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla dalam mewujudkan ketahanan pangan dan air nasional.

Hingga pertengahan 2018, tercatat sebanyak 9 bendungan telah berhasil diselesaikan. Bendungan tersebut yakni, Bendungan Paya Seunara dan Bendungan Rajui di Provinsi Aceh, Bendungan Bajul Mati dan Bendungan Nipah di Provinsi Jawa Timur, Bendungan Titab di Provinsi Bali, Bendungan Jati Gede di Provinsi Jawa Barat, Bendungan Tritip di Provinsi Kalimantan Timur, Bendungan Raknamo di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Bendungan Tanju di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Total tampungan 9 bendungan tersebut mencapai 1.035 m3.

Sementara itu, salah satu bendungan yang tengah dikerjakan adalah Bendungan Ladongi yang berada di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Bendungan yang dimulai pembangunannya pada Januari 2017 memiliki kapasitas tampung cukup besar yakni 45,94 juta m3 atau 2,5 kali dari kapasitas Bendungan Tanju di Nusa Tenggara Barat sebesar 18 juta m3, yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 30 Juli 2018.

Bendungan Ladongi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sedang dikerjakan. (Foto: Biro Pers Setpres)

Bendungan ini menahan aliran Sungai Ladongi yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Nantinya akan mengairi areal sawah dengan layanan irigasi seluas 3.604 hektar secara kontinu sehingga diharapkan produktivitas lahan pertanian meningkat dan pendapatan petani lebih besar dalam satu tahun.

Selain dinikmati petani, Bendungan Ladongi juga menjadi sumber air baku sebesar 0,12 m3/detik, pembangkit energi listrik sebesar 1,3 MW, serta mengurangi banjir dengan volume 99.704 m3/detik. Bendungan Ladongi juga potensial untuk dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Kolaka Timur.

“Hingga 15 Juli 2018, progresnya fisiknya kini telah mencapai 32 persen. Dalam pembangunan bendungan, kendala adalah cuaca. Pada saat cuaca sedang cerah, kami maksimalkan dengan penambahan shif kerja sehingga bisa selesai lebih cepat yakni pada bulan Desember 2019 dari target awal selesai tahun 2020,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari Eka Nugraha Abdi beberapa waktu lalu.

Bendungan Ladongi merupakan bendungan tipe urugan batu dengan tanah lempung, demikian informasi yang diterima dari Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR.

Konstruksi dilakukan oleh kontraktor BUMN PT.Hutama Karya dengan kerja sama operasi (KSO) bersama kontraktor swasta nasional yakni PT. Bumi Karsa. Biaya pembangunan bendungan ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) multiyears tahun 2016-2020 sebesar Rp 844 miliar.

Selain Bendungan Ladongi, terdapat empat bendungan lainnya yang tengah dikerjakan Kementerian PUPR di Pulau Sulawesi yakni Bendungan Kuwil Kawangkoan dan Lolak di Sulawesi Utara dan Bendungan Karalloe, Pamukkulu dan Paselloreng di Sulawesi Selatan.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR