Saiman (kiri) bersama sapi miliknya yang dibeli oleh Presiden Joko Widodo, difoto di Wonomulyo, Selasa pagi, 29 Agustus 2017, sekitar jam 10.30 wita. (Foto: Burhanuddin HR)

Berita ini sekaligus ralat: jika sebelumnya laman ini sebut Saeman, yang benar Saiman—nama peternak di Wonomulyo, pemilik sapi yang dibeli Joko Widodo—yang sepekan ini jadi viral dalam berita.

Simak penjelasan Saiman, seorang peternak beruntung dan tentu bangga.

TRANSTIPO.com, Polewali – Lelaki Saiman, 57 tahun. Sehari-harinya ia beternak sapi, juga bertani. Ia menetap di Desa Campurjo, Wonomulyo, Polman.

Sapi milik Saiman adalah hasil inseminasi buatan (IB) mandiri. Inseminasi buatan atau IB pada ternak adalah teknik memasukkan mani/semen ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat yang sedang birahi melalui campur tangan/bantuan manusia (petugas inseminator).

Dengan begitu hewan/ternak tersebut jadi bunting. Makna birahi—pada sapi dalam konteks ini tentunya—adalah suatu kondisi di mana sapi betina siap atau bersedia dikawini oleh sapi pejantan dengan disertai gejala yang khas.

Dari seorang inseminator, Mantri hewan di Campurjo yang bernama Rusli, di situlah Saiman ‘berguru’ yang kemudian lahirlah sapi dengan timbangan 1,1 ton.

Berkat program inseminasi buatan mandiri itulah, Saiman beroleh kelahiran seekor sapi yang belakangan ini jadi pesohor—ditulis dan diperbincangkan banyak orang, paling tidak di Sulbar ini, mungkin pula di Istana Negara, Jakarta.

Sapi milik Saiman itu tumbuh dari hasil kawin suntik jenis Simmental asal Lembah Simme Swiss. Sekitar tiga tahun lalu, seekor induk sapi milik Saiman melahirkan sapi hasil olahan modernisasi teknologi peternakan.

Kini sapi hitam pekat dengan bulu pada kulit kepala agak memutih itu telah jadi milik Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, sebab beberapa hari lalu Ali Baal Masdar ‘dapat perintah’ dari Jakarta untuk mencari seekor sapi, dengan syarat ia harus seberat 1 ton.

Saiman beruntung punya sapi yang melampaui ukuran timbangan yang dipersyaratkan ‘Jakarta’ itu. Pada sebuah kandang berpetak kecil yang sederhana berdiri kokoh seekor sapi gemuk padat berisi, dan dinyatakan sehat atau layak disembelih di hari qurban oleh pihak Distanak Polman.

Di Wonomulyo, Selasa, 29 Agustus, pagi ini sekitar jam 10.30, Saiman menerima Burhanuddin HR—kru laman ini. Memang, sejak semalam—melalui telepon pintar tanpa kawat—sudah ada janji untuk wawancara hari ini.

Dalam wawancara singkat itu, Saiman bilang, “Saya Ikhlas menjual pak karena Kepala Negara yang mau beli. Beliau mau jadikan sapi Qurban yang akan diperuntukkan warga desa yang layak menerima. Sapi saya besarnya 1,1 ton dengan tinggi 170 centimeter itu mulai dilirik sejak ikut kontes di Kabupaten Mamuju, beberapa waktu lalu,” cerita Saiman kepada laman ini.

Masih cerita Saiman, salah seorang tetangganya bernama Kaharuddin. Lelaki ini adalah seorang insinyur peternakan. Dari Kaharuddinlah yang beritahu Saiman bahwa Presiden Joko Widodo ingin beli sapi miliknya.

“Awalnya saya belum yakin pak,” aku Saiman. Namun, Usman Padong, kepala desa di tempat itu, yang datang yakinkan Saiman. Keyakinan Saiman sudah bulat ketika Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar dan rombongan dari Distanak Polman tandang ke rumahnya, Senin, 28 Agustus.

Selain menyampaikan kabar tentang niat Joko Widodo hendak beli sapinya, Ali Baal sekalian lihat langsung sapi itu, Senin itu juga.

“Besok, Rabu, 30 Agustus, akan ada utusan pak Joko Widodo datang menemui saya sekaligus mengantarkan uang pembelian sapi tersebut. Namun harga sapi saya masih rahasiakan, tempatnya juga rahasia,” kata Saiman, pagi tadi.

Saat perbincangan ini, Saiman tak sendiri. Ia ditemani oleh Sutrisno, Ketua Kelompok Tani Ternak Campurjo.

“Banyak orang tak tahu kalau sapi saya ini tumbuh besar. Tak pernah saya bayangkan sapi saya akan dibeli oleh Presiden Indonesia,” kata Saiman di ujung perbincangan.

BURHANUDDIN HR/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR