Kapsul Waktu yang dipegang oleh tiga orang Staf Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Mamuju, 21 September 2015. (Foto: Humas Pemprov Sulbar)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Ekpedisi Kapsul Waktu adalah program Sekretariat Negara RI. Aspirasi kaum muda di 34 provinsi di Indonesia dikumpulkan dan akan disimpan dalam sebuah tabung yang diberi nama Kapsul Waktu.

Kapsul Waktu adalah sebuah benda tempat mengumpul hasil serapan aspirasi pemuda Indonesia ini akan disimpan di Merauke, Papua, dan dibuka 70 tahun kemudian atau pada 2085.

Tim Ekspedisi Kapsul Waktu telah bergerak untuk menjaring aspirasi pemuda. Dalam waktu tak lama, aspirasi pemuda Sulawesi Barat akan dimasukkan dalam Kapsul Waktu itu.

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya.” Lirik lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Giring, vokalis Band Nidji. Ya, semua dimulai dengan mimpi. Rhenald Kazali, pakar ekonomi UI, juga kerap bilang, “Bermimpilah sebelum memulai sesuatu.” Lebih-lebih lagi Mario Teguh. Salah satu inspirator Indonesia ini menekankan kepada setiap generasi untuk bermimpi. Di belahan dunia lainnya, Qatar, Korea, Jepang, Uni Emirat Arab bisa maju lantaran kekuatan mimpi para pemimpinnya.

Konon, para bos Mercedes Benz pun memulai mimpi sebelum memproduksi mobil-mobil super canggih. Hasil mimpi itulah yang diterjemahkan para menejer lalu diturunkan kepada sejumlah insinyur di perusahaan itu.

Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Jumat, 16 November 2018. (Foto: Biro Pers Setpres)

Wujudkan impianmu. Begitulah petuah yang kerap kita dengar di ruang-ruang seminar motivasi. Rudi Hartono sebagai pemain bulutangkis legendaris dunia. Profesor Yohannes Surya adalah ahli fisika dari Indonesia yang dikagumi di Amerika. Iphho Santosa, seorang anak muda yang belum genap 40 tahun, tapi ia mampu menulis beberapa judul buku yang dibaca lebih 1 juta warga di empat benua. Kolonel Sanders, pemilik hak paten Kentucky Fried Chicken (KFC) dari Amerika, adalah salah satu contoh paling absah seorang kakek paling pemimpi di dunia. Hampir seluruh Negara di jagat ini sudah menikmati racikan ayam goreng sang kolonel berjenggot itu. Karya besar mereka itu lahir dari mimpi. Yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah produk yang realistis.

Mimpi bukanlah bunga-bunga tidur. Itu semacam halusinasi dalam alam bawah sadar manusia. Betapa manjurnya atau dahsyatnya mimpi, sampai-sampai satu kata yang terdiri dari lima huruf itu menjadi salah satu agenda nasional, sejak dini hingga di masa datang.

Ekspedisi Kapsul Waktu (EKW) nama kegiatan itu. Perjalanan EKW akan melintasi 34 provinsi di Indonesia. Mimpi warga Indonesia dijaring mulai dari titik NOL di ujung barat Indonesia, di Kabupaten Sabang, Provinsi Nangroe Atjeh Darussalam (NAD), dan berakhir di ujung timur Indonesia, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua pada 21 Desember 2015 nanti. Persepsi tentang mimpi anak Indonesia itu dimasukkan dalam Kapsul Waktu lalu ditanam pada sebuah monumen di Merauke, Papua. Kapsul Waktu itu akan dibuka 70 tahun kemudian atau pada 2085.

Ekspedisi Kapsul Waktu akan melintasi Provinsi Sulawesi Barat pada 26-29 November nanti. Tim ekspedisi ini akan merangkum mimpi-mimpi warga Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju Tengah, dan Kabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu).

Seorang pemudi Mamuju tengah mengisi biodata dalam acara Ekspedisi Kapsul Waktu di Lapangan Merdeka Mamuju, Senin, 21 September 2015. (Foto: Humas Pemprov Sulbar)

Selain kata-kata mimpi 70 tahun Indonesia Mereka menuju 70 tahun Indonesia kemudian, juga akan ada beberapa kegiatan. Koordinator Panitia EKW Sulawesi Barat, Irvan Basri, lebih awal datang ke Mamuju guna mensosialisasikan kegiatan ekspedisi ini.

Irvan Basri memanfaatkan acara pemilihan Kaka Kandi di d’Maleo Hotel dan Convention dan Festival Budaya Sulawesi Barat di Lapangan Merdeka Mamuju pada, Senin, 21 September 2015, untuk menyosialisasikan agenda Ekspedisi Kapsul Waktu itu. Ia mengajak warga untuk menulis mimpinya tentang Sulawesi Barat dan Indonesia 70 tahun ke depan. Puluhan warga mengisi selembar kertas yang dibagikan panitia.

Sebuah spanduk berukuran besar tertulis Ekspedisi Kapsul Waktu [EKW] 2085 dipasang di Lapangan Merdeka, Mamuju.

“Apa Mimpimu tentang Sulawesi Barat dan Indonesia. Indonesia Merdeka 70 Tahun AYO KERJA”. Di situlah warga Mamuju mengisi biodata mereka dan menulis mimpi-mimpinya. Untuk menjadi Bangsa yang besar harus berani bermimpi, sebab bermimpi adalah motivasi menjadi kekuatan penyemangat untuk mencapai tujuan. Ekspedisi ini mengandung nilai-nilai nasionalisme: harapan dan optimisme, persatuan dan kesatuan, dan pendalaman terhadap cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Slogan AYO KERJA diperkenalkan oleh Presiden RI Joko Widodo beberapa waktu lalu. Gerakan AYO KERJA itu bisa juga sebuah filosofi untuk membangun masa depan Indonesia.

Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Jumat, 16 November 2018. (Foto: Biro Pers Setpres)

“Slogan gerakan ini memberikan tantangan baru bagi warga Sulawesi Barat untuk berani bermimpi dan menggapai mimpi itu. Target Indonesia di 2085 menjadi bangsa yang besar, Indonesia jaya dengan rakyatnya sejahtera,” kata Irfan Basri di Lapangan Merdeka, Mamuju.

Irfan Basri, lelaki asal Polewali Mandar, berharap pada ekspedisi nanti, pemerintah dan warga Sulawesi Barat terjalin sinergitas guna membangun daerah lewat ragam kreatifitas dan kerja keras agar tercapai tujuan pembangunan daerah yang mandiri.

Kini kita tak bisa menghindar dari perkembangan dan kemajuan dunia. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sekadar mengirim surat antarpulau lewat Pos Indonesia. Dulu, kita belum membayangkan jika kini kita bisa berkirim surat hanya dengan waktu satu atau dua menit saja. Lewat apa? Lewat bantuan fasilitas teknologi komputer. Namanya apa? Namanya Fax dan Email.

Di era sekarang, Fax dan Email pun masih dianggap biasa. Bercakap-cakap dan saling bertatap muka lewat fasilitas telepon tanpa kabel (handphone) juga sudah bukan hal baru lagi. Hadirnya Facebook, Twitter, BBM, WhatsApp, dan alat komunikasi media sosial lainnya adalah bagian dari produk modernisme sekarang ini.

Alat transportasi darat, laut, dan udara dengan bertenaga mesin raksasa super canggih yang di antara dari semua itu sudah ada yang mampu menembus dan membuat kehidupan di planet luar angkasa, adalah bagian dari temuan-temuan luar biasa yang semuanya berawal dari mimpi. Dari mimpilah yang kemudian diwujudkan sehingga melahirkan peradaban baru di belahan dunia.

Para penari berdiri di depan spanduk Ekspedisi Kapsul Waktu di Lapangan Merdeka Mamuju, 21 September 2015. (Foto: Humas Pemprov Sulbar)

Dan, hanya bangsa-bangsa yang kuat bermimpilah dan yang menghargai sejarahnya yang bisa menjadikan bangsanya sebagai bangsa yang besar.

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang besar pula. Provinsi Sulawesi Barat terbentuk pada September 2004 silam. Perjuangan pembentukan provinsi ini menorehkan sejarah yang panjang. Hampir bisa dibilang, perjuangan pembentukan Sulawesi Barat dimulai sebelum dibentuk pemerintahan modern, atau pada 1958. Sejak itu tokoh-tokoh pejuang hadir silih berganti. Mereka mengorbankan apa saja: pikiran, tenaga, air mata, harta, darah, bahkan nyawa sekali pun.

Sulawesi Barat juga memiliki sejarah dan peradaban yang besar. Kerajaan Sampaga, misalnya. Di abad ke 2 s.d. 7 Masehi—sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar kala itu—Kerajaan Sampaga telah melakukan hubungan dagang dengan India dan China. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya arca patung perunggu Amarawati sebagai artefak Buddha tertua yang terdapat di aliran Sungai Karama di Kecamatan Kalumpang dan di Dusun Sikendeng, Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju. Ini menandakan Sulawesi Barat memiliki peradaban yang besar di masa lampau.

Tenunan kain Sekomandi di Kalumpang, Kabupaten Mamuju sebagai salah satu tenunan tertua di dunia. Perahu Sandeq—perahu tradisional tercepat di dunia—adalah milik warga Mandar. Membangun rumah di atas pohon secara turun-temurun oleh suku Bunggu di Kabupaten Mamuju Utara. Persekutuan sistem demokrasi persatuan dan kesatuan yang dipegang teguh dalam konfederasi politik Pitu Ulunna Salu (PUS) dan Pitu Ba’bana Binanga (PBB). Juga dengan konsep Siwali Parri—sebuah konsep gotong-royong yang telah berurat-berakat di tanah Mandar. Semua itu adalah sekelumit contoh yang sudah sewajarnya menempatkan Provinsi Sulawesi Barat sebagai daerah dengan posisi kuat dalam lintasan sejarah dan peradaban manusia di dunia. (Muhammad Iksan Hidayah, Sarman Sahuding – Sumber: Majalah TIPO, Edisi 37, Oktober 2015)

Monumen Kapsul Waktu di Merauke

Pada Jumat, 16 November 2018, Presien Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Apa kata Joko Widodo terkait Monumen Kapsul Waku di Merauke yang ia resmikan itu? Berikut penjelasannya:

Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Jumat, 16 November 2018. (Foto: Biro Pers Setpres)

Tiga tahun yang lalu, tepat di ujung paling barat Indonesia di Pulau Sabang, Aceh, saya memulai Gerakan Nasional Ayo Kerja: sebuah ajakan kepada semua elemen bangsa untuk memulai kerja besar, kerja keras, kerja bersama untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Terutama, impian anak-anak muda Indonesia.

Apa saja mimpi-mimpi itu?

SATU, SDM Indonesia kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia. DUA, masyarakat Indonesia menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika. TIGA, Indonesia sebagai pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia.

EMPAT, masyarakat dan aparatur pemerintah kita bebas dari perilaku korupsi. LIMA, membangun infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia. ENAM, Indonesia sebagai negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik. TUJUH, Indonesia sebagai barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Tujuh impian anak muda Indonesia itu kini tercatat dan disimpan dalam kapsul waktu di sebuah monumen di ujung timur Indonesia, di Kota Merauke—lebih 5.000 kilometer dari Pulau Sabang, tempat dicanangkannya Gerakan Nasional Ayo Kerja tiga tahun lalu.

Ini mimpi besar, bukan pekerjaan lima, sepuluh atau 20 tahun, tapi pekerjaan beberapa generasi. Selama 70 tahun atau 100 tahun ke depan, semua elemen bangsa harus bekerja keras, karena tidak ada hasil yang instan. Tidak ada juga pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh satu atau segelintir orang. Ini kerja bersama untuk mewujudkan impian anak-anak kita. (Sumber: Facebook Presiden Joko Widodo)

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR