Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Provinsi Sulawesi Barat Sulaeman Rahman (kedua kiri) pada rapat komisi pembahasan klausul 101 pasal draf Kode Perilaku Wartawan, Hotel Millenium Sirih, Jakarta, 13 Desember 2017. (Foto: Ist.)

PWI Sulawesi Barat menginformasikannya untuk Anda—langsung dari PWI Pusat, Jakarta.

TRANSTIPO.com, Jakarta – Sebenarnya tidak susah, tapi tidak juga gampang. Namun, susah atau gampang memang seringkali menjadi searah. Bergantung, bagaimana dua portal itu, etika dan perilaku dilewati, untuk kemudian terbuka jalan bagi wartawan menjadi profesional.

Debat ini viral dan sangat panjang di meeting room Irian Jaya, Hotel Millenium Sirih, Jakarta, 12-14 Desember 2017. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Kehormatan PWI se-Indonesia, digelar di hotel berbintang di kawasan Tanah Abang, Jakarta, ini.

Debat itu bukan debat kusir. Debat intelektual dan bernas kiranya, lantaran membincang sebuah kesepakatan untuk membangun paradigma di antara dua portal tadi, yakni etika dan perilaku.

“Inisial nama dalam berita sebuah kasus adalah etika jurnalistik, tapi perilaku menghakimi sumber yang diberitakan bisa menjadi trial by the press (peradilan oleh pres),” kata Ilham Bintang, Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Pusat di depan para Ketua DKP PWI provinsi.

Sebenarnya, lanjut wartawan senior ini, inisial nama dalam berita sudah tidak penting. Sebab, inisial tidak akan menghilangkan substansi masalah yang diberitakan.

“Sebab akan menyebut juga apa masalahnya, tempat kejadian, alamat sumber yang diinisialkan tadi. Kan ketahuan juga, meskipun diinisialkan namanya,” tegas Ilham.

Wina Armada Sukardi, Sekretaris DK PWI Pusat, sekaligus penggagas Kode Perilaku Wartawan ini, harus menggilir menjawab berondongan pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir bak air keruh dalam Rakernas tersebut.

Artinya, menjadi amat kontroversi karena untuk membedakan etika dan perilaku, dinilai peserta berbeda hanya setipis kulit ari saja.

“Substansinya jelas berbeda. Kita ingin membangun paradigma, bahwa perilaku wartawan menjadi sangat penting jika ingin menjadi profesional,” jawabnya.

Mantan Anggota Dewan Pers ini menambahkan, Kode Etik Jurnalistik (KEJ) merupakan standar operasional bagi profesi wartawan, sedangkan perilaku mengatur sikap pribadi si wartawan.

“Bisa saja wartawan mengatakan apa yang salah, beritanya kan cover both side (berimbang), wawancara juga berimbang, dan seterusnya. Tapi bagaimana dengan perilakunya,” tutur Wina.

Paradigma ini dibangun untuk disepakati lahirnya Kode Perilaku Wartawan. Sebab, menurutnya, kalau tidak ada kode perilaku, maka tidak bisa disebut melanggar perilaku.

“Jadi harus ada Kode Perilaku. Itu paradigma yang kita ingin bangun,” ungkapnya.

Karena itulah, menjadi wartawan profesional harus bisa lolos dari dua portal ini. Portal etika dan perilaku wartawan. Lolos dari sini, maka wartawan secara moral sudah menjadi wartawan profesional.

SULAEMAN RAHMAN

1 KOMENTAR

  1. Dibaca berkali-kali pun tetap serasa enak sekali.. Sentuhan wartawan senior memang jelas beda.. Saya turut bangga jika ada anak muda yang secara serius mendedikasikan peran sosial dan intelektualitasnya di bidang Jurnalisme.

    Beginilah salah satu cara kita– meski peran terkecil mungkin– merawat, membanggakan, dan mendorong maju negara kita, INDONESIA.

    Berkah..

TINGGALKAN KOMENTAR