Penari dari negara Ekuador yang menghibur masyarakat Polewali dalam rangkaian kegiatan PIFAF 2019 di Kabupaten Polman, Rabu,7 Agustus 2019.(Foto: Humas Pifaf).

Peserta PIFAF Polman dari tahun ke tahun: 2016 diikuti 6 negara; 2017 diikuti 18 negara (12 negara peserta sebagai pendukung AIESEC dan 6 negara anggota CIOFF); 2018 diikuti 7 negara; dan 2019 diikuti 7 negara. Dari jumlah peserta itu sudah termasuk Indonesia.

TRANSTIPO.com, Polewali – Pelaksanaan Polewali Mandar Internasional Folk and Art Festival (PIFAF) yang berlangsung di area Sport Center Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) sejak 1-7 Agustus 2019 mendapat apresiasi dari Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) Indonesia.

Event berskala internasional itu menghadirkan peserta bukan hanya dari dalam negeri saja melainkan diikuti sebanyak 7 delagasi negara diantaranya, Republik Ceko, India, Korea Selatan, Ekuador, Slovakia, Timor Leste, dan Indonesia selaku tuan rumah.

Ajang bergengsi ini mengusung tema “Lestari Budayaku, Maju Pariwisataku” dimana ajang ini memberikan kesempatan bagi para seniman, budayawan dan komunitas seni dari Polewali Mandar dan di Sulbar secara umum, serta komunitas seni dari provinsi Sulawesi selatan untuk tampil dengan tarian khas masing-masing disaksikan para penggiat seni dari manca negara.

Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini memberi banyak pelajaran positif bagi masyarakat polman utmanya di bidang seni dan budaya. Kegiatan ini bukan hanya berlangsung di panggung utama PIFAF saja, namun para delegasi negara menyisir beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Polman untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui tarian khas negaranya.

“Selain seni dan budaya, hal ini juga menjadi langkah untuk promosi wisata di Polman agar dikenal di manca negara,” ujar Blog Master CIOFF Indonesia Ghina Aulia Megaputri di pantai Bahari Polewali, Rabu 8 Agustus 2019.

Seremonial acar di malam penutupan PIFAF 2019 di Polewali, Polman, Kamis malam, 7 Agustus 2019. (Foto: Wahyu)

Jika dilihat dari tahun ke tahun kata Ghina, pelaksanaan PIFAF ini terus mengalami peningkatan di segi berpartisipasi masyarakat, meskipun peserta dari mancanegara sedikit berkurang katimbang sebelumya.

Namun demikian peserta dari dalam negeri (Indonesia) menunjukkan seni tari yang berbeda dengan sebelumnya, juga datang dari daerah yang berbeda.

Silih berganti para peserta menampilkan atraksi budaya dan tarian tradisional dengan iringan musik khas daerah masing-masing.

“Ini bukti kalau Indonesia kaya budaya utamanya di Sulbar ini selalu tampil denga tarian berbeda juga diperankan peserta yang berbeda,” tutur Ghina.

Selain itu, kata Ghina, antusias masyarakat pun dalam menyambut kegiatan PIFAF ini cukup luar biasa, mulai dari pelosok hingga kota turut meramaikan kegiatan ini dengan semangat yang tinggi.

“Banyak bangat negara yang kepingin ikut pada ajang ini hanya saja beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sehingga yang kami ikutkan hanya 6 negara saja,” kata gadis cantik itu.

Menurut Ghina, pada pelaksanaan PIFAF selanjutnya rencananya akan dihadiri sebanyak 13 negara, namun itu tergantung dari fasilitas yang ada di Polman utamanya perhotelan.

“Ini kan uda menjadi agenda tahunan Kabupaten Polman, ya, jadi kita berharap ke depan ini dapat diikuti oleh delegasi negara yang lebih banyak lagi,” tandasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR