Walikota Jeonju Choi Jeong Ho (kiri) dan Ketua PWI Sulbar Naskah M. Nabhan. (Foto: Ist.)

Laporan langsung Naskah M. Nabhan dari Seoul, Korea Selatan.

Pada gambar di atas tampak benar jika seorang pejabat eksekutif negara di Korea Selatan laiknya seorang akademikus tulen: meja kerja penuh buku, dan kursi untuk duduk pun tak ada.

Sebuah fakta tentang Korea yang maju—dari bidang intelektual pun.

TRANSTIPO.com, Seoul – Lawatan Delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke Seoul, Korea Selatan, dijadwalkan selama sepekan, 14-20 Desember 2017. Setiba di Bandara Internasional Incheon, kami langsung menuju Istana Gyeongbok.

Sejumlah wartawan Korea yang tergabung dalam Journalist’s Association of Korea (JAK) menjemput kami di bandara. Tour guide atau pemandunya adalah Agnes. Gadis Korea yang sangat fasih bahasa Indonesia. Agnes pernah sekolah di Indonesia, tepatnya di SD hingga SMA di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Agnes pun langsung mengarahkan Delegasi PWI yang berjumlah 11 orang naik bus. Saya bersyukur karena termasuk salah seorang delegasi yang diundang—dalam kapasitas sebagai Ketua PWI Sulawesi  Barat (Sulbar). Rombongan PWI ini dipimpin oleh Sekjen PWI Pusat Hendry Ch. Bangun.

Selain saya, JAK juga mengundang Ketua PWI Sumatera Utara Hermansjah, Ketua PWI Jambi Saman Muraki, Ketua PWI Jogjakarta Sihono, Ketua PWI Solo Anas Syahirul Alim, dan Ketua PWI Kalimantan Barat Gusti Yusti Ismail.

Bagi saya, ini adalah kunjungan kedua di negara ginseng ini. Pertama kali saya mengunjungi Korea Selatan (Korsel) bersama rombongan Fajar Grup pada bulan Maret tahun lalu.

Tapi kali ini suhu lebih dingin. Sewaktu keluar bandara pagi hari suhu minus sembilan derajat celcius. Tidak mengherankan bila selama perjalanan menuju Istana Gyeongbok tampak salju yang sudah membeku.

Setiba di Istana Gyeongbok yang terletak di sebelah utara Kota Seoul (Gangbuk), mobil bus pun parkir. Kami lalu berjalan melewati pintu gerbang Gwanghwamun, pintu gerbang utama di bagian selatan istana.

Istana Gyeongbok memiliki Gyeonghoeru sebagai paviliun. Lokasinya berada dalam sebuah pulau kecil buatan di tengah danau.

Ada pula Hyangwonjeong. Paviliun private Raja yang juga dikelilingi kolam cantik. Berada di tempat ini berkesan sangat tenang dan damai. Hanya saja, saya melihat air kolamnya membeku sehingga terlihat kaku.

Yang patut dicontoh, di kawasan Istana Gyeongbok sama sekali dilarang merokok. Tentu para ‘ahli hisap’ atau perokok harus patuh. Sebab sejumlah penjaga selalu mengawasi para tamu.

Memang, Pemerintah Metropolitan Seoul  mengeluarkan aturan ketat mengenai larangan merokok di sembarang tempat. Pelanggar akan dikenakan denda sebesar 85 dollars atau Rp 1,1 juta.

Dari wikipedia disebutkan, Istana Gyeongbok—bangunan aslinya—didirikan tahun 1394 oleh Jeong do Jeon, seorang arsitek. Istana ini hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598. Istana ini dibangun kembali selama tahun 1860-an dengan 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar.

Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi. Istana Gyeongbok adalah simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea. Pada tahun 1911, pemerintahan Jepang yang sedang menjajah Korea menghancurkan semua bangunannya kecuali 10 bangunan utama.

Banyak rakyat Korea yang berharap pemerintahnya dapat mengembalikan bentuk asli istana ini. Berkat kerja keras arkeolog, 330 bangunan berhasil dibangun kembali.

Mengunjungi Istana Gyeongbok akan membuat kita terkagum. Apalagi istana ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Kota Seoul.

Demokrasi Indonesia dinilai semakin baik

Salah satu agenda penting Delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah pertemuan dengan pengurus Journalist’s Association of Korea (JAK).

Pada pertemuan khusus Sekjen PWI Pusat Hendry Ch. Bangun dan Presiden JAK Jung Kyusung membicarakan sejumlah agenda penting. Pertemuan di Hotel Presiden, Seoul, Jumat pagi, 15 Desember.

Salah satu agenda penting adalah penguatan kerjasama yang telah terbangun selama lima tahun. Baik PWI maupun AJK sudah saling mengunjungi.

Hendry pun mempromosikan 15 kemasan beberapa merek kopi dari berbagai provinsi. Memang Korea termasuk salah satu negara potensial untuk ekspor kopi. Sebagian masyarakat Korea termasuk penikmat kopi.

Hendry Ch Bangun yang juga Anggota Dewan Pers pun mengajak agar JAK melakukan kunjungan balasan ke Indonesia. Termasuk undangan untuk menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN )di Padang, Sumatera Barat, 9 Februari 2018.

Terkait hubungan kerjasama tersebut, Jung Kyusung pun menyatakan apresiasi atas hubungan PWI dan JAK yang berjalan baik. Saling mengunjungi adalah upaya untuk tetap menjaga hubungan baik.

Jung Kyusung juga menyatakan salut atas perkembangan demokrasi di Indonesia. Demokrasi di Indonesia adalah bagian penting untuk membangun kerjasama.

Sebelumnya, pada Kamis malam, pengurus AJK menjamu delegasi PWI pada jamuan makan malam di Hotel President. Wakil Presiden JAK, Choi Woosuk, yang menerima rombongan.

Coi Woosuk termasuk salah satu wartawan Korea yang paham tentang Indonesia. Dia pernah mewawancara Presiden Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Megawati Soekarnoputri.

Dalam diskusi dengan hidangan kuliner ala chef kelas satu, Choi Woosuk juga mengaku kagum dengan demokrasi Indonesia yang aman dalam transisi kepemimpinan.

Demokrasi Indonesia yang semakin baik juga menjadi modal untuk pertukaran wartawan selama beberapa tahun ini. “Pertukaran wartawan penting untuk berbagi pengalaman dan memahami masing-masing bangsa,” ujar Choi yang panggilan akrabnya Kenneth ini.

Untuk hubungan kerjasama, JAK yang beranggotakan 10 ribu dengan PWI yang beranggotakan 15 ribu dan terbesar di Indonesia memang diharap tetap berlangsung positif.

Kemarin, delegasi PWI juga mengunjungi kantor Harian Hankook Ilbo. Koran berbahasa Korea ini setiap edisi dicetak sebanyak 230 ribu eksamplar.

Termasuk mengunjungi kantor Harian AJU. Media berbahasa Korea dan Mandarin ini sudah berusia 10 tahun. Grup media ini akan melakukan ekspansi bisnis hingga asia tenggara, termasuk di Indonesia.

3.000 perusahaan Korea investasi di Indonesia

Delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang melakukan lawatan ke Korea Selatan mengunjungi Kantor Kedutaan Besar RI di Seoul. Rombongan diterima Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi, Jumat, 15 Desember.

Sekretaris Jenderal PWI Hendry Ch. Bangun yang memimpin rombongan menyampaikan beberapa agenda dan misi kunjungan kepada Dubes Umar Hadi.

“Kami sudah mengadakan pertemuan dengan Presiden JAK (Journalists Association of Korea) Jung Kyusung. Mengunjungi Kantor City Hall Seoul, Kantor Surat Kabar Hankook Ilbo dan Jun Business Daily,” ujar anggota Dewan Pers ini.

Selain mempererat hubungan, PWI juga mengemban misi mempromosikan kopi asli Indonesia. PWI membawa sejumlah sampel kopi kemasan sekaligus sebagai cinderamata.

Hendry juga memperkenalkan rombongan PWI dari Indonesia. Dubes Umar Hadi yang didampingi Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya dan Diplomasi KBRI Seoul, Aji Surya menyambut baik kedatangan Delegasi PWI. Apalagi lawatan kali ini juga membantu pemerintah mempromosikan kopi asli Indonesia.

Menurut Umar Hadi, dalam membangun hubungan antarnegara dibutuhkan diplomasi secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk wartawan dan media.

Dukungan media sangat penting untuk meningkatkan citra pemerintah utamanya terkait dengan stabilitas nasional dan iklim investasi. “Khusus hubungan Indonesia dan Korea Selatan, hingga saat ini masih berjalan dengan baik. Kita menganut prinsip-prinsip universal yang sama sebagai negara demokrasi,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu juga terungkap bila investasi Korea Selatan di Indonesia sangat tinggi. Hanya kalah dari Vietnam. Di Indonesia, investasi Korea Selatan sudah melibatkan hingga 3.000 perusahaan. Jumlah tenaga kerja terserap mencapai satu juta.

Iklim investasi di Indonesia diharap bisa tetap bertumbuh. Apalagi setelah produsen mobil Hyundai membangun pabrik di Karawang, Jawa Barat. Perusahaan ini menyerap 1.000 tenaga kerja.

Untuk investasi di bidang kosmetik, Korea Selatan kini mengembangkan masker dari sarang burung walet sebagai produk halal bagi umat Muslim. Sebab tidak dapat dipungkiri bila banyak produk kosmetik Korea Selatan yang tidak layak dipakai umat Muslim.

Terkait investasi kopi, mantan Konsul Jenderal RI di Los Angeles (2014-2017) dan Wakil Dubes RI di Den Haag (2009-2012) ini melanjutkan bahwa KBRI Seoul juga tengah gencar mempromosikan kopi Indonesia.

Dalam pertemuan dengan investor Korea Selatan yang berminat pada kopi Indonesia baru-baru ini, Umar Hadi mengajak kalangan investor Korea Selatan untuk melihat produksi kopi dari sudut pandang yang lebih luas.

Umar Hadi juga mengatakan, salah satu hal yang sering dijadikan alasan pihak investor yang ingin mengembangkan industri kopi di Indonesia adalah soal-soal teknis. Misalnya tentang roasting atau penggorengan biji kopi yang bisa mengurangi usia produk kopi.

Menurutnya, ini alasan yang terlalu dibuat-buat. Dia yakin, ada teknologi untuk memperpanjang usia produk biji kopi setelah diolah di Indonesia. Dia mencontohkan, Italia yang walau tidak punya sebatang pohon kopi namun bisa mengekspor kopi ke banyak negara di dunia.

NASKAH M. NABHAN

TINGGALKAN KOMENTAR