Puluhan mahasiswa dari HMI Cabang Polewali Mandar (Polman) menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Polman terkait kegiatan PIFAF 2019, Rabu, 31 Juli 2019. (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.com, Polewali – Sekelompok Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar (Polman) menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Polman, Rabu 31 Juli 2019.

Dalm tuntutannya mereka meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polman melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispora) Polman transparan dalam penganggaran pagelaran Polewali Mandar International Folk & Art Festival (PIFAF) 2019 itu.

Pihak HMI di Polewali menilai, kegiatan yang menjadi agenda tahunan di Kabupaten Polman yang sudah digelar empat tahun belakangan ini, hanya menghabiskan anggaran daerah yang menurutnya cukup besar.

“Sementara output yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan masyarakat,” kata koordinator lapangan unjuk rasa, Muhammad Ridwan.

Dikatakannya, dengan kegiatan ini yang diasumsi untuk memperkenalkan kearifan atau budaya lokal yang ada di tanah Mandar, dengan menghadirkan sebanyak beberapa negara.

“Tapi yang terjadi hanya pada pagelaran PIFAF saja wisatawan asing terlihat di Polman, setelah itu tidak ada lagi,” katanya.

Olehnya itu, pihaknya mempertanyakan beberapa hal antara lain: transparansi anggaran PIFAF yang digelar pemerintah daerah Kabupaten Polman; mengevaluasi kinerja pemerintah dalam mengambil kebijakan; dan mempertanyakan output kegiatan PIFAF.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dispora Kabupaten Polman Andi Masri Masdar menjelaskan, pagelaran PIFAF ini merupakan satu langkah untuk mempromosikan budaya lokal yang ada di Kabupaten Polman. Namun, kata dia, hal ini membutuhkan waktu yang sedikit lama.

“Yang namanya promosi itu, ya, tentu membutuhkan waktu, tidak semudah membalikkan telapak tangan, pasti butuh proses, salah satunya melalui PIFAF,” terang Andi Masri.

Lanjut Masri menjelaskan, setelah pelaksanaan PIFAF sebelumnya, Kabupaten Polman telah memiliki sebuah perusahaan arang tempurung kelapa yang kemudian diekspor ke luar Negeri, yakni ke Cina dan Timur Tengah.

“Ini juga salah satu keberhasilan PIFAF sebelumnya. Jadi pelaksanaan PIFAF ini tentu ada efek positif bagi masyarakat Polman secara umum,” lanjutnya.

Adapun anggaran yang digunakan pada pagelaran PIFAF tahun 2019 ini, kata Andi Masri, hanya sebesar Rp200 juta yang diambil dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Polman.

“Selebihnya itu kami mendapat bantuan dari Kementerian Pariwisata berupa non-tunai untuk perlengkapan fasilitas pelaksanaan PIFAF,” ujarnya.

Ia menambahkan, bantuan yang diberikan oleh Kementerian Pariwisata itu untuk transport, biaya penginapan, dan publikasi. Sayangnya, pihaknya tidak menyebutkan nominal dari bantuan yang dikucurkan oleh Kementerian Pariwisata tersebut.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR