Para wisman sedang memeragakan tari bersama sejumlah siswa SMAN 3 Polewali, Jumat, 4 Agustus 2017. (Foto: Media Center PIFAF)

Ragam musik dan tarian di PIFAF, bangun karakter siswa.

TRANSTIPO.com, Polewali – Workshop kebudayaan antar bangsa dan pendidikan karakater berlangsung di SMA Negeri 1 Polewali dan SMA Negeri 3 Polewali, Jumat pagi, 4 Agustus 2017.

Pelatihan atau pertukaran pengetahuan dan pengalaman ini berlangsung dalam suasana persahabatan. Guru, siswa, dan para turis peserta FIFAF berbaur satu sama lain. Mereka membangun hubungan kerjasama dan harmonis demi meningkatkan mutu pendidikan karakter.

Melalui workshop atau training kebudayaan interaktif yang dipertunjukkan peserta PIFAF, lebih kepada bagaimana menumbuhkan keserasian dari perbedaan kultur masyarakat.

Pelajar di Polewali Mandar (Polman) belajar dari melalui penerapan kesenian tari dan musik satu sama lain. Terdapat perbedaan gerak dan arti, namun memiliki karakter yang kuat bahwa kesenian lahir dari media.

Dalam kebudayaan—seni dan tarian misalnya—menjadi media menjalin persahabatan masing-masing dari negara yang berbeda.

Dari keragaman musik dan tarian yang mereka peragakan di Jumat itu telah mengundang canda dan tawa di kalangan remaja yang tampak berseragam pramuka itu. Mereka—semuanya—larut bersenda gurau dan saling belajar satu sama lain.

Kunjungan wisatawan dari 17 negara sebagai peserta PIFAF 2017 ini, di hari keempat perhelatan kebudayaan dunia ini, berkunjung ke sekolah unggulan: SMAN 1 Polewali dan SMAN 3 Polewali.

SMAN 3 Polewali adalah sekolah yang dijuluki green school adiwiyata. Sekolah ini menyambut antusias kehadiran delegasi kebudayaan dari negara Korea Selatan, India, dan Malaysia.

Burhanuddin Bohari, Kepala Sekolah SMAN 3 Polewali mengatakan, dengan program adwiyata diharapakan tumbuh kembang karakter yang berbudaya malaqbiq terpelihara.

“Kami keluarga besar SMAN 3 Polewali menyambut gembira kedatangan warga negara Korea Selatan, Malaysia, dan India sebagai peserta PIFAF. Kami bisa menyaksikan bagaimana sebagian dari budaya yang mereka tampilkan, baik tari, menyanyi, dan alat-alat musik yang mereka miliki. Demikian pula, anak-anak didik kami—bahkan kami sendiri—menjadi memiliki wawasan tentang budaya ada di negara-negara mereka. Kami bersyukur dapat wawasan baru,” kata Burhanuddin Bohari.

Penutup, wakil dari India memeragakan kekuatan bunyi yang berasal dari mulut dan jari dengan meniup alat musik.

MEDIA CENTER PIFAF/FRENDI CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR