Mengenang Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

783
ASRO KAMAL ROKAN, Wartawan senior Indonesia di Jakarta. (Foto: Istimewa)

INI adalah tulisan di Kolom Resonansi Republika, 29 Desember 2004, empat hari setelah tsunami Aceh. Tsunami diawali gempa teknotik berkuatan 9,1 MW di Samudera Hindia.

Menurut data Bank Dunia, sekitar 169.000 jiwa korban meninggal dari Indonesia. Total jumlah korban tewas, termasuk Sri Lanka, India, Bangladesh, Thailand, Maladewa, Malaysia, dan Somalia – yang dilanda tsunami bersamaan — mencapai 230.000 jiwa.

Tsunami terjadi pada pukul 07:58:53. Beberapa jam setelah itu, media-media di Jakarta, tidak dapat segera memberitakan bencana terbesar kelima di dunia tersebut, karena komunikasi putus total. Kami di Republika, baru mendapat gambaran jelas dua hari kemudian.

*****

Ya Allah, Hanya Sekejap ….

Oleh ASRO KAMAL ROKAN

TIDAK seorang pun dapat mengetahui apa yang akan terjadi jam-jam berikutnya, apalagi esok hari. Ahad, 26 Desember, pagi, Nanggroe Aceh Darussalam bergerak normal, seperti hari-hari sebelumnya. Angin menyapa daun-daun kelapa di pinggir pantai. Ibu-ibu pergi ke pasar. Sebagian anak-anak bermain riang di halaman rumah, ada juga masih tertidur lelap. Tiba-tiba terdengar dentuman sangat keras.

Ya, Allah, gelombang air setinggi empat sampai sepuluh meter bergulung-gulung dan berlari sangat cepat. Ibu-ibu mencoba menggapai anak-anaknya, namun gelombang jauh lebih cepat merampasnya. Anak-anak berlari sekuat ia mampu, namun kaki mereka begitu kecil, langkah mereka tertatih-tatih.

Mereka terseret jauh, berpisah, dan tak pernah lagi berjumpa selamanya. Orang-orang di pasar panik, mereka berhamburan menyelamatkan diri. Namun gelombang mendahului mereka, dan mereka hilang entah ke mana.

Gelombang pasang telah memisahkan ibu dengan anaknya, memisahkan suami dengan istrinya, memisahkan orang-orang tercinta. Rumah-rumah roboh, pohon-pohon tumbang. Semua lindap, merapat ke tanah –seperti bersujud.

Kaki-kaki kecil itu, kaki para bayi, yang tadinya bergerak lincah, kini kaku selamanya. Ketika air surut, mayat-mayat bergelimpangan. Ribuan jumlahnya. Anak-anak kecil itu, bayi-bayi itu, orang-orang tua renta, perempuan-perempuan, wafat dibalut lumpur. Ada yang tertimbun bersama pepohonan dan rumah yang rubuh.

Ya, Allah, hanya sekejap, hanya sekejap, semua lindap. Kita saksikan bencana di Aceh dan Sumatera Utara ini. Kita saksikan, di layar televisi, ibu-ibu menangis putus asa, mayat-mayat bergeletakan bahkan tersangkut di pohon-pohon.

Namun hanya sejenak, setelah itu televisi menayangkan sinetron kehidupan mewah remaja kota, tayangan mistik, dan tari-tarian semiporno — seperti tidak ada bencana. Tidakkah ada sedikit waktu untuk lagu-lagu kebangsaan, membangkitkan rasa nasionalisme, penyadaran, dan kesetiakawanan sosial. Apa susahnya?

Di kota-kota besar, tak banyak bendera setengah tiang dikibarkan. Seakan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang berpunya sedang bersiap-siap untuk pesta akhir tahun di hotel mewah dan keluar negeri. Hotel-hotel dan tempat hiburan menyiapkan paket puluhan juta rupiah.

Ya Allah …., terlalu banyak berhala kami sembah: kesenangan dunia, harga diri, kesombongan, dan materi. Kami lebih suka mencari dunia, lupa pada akhirat. Mencari kehidupan, lupa pada kematian. Kami memburu harta tak henti-hentinya, tapi lupa hanya dalam sekejab ia bisa musnah. Kami mencari kegembiraan, tapi lupa dalam beberapa detik dapat berubah menjadi tangisan.

Ya Allah …, kami selalu berpikir dapat melakukan semuanya tanpa campur-tangan-Mu. Kami melakukan apa yang kami kehendaki, tanpa berpikir bahwa kehendak-Mu yang berlaku. Kami berpikir dapat mengatur semuanya, tapi lupa bahwa Kau-lah Maha Penentu.

Ya, Allah …, kami tersesat. Beri kami kesempatan untuk pulang.

Republika, Resonansi, Rabu, 29 Desember 2004

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini