Presiden Joko Widodo bersama sejumlah bupati di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 5 Juli 2018. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo ingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

TRANSTIPO.com, Bogor – Presiden Joko Widodo bertemu sejumlah bupati di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 5 Juli 2018. Para bupati dari berbagai daerah ini diterima oleh Presiden dalam dua sesi, pagi dan sore.

Sebanyak 23 bupati diterima Presiden pukul 10.00 WIB. Sementara pertemuan sore hari dimulai pukul 16.00 WIB dan diikuti 18 bupati.

Setelah bersalaman dan berfoto bersama di teras Istana, Presiden kemudian mengajak para kepala daerah ini masuk ke Ruang Garuda untuk berbincang-bincang.

“Ini undangan khusus kepada Bapak Ibu Bupati, saya memang ingin mengundang dalam forum-forum yang lebih kecil seperti ini, sehingga lebih bebas untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan di daerah,” kata Presiden membuka pertemuan.

Foto bersama 23 bupati di Indonesia dengan Presiden Joko Widodo di depan Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 5 Juli 2018. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Dalam arahannya Presiden yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, menyampaikan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Presiden mengatakan ingin agar pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota betul-betul satu garis lurus.

“Setiap kebijakan di pemerintah pusat harus bisa dikerjakan secara sinergi bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten,” ucapnya.

Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Presiden Joko Widodo ‘bercengkerama’ dengan sejumlah bupati di salah satu ruang pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 5 Juli 2018. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Pada kesempatan yang sama, Presiden juga menyampaikan hal yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Presiden menuturkan bahwa situasi ekonomi dunia sekarang penuh dengan ketidakpastian dan sulit dikalkulasi.

“Saya kira Bapak Ibu Bupati juga merasakan betapa ketidakpastian ekonomi dunia itu betul-betul sulit dikalkulasi dan sulit dihitung,” katanya.

Walaupun demikian, Presiden mengatakan, Indonesia harus tetap bersyukur karena pertumbuhan ekonominya masih tumbuh 5 persen lebih.

Presiden mencontohkan negara-negara lain juga mengalami penurunan dalam pertumbuhan ekonominya.

Presiden Joko Widodo sarapan bersama dengan sejumlah bupati di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 5 Juli 2018. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

“Misal kayak China, Tiongkok, itu turun dari 11 persen, dari 10 persen, langsung anjlok posisi 6,5 persen. Ini betul-betul sebuah pukulan yang sangat berat bagi negara itu,” ujarnya.

Presiden pun berharap, demikian rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, pertumbuhan ekonomi bisa menjadi sebuah pertumbuhan yang berkualitas.

“Tapi apapun yang terjadi kita ingin agar pertumbuhan ekonomi kita merupakan pertumbuhan yang berkualitas sehingga fundamental ekonomi kita, fondasi ekonomi kita kuat,” imbuhnya.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR