Nakhoda Mamuju Pelopor Perempuan Sulawesi Barat

1973
BUPATI MAMUJU HJ. ST. SUTINAH SUHARDI. (FOTO: SARMAN SHD)

Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH, M.Si (Bupati Mamuju, 2021-2024)

Ia sungguh mencintai Mamuju, bahkan bisa dibilang melebihi cintanya pada dirinya. Ia tak sudi melihat warganya menderita. Hati keibuannya seolah teriris manakala ada warganya mengiba padanya. Kecintaannya pada daerah yang dipimpinnya tak mampu ia ungkapkan. Terkadang ia merasa letih di waktu larut ketika masih sibuk menerima tamu di rumah jabatannya. Ia perempuan tegar.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kota Makassar menampakkan dirinya sebagai kota ramai, kota yang padat penduduk. Jalan-jalan besar menggurita di seantero kota dengan kendaraan besar dan kecil lalu-lalang di atasnya. Meski saat itu tahun 1980-an, kawasan Makassar telah menjadi buah bibir di Indonesia.

Kota ini menjadi pintu gerbang yang penting di kawasan timur Indonesia. Di Kota Makassar inilah seorang lelaki Mamuju menimba ilmu, masa awal merenda hari esok. Ia anak rantau dari Mamuju. Namanya Suhardi Duka. Ia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan.

Sebelum menutup masa perkuliahan di kampus negeri itu, Suhardi Duka meminang seorang dara Gowa, Makassar, bernama Harsinah. Saat itu tahun 1984. Harsinah, tentu pula sang ayah Suhardi Duka, begitu bergembira mendengar tangisan awal anak pertamanya.

Sosok bayi perempuan mungil dengan kulit putih bersih, Tina dengan nama lengkap Sitti Sutinah. Nyaris tak ada yang Tina ingat di masa kecilnya di Makassar tempo dulu. Praktis sejak 1987, atau ketika ia belum genap berumur lima tahun, ayah dan ibunya telah memutuskan untuk kembali ke Mamuju, kampung halaman leluhurnya. Generasi Tina bisa dibilang generasi dengan keadaan kawasan Mandar yang sudah relatif maju, salah satunya pembangunan jalan misalnya.

Tina kerap mendengar cerita tentang hubungan antara Daerah Tingkat (Dati) II Majene dan Daerah Tingkat (Dati) II Mamuju. Berangkat dari Makassar, mobil berhenti di Majene kemudian perjalanan ke Mamuju dilanjutkan dengan naik pincara, perahu tradisional Mandar.

Ketika Tina kembali ke Mamuju pada 1987, mobil sudah bisa membawanya hingga ke ibu kota Kabupaten Mamuju. Kehidupan Tina benar-benar dimulai di Mamuju. Keluarga SuhardiHarsinah menempati sebuah rumah relatif sedang di bilangan puncak Mamuju. Tina mulai mengecap pendidikan formal di taman kanak-kanak (TK) Mamuju.

BUPATI MAMUJU HJ. ST. SUTINAH SUHARDI, SH, M.Si. (FOTO: ISTIMEWA)

Meskipun masih kecil dan dalam masa yang seharusnya ia habiskan untuk bermain dan bersenda gurau dengan anak sepantarannya, kenyataannya ia sudah punya beban. Adiknya, Sitti Suraidah, yang umurnya hanya terpaut dua tahun. Walau di rumah ada ibunya, Tina sudah bisa mengambil peran lain untuk mengurangi beban ibunya.

Pekerjaan sebagai pengasuh adikadiknya mulai terlihat ketika anak ketiga lahir. Jarak kelahirannya sama yakni dua tahun. “Anak ketiga, keempat, dan kelima saya semua yang jagai,” kata Tina saat wawancara di Sapota, Rumah Jabatan Bupati Mamuju, awal Februari 2023. Terbayang Tina di masa itu sungguh repot.

Sepulang sekolah, di rumah harus tetap berkesiap menjaga adik-adiknya. Jika keluar rumah bermainmain, Tina tetap siap menemani, mengawal ke mana adik-adiknya itu bepergian. Ia menjalani pekerjaan ini mengasyikkan. Kelak adik-adiknya tahu bahwa kasih sayang kakaknya itu mewujud secara nyata tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sebuah tanggung jawab yang tak ringan telah ia tunaikan sejak masa kecil.

Amanah sebagai seorang kakak tertua, meski ia seorang perempuan, Tina telah buktikan. Ini seolah sinyal awal bahwa kelak Tina akan mampu menjadi seorang pemimpin formal, pemimpin daerah yang sesungguhnya.

Kehidupan keluarga seorang pamong negara sebelum tahun ’90 jauh dari kemewahan, ia tidak pula berkekurangan. Sebagai seorang anak tertua, Tina memotret betul kondisi kehidupan keluarganya kala itu.

“Dulu itu, ‘kan, ekonomi keluarga kami, ya Alhamdulillah pas-pasan.” Ayahnya, SDK benar adalah seorang PNS di Departemen Penerangan Pemerintah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan. Tina bercerita, saat itu ia masih duduk di bangku SD, juga adiknya Suraidah.

Ayahnya yang seorang PNS harus meninggalkan Mamuju beberapa bulan untuk mengikuti latihan kepemimpinan (Latpim) di Makassar. Saban terima gaji di awal bulan ayahnya rutin mengirim uang ke Mamuju, di antaranya untuk memenuhi uang jajan Tina dan Suraidah. Ia ingat persis kalau uang jajannya di sekolah kerap tak mencukupi.

Menyiasati kekurangan uang jajan itu, Tina punya akal. Saat ibunya beri uang jajan, Tina mencoba memutar uang jajan itu dengan membeli permen Jeli. Permen itu lalu ia jual kepada teman-teman di sekitar rumahnya di sekitaran puncak, Mamuju.

“Sepupu saya ‘kan banyak,” kisah Tina. Dengan cara memutar uang jajan secara kreatif itu, uang jajan yang tadinya hanya cukup untuk seminggu bisa berlipat ganda memenuhi kebutuhan jajan di sekolah dua sampai tiga minggu.

Ibu Harsinah sadar benar bahwa anak-anaknya berjenis perempuan. Meski begitu, Harsinah ingin agar anak-anak perempuannya itu rajin be kerja. “Ibu saya itu tanamkan pada kami harus bisa kerja mulai sejak kami SD.” Sejak kecil Tina dan Suraidah sudah biasa masak di dapur. Membersihkan rumah. Ia ingat saat ibunya membagi tugas kepada anakanaknya.

Jika Tina sedang mencuci pakaian misalnya, maka Suraidah yang membantu ibunya memasak di dapur, dan adik lainnya menyapu di pekarangan rumah. Pengaturan pekerjaan ini mereka jalani sejak di bangku SD. Di relung dan benak Tina sungguh menyemayam ide-ide kreatif. Tantangan selaku anak pertama membuatnya cepat bergerak sebagai respons apa yang menjadi buah pemikirannya. Sebuah kulkas yang dibeli ayahnya untuk kebutuhan keluarga di dapur, Tina punya ide.

Setiap malam Tina rajin isi air dalam plastik lalu dimasukkan ke kulkas. Dengan air es itu giliran Suraidah yang bawa ke sekolah dan ke warung-warung. Setiap pagi kolaborasi bisnis es ini mereka lakukan. “Jadi kalau sore atau pulang sekolah, Suraidah kembali ke warungwarung itu ambil termos es. Tiba di rumah saya dikasih uang hasil penjualan es, dan saya kasih juga bagiannya.”

Chemistry, keakraban Tina dan Suraidah selain karena saudara kandung tentunya juga faktor perbedaan umur keduanya hanya terpaut dua tahun. “Sama Suraidah itu sejak dulu memang selalu kerja sama. Dekat karena namanya anak pertama dan anak kedua, ‘kan. Sejak kecil itu memang saya kadang punya ide, kita mau bisnis apalagi, dan apalagi.”

Kebanggaan Tina pada ayahnya ia ucapkan sembari dengan goyangan kepala. Tak sekali Tina menyebut kebanggaan pada ayahnya. Ia total pada keluarga. Ia bekerja seolah melebihi waktu normal dalam sehari. Terusmenerus ia lakukan pekerjaan yang ia mampu.

Tina menyebut, beliau total bekerja untuk membahagiakan kami, demi ibu dan anak-anaknya. SDK mendedikasikan waktunya demi keluarga dan karier. Selain aktif sebagai seorang PNS juga mengajar di SMEA Mamuju.

BUPATI MAMUJU HJ. ST. SUTINAH SUHARDI, SH, M.S.i. (FOTO: ISTIMEWA)

“Sejak dulu sampai sekarang bapak itu tanggung jawabnya terhadap keluarga memang sangatsangat… Saya ajungi jempollah.” PNS saat itu bekerja selama enam hari, Senin sampai Sabtu. Tina mengingatnya, ayahnya berangkat pagi ke kantor dan siangnya pulang ke rumah ganti baju lalu bergegas keluar lagi untuk mengajar di SMEA hingga sore hari.

Kukuh bekerja bawaan dari kakeknya. Kakeknya yang seorang pegawai rendahan telah menanamkan sikap mandiri dan mesti kuat mengecap ilmu di jalur sekolah. Tina pun telah mendapat pesan-pesan itu. Ia ceritakan, meski kakek pegawai biasa, tapi sejak dini beliau telah tanamkan pada anak-anaknya, “walau kita tak punya uang tetap harus sekolah.”

Dan, kata Tina, “Alhamdulillah, itu juga yang Bapak dan Ibu tanamkan pada saya dan adik-adikku.” Tina mafhum benar dengan kodratnya sebagai anak perempuan. Juga ia akui tak ada harta banyak yang diwariskan. Meski begitu ia tetap harus sekolah.

“Walaupun kami tidak diwariskan harta banyak, dan ketika kami telah berpulang Insya Alah anak-anakku tidak akan susah karena ada sekolahnya. Mau mencari pekerjaan tidak akan sulit, gampanglah dibanding jika tidak ada sekolahnya.”

Semangat itu membatin dalam diri Tina dan adik-adiknya. Itulah yang kemudian membuatnya sekolah tinggi. Tina dan adik-adiknya seolah berlomba mencapai sekolah tinggi semampunya. Dan dengan kenyataan ini membuat SDK bangga. Setelah lulus SLTA, Tina menembus perguruan tinggi selevel Unhas dan selesai dengan gelar Sarjana Hukum (S-1).

Ia meneruskan pendidikan Strata Dua (S-2) di jalur sekolah ikatan dinas pemerintahan: Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Saat ini Tina sedang kuliah untuk jenjang doktoral (S-3). Saat wawancara berlangsung, Tina menyebut sedang menjalani pendidikan di tahun kedua program doktoral.

Seorang adiknya selesai dengan gelar dokter. Yang satunya lagi bahkan menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat (AS). Bagi Tina, tak penting menyebut pintar. Yang harus diperkuat adalah apakah kita kukuh dan punya kemauan kuat untuk sekolah hingga ke perguruan tinggi. Ilmu itu sangat berguna.

Dan, Tina rasakan manfaat ilmu yang ia peroleh selama di bangku kuliah ketika pada saatnya diamanahi menjadi seorang pemimpin daerah. Bukan soal beruntung. Ia berjuang di jalur peruntungan yang tepat. Lulus di SMA Negeri 01 Mamuju, Tina coba peruntungan mendaftar PNS.

Dulu memang belum susah masuk PNS, apalagi jika sudah punya ijazah lulusan SLTA. Di saat ia mendaftar PNS di Pemerintah Kabupaten Mamuju, di waktu yang sama SDK sedang dalam karier politik Golongan Karya (Golkar) yang hebat dan posisi yang kuat di Mamuju: Ketua DPRD Kabupaten Mamuju. Jadilah Tina PNS.

Bersamaan dengan itu ia sedang kuliah di Universitas Hasanuddin. Jadi ia kerja sambil kuliah. Peruntungan Tina yang lain, setelah merengkuh gelar sarjana hukum, datanglah lamaran. Seorang lelaki Yugo yang berkarier sebagai polisi (perwira) meminangnya. Tina bercerita, sang suaminya saat itu sedang bertugas di Kabupaten Merauke, Papua.

“Begitu suami dapat beasiswa S-2 di Jakarta, saya nyusul juga. Saya diterima S-2 di IPDN, Jatinangor, Bandung, Jawa Barat. Sekarang saya kuliah S-3. Suraidah memang duluan dua tahun kuliah S-3. Dia sudah selesai dan wisuda doktoralnya di akhir tahun lalu (2022). Sekarang saya baru masuk semester 4.”

Tina menolak dikaitkan terlalu jauh dengan posisi ayahnya selaku Bupati Mamuju. Memang, kenyataan SDK menjadi Bupati Mamuju selama 10 tahun (2005-2015). Di penghujung masa jabatannya di periode yang kedua, SDK sempat melantik Tina selaku Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamuju.

Tetapi menurut Tina itu normal saja, tak ada penggunaan peluang selaku anak bupati untuk sampai ke posisi itu. Bukti sahih tentang jalurnya di birokrasi ia dapatkan secara wajar, berikut sebuah kisah yang oleh Tina sebagai penguat bahwa ia menduduki jabatan di Pemerintahan Kabupaten Mamuju rasional dengan melalui proses uji dan seleksi kepangkatan hingga merengkuh jabatan.

Tina memulai karier dari bawah. Ketika masih kerja di Kelurahan Mamuju, Kecamatan Mamuju, ia bertugas sebagai penagih pajak. Ia turun ke bawah menemui warga selaku objek pajak daerah. Padahal kalau ia mau tak merepotkan diri —dan kenyataannya ia mampu untuk itu— cukup menalangi kewajiban para objek pajak dengan uang pribadinya, toh juga jumlahnya tak terlampau banyak: 100 ribu, paling banyak 200 ribu rupiah.

Dengan begitu selesai tanggung jawabnya sebagai penagih pajak. Tapi Tina tak lakukan itu. Ia bekerja profesional bersama stafnya di kantor kelurahan tersebut. Saban hari bersama timnya mendatangi rumah-rumah warga.

“Ayo Pak, ayo Bu, bayarki’ pajak PBB ta’,” Tina mengulang cara komunikasinya kepada warga di wilayah kelurahannya sebagai objek pajak. Tina ingat benar, dari sekian banyak objek pajak saat itu, bahkan ada warga yang kewajiban pajaknya hanya 5 ribu rupiah, 10 ribu rupiah, dan 15 ribu rupiah.

Tak banyak memang, tapi mereka harus taat pajak, wajib tunaikan kewajibannya. Dengan angka total pajak di atas, masih ada yang menolak, meminta penundaan waktu. Tapi ia berkeras. Ia seolah memaksa warga membayar kewajiban pajaknya.

“Anu, nantipi,” dan Tina bergeming, “Pokoknya tidak bisa, kita harus bayar PBB ta’ Bu, Pak!” Bagi Tina, pajak warga berkontribusi dalam pembangunan daerah, demi Kabupaten Mamuju juga. Ia mengulang memori dulu itu. Ia akui, meski dengan gigih bekerja setiap hari dalam waktu yang lama, toh masih ada juga yang tak bersedia bayar PBB-nya.

“Tapi masih banyak warga yang rela membayar pajaknya,” aku Tina. Sembari tertawa, ia bilang begini, “Yang segera bayar pajaknya itu, mungkin karena dia lihat ini anak bupati yang datang menagih pajak.” Dengan mengenang perjalanan itu, Tina hendak menyampaikan pesan bahwa ia pernah turun ke bawah. Babak penting yang menentukan perjalanan karier si mungil yang lincah.

Pada 2015 hingga 2020, Habsi Wahid menakhodai Kabupaten Mamuju, tandem dengan wakilnya, Irwan SP Pababari. Di masa itu, Bupati Habsi menggeser posisi Tina dan melantiknya sebagai Sekretaris Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju. Ia jalani di pos barunya ini selama satu tahun, sebab hasil fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang ia ikuti sebagai prasyarat naik menjadi pejabat Eselon II, menempatkannya sebagai Kepala Dinas Perdagangan Pemerintah Kabupaten Mamuju.

Posisinya sebagai pejabat pamong di level Eselon II di masa pemerintahan Habsi-Irwan membuatnya terhindar dari tudingan faktor koneksi yang tentunya bisa beraroma nepotisme. Lain hal seandainya SDK masih bupati. Tina akan sulit menghindari cibiran faktor meraih peluang lantaran kedekatan ayah dan anak itu.

Tak lama sebagai kepala dinas, sebab palagan politik Mamuju telah bekerja untuknya. Tina terlindungi format politik ayahnya dan Partai Demokrat Mamuju tentunya. Setahun lebih menjadi kepala dinas sudah barang tentu belum cukup baginya menjangkau belantara birokrasi yang sesungguhnya.

Tapi begitulah. Politik telah bekerja. Kehendak Tuhan yang menentukan ke mana tungkai dan langkah seharusnya diayun. Mundur dari jabatan kepala dinas sekaligus harus menanggalkan pangkat Eselon II dan meninggalkan ASN secara permanen bukan pilihan sekadar coba-coba. Harus pensiun di usia dini dalam karier pamong yang masih relatif belia, tentulah pilihan dengan pertimbangan yang matang.

Adalah kenyataan bahwa Hj. Sitti Sutinah Suhardi benar-benar angkat kaki dari Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju dan merelakan dirinya pensiun dini sebagai ASN di Pemerintahan Kabupaten Mamuju. Telinga Tina mendengar keluh kesah, masukan, dan juga larangan untuk mundur dari jabatannya itu.

Tak sedikit pihak yang menyayangkan pilihannya untuk mundur dari kadis dan ASN. SDK, ayahnya yang kukuh mendukungnya untuk mundur lalu ia melangkah serius di dunia politik praktis. Sebelum keputusan itu keluar, SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Suraidah awalnya ditawari, tapi Suraidah bilang, “Pak saya lebih suka di legislatif. Saya sudah enjoy di sana. Saya ga’ bisa bangun pagi, harus berkantor tiap hari.”

Cerita Tina ini menegaskan bahwa Suraidah itu tak punya ambisi jadi kepala daerah. Maka pilihan kemudian jatuh pada Tina. Ia mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya.

Tina tak terlampau setuju jika dikatakan bahwa dirinya diformat secara khusus oleh SDK untuk mengikuti jejak karier sang ayah. “Bapak itu tidak pernah memformat saya mau jadi apa. Saya pun tidak pernah berpikiran ke arah sana.”

Sejujurnya, menurut Tina sendiri, sejak awal dulu ia hanya mau jadi ibu rumah tangga biasa. Mau ikut suami. Ia mengenang masa lalunya. Saat pertama kali bertemu lelaki Yugo, suaminya, yang polisi itu, ia sudah mulai menapak karier sebagai ASN. Ia bangga dengan pandangan suaminya yang oleh Tina menganggapnya sangat demokratis.

“Beliau bilang, kita ‘kan ketemu kamu sudah punya karier, betapa egoisnya saya kalau saya menghambat karier kamu. Potensimu besar jadi ini dan itu, masa’ saya mau jadikan kamu hanya jadi ibu rumah tangga.”

Dengan keluhuran hati dan keteguhan sikap suaminya itu, motivasi Tina seolah terpompa berkarier meniti jalan ia bisa. Tina kembali membantah berkali-kali disebut ayahnya terlibat langsung memengaruhi kariernya di birokrasi dan politik yang ia tempuh saat ini, atau di saat ketika ia memutuskan maju sebagai calon bupati Mamuju 2020.

Ia sadar dalam keluarganya sudah terbentuk semacam design alamiah. Yang ia maksud dirinya ditakdirkan berkarier di birokrasi sedangkan adiknya Suraidah memantapkan diri sebagai politisi. Terkait Sitti Suraidah Suhardi, dia memulai karier politik di Partai Demokrat Kabupaten Mamuju yang menjadikannya duduk di DPRD Kabupaten Mamuju.

Seterusnya menjadi Ketua DPRD Mamuju. Pemilu 2019, di partai yang sama, Suraidah menapak tangga lebih tinggi, yakni DPRD Provinsi Sulawesi Barat, dan langsung terprotek sebagai ketua parlemen. Dua anak perempuan SDK cemerlang di jalur politik. Tina memulainya dua tahun lalu.

Pilkada Mamuju 2020 dramatis bagi Tina. Partai Demokrat menggandeng PDI Perjuangan, dan sejumlah partai lainnya, dengan mengusung pasangan Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud (Tina-Ado). Pasangan ini melawan incumbent, Habsi Wahid-Irwan SP Pababari. Sudah bukan rahasia, terutama di daerah, siapa yang melawan petahana (figur yang sedang berkuasa) sulit terkalahkan.

Kenyataan berkata lain. Sang penantang, Tina-Ado, berhasil unggul di perhitungan akhir gelaran Pilkada Mamuju lalu. Sejak awal 2021 Tina memimpin secara formal pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Mamuju. Dengan posisinya itu, Tina sekaligus mencetak rekor baru dan menciptakan sejarah: bupati pertama perempuan di Provinsi Sulawesi Barat. Sekilas tentang posisi politik kedua kakak beradik, Tina menyeringai.

“Ibu dokter yang anak ketiga itu sebenarnya kita mau arahkan jadi politisi, tapi dia tidak mau. Dia lebih memilih karier sebagai dokter. Dokter Sulfiah bilang, dari kemarin itu saya duduk seandainya saya mau.”

Memang, pada Pemilu 2014 dokter Sulfiah Suhardi tercatat namanya dalam komposisi nomor urut calon anggota DPR RI dari Partai Demokrat untuk Daerah Pemilihan Provinsi Sulawesi Barat. Dengan ajakan ke politik, Sulfiah malah menebarkan pesan humanis.

“Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya jalannya jadi politisi, mengabdi di rumah sakit itu juga pengabdian kepada masyarakat.”

BUPATI MAMUJU HJ. ST. SUTINAH SUHARDI, SH, M.Si. (FOTO: ISTIMEWA)

Keputusannya ini, cerita Tina, sang ayah sangat menghargai. Bupati Mamuju, sebuah jabatan politik tinggi yang tak pernah dikira sampai di pundak Tina. Pilkada Mamuju pada Desember 2020 ada lah awal pembuktian itu. Ia menggenggam kekuasaan, menakhodai sebuah kabupaten tua di jazirah Manakarra, memimpin hampir 300 ribu penduduk.

Pengharapan dan mungkin ekspektasi warga sekabupaten kini di hadapannya. Mampukah ia berbuat maksimal untuk warga kabupaten yang dipimpinnya kini? Hanya Tuhan, dan tentu Tina sendiri yang tahu. Tina pandai pidato di depan umum atau ketika setiap kali ia tampil di khalayak banyak. Kemampuan atau keberanian ini ia miliki secara otodidak.

Meski ayahnya dikenal orator hebat, Tina tak pernah belajar secara runtut kepada ayahnya. Kemampuannya mengalir saja. Bahkan, jauh sebelum jadi bupati, ia sudah terbiasa berbicara di depan umum. Diakui memang kalau ayahnya sesekali memberi masukan, tapi itu sekadar ruang dan materi penyampaiannya kepada masyarakat. Ayahnya misalnya bilang begini: tadi itu kamu tidak boleh bilang begini. Apa yang kamu sampaikan seharusnya ini. Seputar itu saja yang SDK ajarkan kepada Tina. Ayahnya sampaikan kepada Tina pun saat sudah selesai acara atau setelah kembali ke rumah.

SDK memberi ruang kepada anaknya untuk mengekspresikan potensinya selaku pejabat publik di Mamuju. “Silakan jalan, kalau ada yang salah baru dikoreksi tapi koreksinya setelah pulang. Lain kali kalau kamu ketemu masyarakat, itu kamu ngomongnya seperti ini, jadi belajar tidak langsung ke Bapak,” Tina bercerita.

Jargon pasangan Tina-Ado di Mamuju yakni KEREN, akronim dari Kreatif, Edukatif, Ramah, Energi, dan Nyaman. Makna keren secara harfiah juga bagus karena menggambarkan kekinian, senapas dengan pa sangannya yang milenial.

‘‘Beasiswa Keren‘’ memang sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Mamuju lantaran terjadi ‘‘turbulensi‘‘ antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Tina punya niat baik untuk pengalokasian beasiswa di APBD Kabupaten Mamuju pada 2022.

Dengan beasiswa ini, ia mau mencicil targetnya yang besar, yakni selama memimpin Mamuju terdapat 15 orang dengan predikat doktor (S-3). Tina bercerita, di masa ayahnya memimpin Mamuju selama 10 tahun, hanya lima orang ASN Mamuju yang berhasil mencapai pendidikan doktor.

Nah, sesungguhnya ia mau mencetak sejarah baru di Mamuju selama ia menjadi bupati. Tiada lain dari itu, bahwa kemudian program mulia dari hati terdalam Tina itu berbelok arah di tengah jalan, ia akui dengan caranya berbicara polos, “Maumi diapa karena sudah viralmi.

Ya, apa boleh buat terpaksa batalmi itu beasiswa tahun ini. Padahal banyak yang sangat membutuhkan program itu.“ Bupati Tina masih mengingatnya ketika didemo oleh mahasiswa. Hanya disayangkan, ada program beasiswa yang di dalamnya ada yang keliru, tapi yang demo mahasiswa.

“Yang demo itu mahasiswa. Masak yang demo mahasiswa soal beasiswa.” Ia dianggap hanya peruntukan timnya saja. Lantas Tina pun menegaskan begini. “Iya, tim saya pendukung saya yang dekat dengan saya. ‘Kan, dia lebih tahu duluan orang yang sama dengan saya kemarin. Dia yang duluan masukkan proposal, masukkan berkasnya dan yang lolos itu memenuhi syarat.”

Terkait beasiswa itu, Tina tak menemukan aturan yang melarang ASN terima beasiswa. Ia atau Pemkab Mamuju belajar ke pelbagai daerah di Indonesia. Hanya kita terlalu kaku. Penerima beasiswa yang mensyaratkan ASN, warga kurang mampu, dan berprestasi, “Itu ‘kan masuk semua.”

Tina telah mengambil keputusan untuk menunda dulu program itu sembari pihak Pemkab Mamuju lakukan perbaikan regulasi. “Saya tidak bisa mengutarakannya dengan tepat untuk diketahui orang banyak, bahwa program beasiswa itu sebenarnya membatin dalam sanubariku. Saya mau membantu banyak orang untuk sekolah tinggi-tinggi.“

Kenyataan pembangunan lainnya, ia menceritakannya secara jujur. Ia akui masih banyak jalan yang berlubang-lubang di Mamuju. Tapi kalau sudah diperbaiki, ‘kan terlihat keren. Awal memimpin Mamuju dengan kondisi yang tidak mendukung. Gempa bumi yang paling dahsyat di Mamuju dan Majene yang berkekuatan 6,1 magnitudo pada 16 Januari 2021 membuat program kerja pemerintah daerah yang telah disusun antara DPRD Kabupaten Mamuju dan Pemerintah Kabupaten Mamuju buyar seketika, berubah 180 derajat.

Justru yang tak pernah direncanakan semisal kantor yang rusak karena gempa terpaksa dibangun. Tahun 2021 hati dan pikiran Tina tak tenang. Janjinya kepada warga Kabupaten Mamuju belum bisa ia tunaikan lantaran tanah yang luluh lantak itu. Program sosial dan pemberdayaan masyarakat anggarannya banyak yang dialihkan ke program fisik yang mendesak.

Melihat kenyataan itu, Tina coba berbicara kepada ayahnya. Banyak yang belum bisa ia realisasikan. Tahu anaknya sedang kebimbangan, SDK coba menyemangatinya.

“Memang tidak semua harus kamu realisasikan. Yang salah itu kalau anggaran tersedia atau fasilitas tersedia terus kamu tidak melaksanakannya. Kalau memang anggaranmu terbatas, ya tidak masalah,” Tina mengulang pesan ayahnya.

Hati keibuan Tina terpanggil manakala ia sudah pernah janji ke masyarakat lantas janji itu tak bisa dipenuhi. Janji yang tak terwujud itu membuat Tina keluh. “Tidak enakka itu kalau saya sudah janji masyarakat terus saya tidak bisa penuhi. Paling tidak enak kurasa kalau kita tak bisa bantu. Mungkin kalau kita ada di posisi saya, mungkin akan seperti itu juga.”

Ekspektasi Tina begitu besar. Ia merasa tak berguna jika ia tak mampu mengurangi beban warganya yang datang padanya. Ketika Tina minta pendapat pada ayahnya, SDK bilang, “Saya saja dua periode tidak semua keinginan masyaraat saya bisa penuhi Tina. Yang penting misalnya kamu janjikan 100, nah kalau kamu bisa penuhi 60 atau 70, itu sudah bagusmi. Itu yang salah kalau hanya 20 atau 30, itu ‘kan lebih banyak yang kamu tidak laksanakan.

“Bahagiaku itu kalau bisaka bantu masyarakat, dan kesedihanku itu kalau tidak bisaka bantu masyarakat. Kalau ada yang bermohon apa dan memang tidak bisa, ya, saya akan bilang maaf Bu tahun ini saya belum bisa bantu. Lebih baik saya bilang walau itu pahit kalau memang tidak bisa daripada janji, tapi tidak juga dipenuhi.”

Tina memang seorang ibu, dan hati keibuannya itu ia bawa dalam membangun Mamuju. Setiap pekan Tina terus berjalan. Ia turun ke bawah. Ia menemui warga Kabupaten Mamuju yang ada di kecamatan. Semua kecamatan yang ada di Kabupaten Mamuju telah ia kunjungi. Tina pun kerap dengan petuah hebat ini: bermimpilah setinggi langit, tapi ia tak mau muluk-muluk.

Ia ingat saat kampanye dulu ketika ada seorang warga yang menghampirinya. Warga itu bilang tidak memanen hasil buah langsatnya lantaran kendala jalan dari kampungnya ke kebun. “Bu, langsatku tidak kupanen.”

Mendengar itu Tina kaget. Warga itu menjelaskan, panen langsat itu perlu tenaga untuk memanjat. Buahnya dibawa ke pasar dijual pakai biaya (ongkos bahan bakar minyak) karena tentu pakai kendaraan motor. Itulah kemudian ia memutuskan tak memanen buah langsatnya. Mamuju adalah tetangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Panajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Tina memandang prospek bagi Mamuju dengan adanya IKN.

“Harus ambil peluang kita, kita tetangga dengan Kalimantan.” Tina menggaransi jika Mamuju mampu menjadi penyangga IKN di bidang pertanian dan peternakan, Mamuju membuka diri. Tina mengajak kepada siapa saja untuk datang ke Mamuju.

“Kita mau bagaimana daerah kita maju. Kami sangat wellcome dengan investor yang mau masuk, hanya jangan untuk mengeruk kekayaan Mamuju saja.”

Dimensi politik Mamuju memosisikan DPRD Mamuju sebagai pilar politik yang sangat penting. Pemerintahan Tina sejak awal telah mem bangun hubungan baik dengan dewan. Pascapilkada lalu, Tina berusaha menepis anggapan jika di Mamuju ini masih ada kubu-kubuan. Tidak ada lagi koalisi, friksi, dan lain sebagainya.

Tina mengaku bahwa hubungan bupati dengan dewan baik-baik saja. Malah di pihak dewan mengapresiasi positif kepada pemerintah daerah dengan kesigapannya sehingga pembahasan dan pengesahan APBD Mamuju cepat tuntas. “Di masa Ibu, APBD tepat waktu,” puji sejumlah orang di dewan Mamuju.

Bupati Tina dan jajarannya di Pemkab Mamuju membangun komunikasi baik dengan DPRD Mamuju. Kadang saling telepon atau bertemu. Ia cerita, kadang juga kalau sudah selesai rapat paripurna di DPRD Mamuju diteruskan makan bersama dengan anggota parlemen Mamuju.

“Saya ajak makan, traktir. Di waktu yang lain mereka juga yang traktir kita. Jadi gantian. Silaturahmi kami tidak terputus. Kadang masalah, jika memang ada, kita selesaikan di meja makan,” cerita Tina.

Tak mesti jumawa memang. Tapi anggapan yang datang dari dewan Mamuju bahwa nanti di periode kepemimpinan Tina-lah terjadi pemandangan lain dari biasanya. Dan kebiasaan baik itu ia pertahankan hingga sekarang. Mamuju beruntung dan mendapatkan keuntungan sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.

Salah satunya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mamuju meningkat khususnya dari sektor jasa. Keuntungan lainnya karena akses komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bisa cepat. Bandingkan dengan kabupaten lain yang jaraknya cukup jauh dari Mamuju.

Berangkat dari kabupaten bisa berjam-jam lamanya baru tiba di Mamuju atau pusat provinsi. Nilai positif bagi Pemkab Mamuju sebab Mamuju sebagai ibu kota provinsi. Sumber daya manusia (SDM) yang ada di Pemkab Mamuju harus terus ditingkatkan. Sulit memang sang komandan Tina dan Ado mau berlari jika pasukannya di bawah bahkan tak bisa jalan cepat sekalipun.

Tak mungkin komandan jalan sendiri. Para pelaksana teknis, yakni pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Mamuju mesti terus memacu pengembangan sumber daya mereka. Biar didorong bagaimanapun jika memang sumber daya sudah begitu, ya he will be another death.

Tina tak muluk-muluk membangun yang aneh-aneh. Jika masih ada warga Mamuju untuk melahirkan saja harus kehilangan motor, misalnya. Biaya persalinan itu mahal, untuk operasi sesar misalnya. Jika ada seorang ibu mau melahirkan dan si suami lagi tak punya uang, ya terpaksa jual motor, yang mungkin motor itu adalah salah satu harga paling berharga dalam keluarga mereka.

Yang lebih menyakitkan jika ada warga menderita penyakit yang lebih parah, mungkin sampai menjual rumahnya untuk biaya berobat. Ini sangat miris sekali. Itu yang mendorong Tina membenahi sektor kesehatan di Kabupaten Mamuju. Sebanyak 17 ribu warga Kabupaten Mamuju yang jadi tanggungan BPJS Kesehatan secara tiba-tiba tak lagi menjadi tanggungan BPJS Ke sehatan karena Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tak menganggarkan lagi tanggungan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk warga miskin.

Ini terjadi di tahun 2021. Tahun pertama ia memerintah, Pemkab Mamuju belum siap menanggung pembiayaan 17 ribu peserta BPJS Kesehatan kategori miskin itu. Selain masih belum pulih wabah Covid-19, gempa pun datang. Tahun pertama adalah ujian sungguh berat bagi Tina dan Ado di Mamuju.

Solusi pertama pada APBD-Perubahan tahun 2021, Pemkab Mamuju anggarkan sekitar Rp6 miliar untuk alokasi peserta BPJS Kesehatan. Nanti pada tahun anggaran 2022 Pemkab Mamuju naikkan anggaran untuk tanggungan BPJS Kesehatan miskin sebesar Rp60 miliar.

Dengan angka yang besar ini, Tina mengatakan 98 persen warga Kabupaten Mamuju tertanggung dalam program BPJS Kesehatan. Kehendak Tina tentang infrastruktur yang baik di semua kecamatan. Tapi konsentrasinya di bidang kesehatan dan pendidikan dulu. Ilustrasi Tina begini: Ngapain jalan bagus kalau harus jual motor atau rumah untuk biaya pengobatan saat sedang sakit.

Ia tak sudi melihat warganya harus terjerembab miskin hanya karena didera biaya kesehatan yang tinggi. Karena itu, BPJS Kesehatan adalah salah satu solusi yang paling efektif. Kehadiran Rumah Sakit (RS) Mitra Manakarra Mamuju, bahkan menjadi solusi lain bagi warga yang sedang berobat di situ, yang tak tertanggung BPJS Kesehatan.

Hampir tiap hari ada saja warga yang dilayani secara gratis. Jangankan itu, bahkan ada yang pulang pergi ke rumahnya pun ditang gung biayanya oleh manajemen RS Manakarra. Inilah realitas. Mau apa lagi. Dengan fakta ini, Tina pernah mencurahkannya pada ayahnya.

“Pak, saya sudah alokasikan di BPJS Kesehatan, masih mau dilayani pulang pergi ke rumahnya!” Apa jawaban SDK? “Memang begitu, Tina.”

Dalam percakapan itu, ayahnya menyarankan kepada Bupati Tina, “Kalau ada uangmu, ya, kasih. Kalau tidak ada, ya kasih saja seadanya.”

Soal tamu di rumah jabatan menjadi perhatian SDK. Ia mulai memperingatkan kepada para petugas Satpol PP yang berjaga di waktu malam di Rumah Jabatan Bupati Mamuju agar mengingatkan Bupati Mamuju Sutinah Suhardi tak menerima tamu sampai pukul 12.00 malam.

Semangat Tina yang membuncah, tapi ayahnya mulai khawatirkan kesehatan anaknya. “Jangan biarkan Ibu Bupati terima tamu sampai jam 11.00 apalagi sampai jam 12.00 malam,” sebut Tina menirukan pesan ayahnya. Dunia media sosial (medsos) adalah dunia Tina. Ia mengendalikan beberapa channel medsos atas namanya: Instagram, Facebook, hingga WhatsApp.

Tina mengapresiasi segala respek netizen, terutama jika dengungan mengenai pembangunan Kabupaten Mamuju, atau bahkan yang personal, tapi positif. Ia tak suka jika ada warga pengguna digital yang sengaja memancing emosi.

“Kita ‘kan perempuan.” Ia bilang tak mungkin bisa membaca semua komentar yang ada di halaman medsosnya, apalagi kalau komentar itu agak kebablasan. Ia merasa enjoy dengan medsos.

“Sosmed itu juga ‘kan termasuk pengontrol saya. Jadi kalau saya baca komen, oh, masyarakat suka yang seperti ini, masyarakat tidak suka yang seperti ini.”

BUPATI MAMUJU HJ. ST. SUTINAH SUHARDI, SH, M.S.i. (FOTO: ISTIMEWA)

Dengan begitu, ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan.” Tina menyebut tak sedikit informasi yang ia dapatkan justru dari sosmed, bukan dari OPD. Ia bilang kepada bawahannya, dirinya ada di mana-mana. Artinya, dengan komentar masyarakat ia sudah tahu apa yang terjadi, atau masyarakat mengeluh apa, di OPD masing-masing.

Jabatan itu amanah. Tina sendiri tak pernah membayangkan akan jadi bupati. “Saya tidak pernah membayangkan akan bisa di sini,” kata Tina di Sapota, rumah jabatannya.

Dengan itulah maka ia tak mau terlalu dilayani. Sebisa mungkin bisa mandiri. Ia mafhum bahwa suatu hari kelak akan kembali jadi warga biasa. Dengan prinsipnya itu, terkadang kalau sedang berada di luar, ada orang yang tak mengenalinya dia bupati.

Jarang ia membawa-bawa jabatannya pada orang. Sama halnya ketika masih kepala dinas. Waktu masih kadis dulu, pernah suatu kali mengikuti Rakor Dinas di Jakarta. Pada saat ia menyerahkan surat tugas kepada salah seorang panitia rakor, ia malah ditanya, “Bu, mana kepala dinasnya!”

Sejurus dengan itu Tina menjawab, “Saya kepala dinasnya.” Si petugas rakor tersebut seolah tak percaya jika Tina sendiri yang kadis. Soal jabatan itu Tina anggap biasa saja. Ada yang sinis dengan menyebutnya ia masih kecil, masih terlalu muda, dan lain sebagainya. Lalu apa yang Tina ungkapkan?

“Kalau memang dalam hati kita itu murni mau membangun daerah kita baik, Insya Allah ada jalannya. Doa saya hanya satu, Insya Allah saya sayang daerahku.”

Jabatan bupati dengan segala apa pun di pundak, bagi Tina dianggap biasa saja. “Suami saya sudah lebih dari cukup. Apalagi yang saya cari. Tapi karena kecintaan daerah, jadi tidak bisa dibohongi, gitu.”

Menjadi kepala dinas yang berhubungan dengan perdagangan, ya paling bisa bantu pedagang. Menjadi bupati bisa bantu guru, petani, nelayan, dan termasuk mahasiswa. Dengan niatnya itulah, ia menyebutnya begini: “Jadi mungkin niat itu barangkali sehingga dipermudah oleh Allah. Niatku lurus. Iya, ada orang di luar yang tak suka, terserah! Tidak bisa kita paksa semua orang untuk suka sama kita.”

Tina bersandar semata niat lurus bagaimana agar daerahnya baik. Niat membangun Kabupaten Mamuju lebih baik. Bahwa ada yang tak menerima, ia sadar hal itu hak setiap orang. Tina mampu menerjemahkan pada posisi di mana ia saat ini. Posisi yang tentu kemilau bagi pandangan orang di luar.

Ungkapannya ini mengandung energi dan pencerahan yang kuat: “Ini namanya sudah jalan kita, di atas itu sudah tertulis bahwa yang akan jadi bupati, oh ini, tinggal jalannya kita meraih itu.” Ia akan terus bekerja dengan baik.

“Saya ini kerja yang baik saja nanti masyarakat yang menilai.” Tina memiliki saudara yang banyak. Tak seorang pun di antara mereka yang mencampuri urusan dalam pemerintahan, dalam kekuasaannya. Bagi kerabat paling dekatnya, ia ingat pesan ayahnya: “Sebisa mungkin tidak mencamputi urusan pemerintahan.”

Sumber: Buku Jejak Langkah dan Pemikiran Bupati di Sulawesi Barat, 1960-2023 (Penerbit Buku Kompas, Desember 2023)

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini