Buku Eksklusif bagi Hari Pers 2018. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Gambar di atas adalah sebuah pesan yang penting: seorang Presiden Joko Widodo pun mengapresiasi tinggi hadirnya sebuah buku, atau lebih tepatnya sebuah “maha karya’ seorang anak Bangsa yang telah berpulang.

“Melalui penerbitan tiga judul buku asli ke dalam satu buku ini, saya berharap jurnalistik Indonesia lebih berkibar, teguh kepada ruh dasar jurnalisme; hati nurani, akal, budi.”

Kutipan pada sampul depan buku ‘Eksklusif bagi Hari Pers 2018’ di atas, selanjutnya Anda bisa baca sendiri.

“Mari banyak membaca buku,” pesan Joko Widodo dari bumi Sumatera Barat.

MELAWAT KE BARAT, Adinegoro, 1926—Edisi Khusus Hari Pers 2018.

Berikut kutipan Wejangan Presiden RI Joko Widodo:

Semenjak saya menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, kini Presiden Republik Indonesia, hubungan saya dengan pers, wartawan, dominan berjalan baik. Begitupun di kalangan para penggiat media sosial, tidak terhitung pertemuan saya lakukan, baik formal terlebih informal.

Interaksi online selalu terjalin. Komunikasi dua arah mengarah. Keadaan menggembirakan itu tiada lain sebagai spirit kami bekerja lalu pesan tersosialisasi, tersebar luas kepada segenap warga.

Tahun ini kita kembali menyelenggarakan Peringatan Hari Pers Nasional pada 8-9 Februari diadakan di Sumatera Barat. Bila menilik sejarah, Minangkabau melahirkan tokoh pers, banyak nama putera terbaiknya menghiasi halaman catatan sejarah bangsa.

Dari Talawi, Sawahlunto, telah lahir seorang anak bangsa bernama Djamaloedin bergelar Datuk Marajo Sutan (1904-1967). Di saat masih belajar kedokteran di Stovia, ia meninggalkan tanah air di usia 22 tahun. Ia melawat ke barat. Kisah perjalanannya menghiasi halaman Pandji Poestaka, berseri. Ia melabeli dirinya dengan sebutan Adinegoro.

Masyarakat kemudian mengenal Djamaloedin Adinegoro, penulis buku Melawat ke Barat, 1926. Selain menulis, ia juga seorang sastrawan, punya andil besar dalam pendirian Kantor Berita Antara. Adik seayah pahlawan Muhammad Yamin, ini pun berkarya membuat atlas, menulis novel.

Satu benang merah saya simak, wartawan masa silam figur pembaca banyak buku, sosok tiada henti menulis, insan terus berkarya untuk bangsa dan negara. Maka tak heran dari mereka era silam itu menjadi rujukan bagi peradaban. Mereka sosok tahu segala tentang sesuatu, mengetahui sesuatu tentang segala.

Dari ranah Minang pula kemudian kita mengenal Rosihan Anwar. Saya termasuk suka membaca kolomnya. Satu persatu nama-nama besar itu meninggalkan kita. Generasi baru, belum banyak muncul dengan bobot menulis seperti pendahulu.

Di kekinian, saya sempat kagum akan kegigihan verifikasi dilakukan Bondan Winarno, wartawan, penulis buku investigasi kasus emas Busang. Bondan menulis buku berjudul BRE X Mineral, Sebongkah Emas di Kaki Pelangi. Masyarakat, kawula jaman now, hanya mengenal Pak Bondan dengan Mak Nyus, pakar makanan. Padahal ia bisa dikatakan sosok wartawan rendah hati verifikasi.

Esensi jurnalisme saya pahami kerendahan hati verifikasi tiada henti.

Maka sejak Hari Pers Nasional tahun ini sudah seyogyanya jurnalisme Indonesia lebih bangkit, jauh dari penyebar hoax. Produksi konten, informasi, bagaikan bah tsunami kini, berbeda sekali dengan era silam, filter kebenarannya justru berada di tangan para wartawan, jurnalis.

Jurnalis menjalankan elemen jurnalisme pastilah insan-insan berbudi.

Saya sebagai Presiden RI dengan senang hati segenap jurnalis kita kritis, sebab kritis itu bagian dari proses menuju kreatif.

Terima kasih kepada inisiator, IP Center dan semua pihak telah berjibaku berusaha dengan kilat menerbitkan buku ini, secara khusus terima kasih kepada Keluarga Besar Djamaloedin Adinegoro, atas diperbolehkannya mencetak edisi khusus ini.

Selamat Hari Pers Nasional 2018.

Jakarta, 8 Februari 2018

Presiden RI

Kami dari PWI Sulawesi Barat—paling tidak untuk 18 orang—bisa hadir di acara puncak HPN 8-9 Februari di Kota Padang, Sumatera Barat.

Duduk dan berdiri sama-sama Presiden RI Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Jokowi, 23 Menteri Kabinet Kerja, 21 Dubes negara sahabat, 35 wartawan dari Malaysia yang dibawa Menteri Penerangan Kerajaan Malaysia, serta ribuan undangan lainnya di bawah sebuah tenda besar.

Buku MELAWAT KE BARAT, dan puluhan judul buku lainnya, kami dapatkan langsung di arena peringatan Hari Pers Nasional 2018, Jumat, 9 Februari di Danau Cimpago Pantai Padang, Sumatera Barat.

Aura dan semangat literasi memang terasa benar di sana, di bumi tempat terlahirnya pembangun hikayat dan pantun.

Seperti pesan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, “Anda sekalian tak cukup lengkap menginjak Sumatera Barat jika belum mengunjungi Bukit Padang, Jembatan Kelok 9 di Payakumbuh, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan lain sebagainya.”

Dalam suaranya yang lantang dan nyaring di arena Konvensi Media Massa Nasional, Hotel Grand Inna Padang, Kamis, 8 Februari itu, Nasrul Abit mengundang decak kagum dan tawa riang lepas:

“Inilah kekayaan Sumatera Barat, yang tak dimiliki daerah lainnya di Indonesia. Tiba di Kabupaten Tanah Datar, jangan bayangkan keseluruhan tanahnya datar, dan Kabupaten Lima Puluh Kota, padahal hanya satu kota saja. Itulah kekayaan sejarah Tanah dan Peradaban Minangkabau yang telah diakui di Nusantara hingga ke luar negeri.”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR