Rumah keluarga Makmur berukuran 3x4 meter. Keluarga ini tinggal Lingkungan Perumtel, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Polman. (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.com, Polewali – Hidup di bawah garis kemiskinan tak membuat semangat sepasang suami istri ini patah arang. Ia tak surut melangkah demi menghidupi dan membesarkan tiga orang anaknya.

Satu keluarga ini adalah warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Seorang ayah yang bernama Makmur (42). Sejak 11 tahun silam Makmur kerja sebagai tukang becak. Dari mengayuh pedal becak itulah rezekinya mengalir untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Tapi profesi Makmur itu secara perlahan tersingkir. Zaman telah berubah. Beberapa tahun terakhi orang lebih memilih becak motor (Bentor) daripada becak manual.

Hasrat memiliki Bentor juga ada, tapi sayang keadaan ekonominya membuatnya harus memendam hasratnya itu.

Belakangan pula kebugaran Makmur sudah menurun dan sudah sering sakit-sakitan. Kini ia didera suatu penyakit yang ia tak mau ungkapkan.

Untuk menyambung hidup, sudah setahun lamanya bersama kedua anaknya jadi pemulung. Plastik bekas yang ia kumpul itu ia jual Rp2.000 perkilo.

“Kami biasa dapat uang sekitar Rp50.000 dari hasil kumpul-kumpul plastik bekas. Uang itu cukup kami makan sehari,” kata Makmur kepada kru laman ini di rumahnya pada Selasa, 2 Juli 2019.

Makmur punya seorang istri, Ramlawati (33). Bersama keluarga kecilnya, ia rela meninggali sebuah gubuk kecil yang hanya berukuran 3×4 meter. Atapnya pakai seng, dinding papan yang tampak rapi, padat.

Keluarga ini sudah lama menetap di Lingkungan Perumtel, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Polman. Rumah gubuk dengan ukuran sebesar itu ditinggali lima orang: Mardi (8) anak pertama, Rahmat (7) anak kedua, dan si bungsu Putri (3).

“Dulu waktu masih ada becak kadang-kadang dapat penghasilan dalam sehari Rp80.000. Tapi sekarang karena sudah tidak ada becak jadi cuma bisa cari-cari plastik bekas untuk dijual. Saya dibantu dua anak saya. Kadang juga kami bisa dapat Rp50.000an perhari. Cukup dimakan saja,” ujar Makmur kepada transtipo.

Upah sebesar itu memang tak sebanding dari keringatnya yang mengucur, tapi inilah cara Tuhan menuntun keluarga ini mengarungi hidupnya. Ia tetap sabar, tabah. Ia berjanji akan terus berusaha semampunya, dan sebongkah harapan juga tak meruap benar dalam relungnya.

Dan, pada suatu waktu, Pemerintah Kabupaten Polman tiba-tiba datang menengok keluarga yang tak berpunya ini. Mereka datang tidak dengan tangan hampa. Bantuan tak terkira bagi keluarga ini dengan diberinya program bantuan pembangunan rumah tidak layak huni.

“Alhamdulillah, terima kasih yang setinggi-tingginya kami ucapkan kepada pemerintah yang telah peduli terhadap kami dengan diberi dana untuk pembangunan rumah. Alhamdulillah,” syukur Ramlawati tiada terkira.

Makmur dan anak-anaknya pun seolah tak percaya dengan bantuan ini, tapi ini nyata adanya. Mereka bersyukur, sungguh-sungguh.

“Akhirnya kami juga akan punya rumah seperti milik orang-orang di sekitar. Kami tidak lagi tidur berdempetan dengan anak-anak dan barang-barang yang ada di atas rumah,” aku Makmur dalam tatapan hampa, sebuah tanda ia sangat bersyukur pada yang Kuasa—dan pada Pemkab Polman tentunya.

Pada akhir keluh dan riang gembiranya, ia bilang, “Semoga ini menjadi berkah, Aamiin.”

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR