Tampak sejumlah polisi dari Polres Polman, Sulbar, berjaga-jaga saat proses otopsi mayat Abdul Waris dilaksanakan di Pekuburan Islam Ugi Baru, Mapilli, Polman, Sulbar, Kamis, 7 September 2017. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Abdul Waris dikenal sebagai sang juragan kuda. Pada 6 Juni lalu, Abdul Waris telah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya alias meninggal dunia.

Konon, pada 6 Juni lalu itu, ia dibunuh ‘orang tak dikenal’ di Desa Ugi Baru, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar (Polman).

Desas-desus berkembang di Polman, pembunuh Abdul Waris dilakukan oleh “orang dekatnya” sendiri. Yang terendus dari sejumlah sumber, katanya, Abdul Waris meninggal lantaran diracuni oleh “seseorang” atas suruhan “orang dekatnya” itu.

Misteri kematian sang juragan itu membuat Polres Polman akan otopsi—investigasi medis atau memeriksa sebab kematian jenazah—Abdul Waris. Penggalian kubur almarhum dilakukan pada Kamis, 7 September 2017.

Penggalian kubur ini dilakukan oleh tim Didokpol Polda Sulawesi Selatan dan Polda Sulawesi Barat yang dipimpin oleh dr. Eko Yulianto.

Hadir menyaksikan otopsi di Pekuburan Islam Ugi Baru itu adalah Kapolres Polewali Mandar AKBP Hanny Andika, Kejaksaan Polewali Mandar diwakili oleh Jaksa Hafiz, Kapolsek Wononmulyo Kompol Jufri Hamid, dan Kasat Reskrim Polres Polewali Mandar bersama sejumlah personil dari Polres Polewali Mandar.

“Hasil sementara yang kita temukan diduga racun yang ada adalah pestisida (zat kimia), jenis racun rumput. Namun hasil pemeriksaan yang lebih jelas akan kami sampaikan,” kata ketua tim dokter Polda Sulawesi Selatan dr. Eko Yulianto kepada sejumlah wartawan.

Sementara, Kapolres Polewali Mandar AKBP Hanny Andika saat jumpa pers itu mengatakan, dalam waktu satu minggu hasilnya kita sudah bisa peroleh dan pasal hukuman bagi pelaku sudah bisa diputuskan.

Hal senada disampaiakn oleh Jaksa Hafiz, bahwa ketentuan yang akan tertuang dalam putusan hukuman bagi pelaku dasarnya hasil otopsi. “Mengenai putusan hasil sebaiknya lewat penyidik Polres,” kata Jaksa Hafiz.

Salah seorang warga Ugi Baru, Amir, berbicara kepada wartawan di lokasi pekuburan. Menurut Amir, cukup mengagetkan kita sebagai warga di sini.

“Berpuluh-puluh tahun saya berada di Ugi Baru, baru kali ini ada peristiwa seperti ini. Itulah sebabnya ratusan warga hadir menyaksikan penggalian mayat Abdul Waris,” kata Amir.

Muh. Amin, Sumilah, Lataha, dan Latallu ikut membantu Haji Ridwan—bendahara pekuburan Islam Ugi Baru—saat penggalian kubur itu berlangsung.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR