KURRAK, Kicau Burung dan Sejuta KOPI

548
ARIS, S.Ag, M.I.Kom (44 tahun) sedang berada di kebun kopi miliknya di Desa Kurrak, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar. (Foto: Ist.)
Aris bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, pada 19 Agustus 2015. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Polewali – Di zaman dahulu kala, seorang lelaki turun menyibak semak belukar menyusuri jalan mengikuti arah aliran sungai. Moyang yang tak terendus siapa gerangan itu, tungkai kakinya berhenti di suatu tempat.

Tempat itu persis di kaki gunung yang tinggi menjulang, hawanya dingin, tanahnya lembab nan subur, dan tiada hamparan datar yang luas.

Dalam penghentiannya bermuhibah itu, moyang ini mendengar bunyian yang khas. Bunyi itu berupa kicauan burung yang hinggap di dahan-dahan kayu yang rindang.

Suara burung itu seolah menyebut kata: kurrak… kurrak… kurrak.

Moyang ini kemudian menerjemahkan kicauan burung tersebut dengan kata Kurrak. Sejak itulah daerah yang kemudian ia tempati bermukim ini diberi nama Kurrak — kampung Kurrak.

Kesuburan tanah Kurrak menjadi alasan moyang penemu Kurrak ini berdiam dan memulai hidup yang baru di daerah pinggiran Sungai Kurrak.

Kisah ini dituturkan oleh Aris, seorang lelaki yang terlahir di kampung Kurrak 44 tahun silam.

ARIS bersama Menteri Perindustrian RI, Januari 2021. (Foto: Ist)

transtipo sengaja menemui Aris di Kurrak pada Kamis, 24 Juni 2021, dan wawancara sejak siang hingga malam.

Messawa

Nama kampung kicauan burung ini pada mulanya menjadi bagian dari Desa Messawa, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas), Sulawesi Selatan.

Beberapa tahun sebelum terjadi pemekaran kabupaten (induk) Polmas atau hadirnya Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Mamasa pada 11 Maret 2002, cerdik pandai dan tetua kampung di Kurrak memilih memisahkan diri dari Desa Messawa.

Kala itu, Kurrak berkesiap membentuk satu desa dengan terlebih dulu membagi tiga dusun, yakni Dusun Batu Appan, Dusun Pakkalombangan, dan Dusun Tanete.

Meski kemudian telah berpisah secara pemerintahan, tapi hubungan kekerabatan antara Kurrak dan Messawa terus terjalin erat hingga kini.

“Sampai kapan pun kami tidak akan pernah berpisah secara kultural dengan Messawa. Kakek-Nenek kami ada di sana, bahkan sampai ke Sumarorong, Tawalian, dan Mamasa,” kata Aris.

Kini Messawa telah menjadi Kecamatan Messawa, terpisah secara pemerintahan dengan Kecamatan Sumarorong (induk) seiring hadirnya Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat.

Seperti halnya Desa Kurrak, salah satu kawasan yang berdiam di pegunungan Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dua puluhan tahun lalu menjadi bagian pemerintahan Kecamatan Tapango.

Pemuda Kurrak yang Gesit

Haji Zainal P tercatat namanya sebagai Kepala Desa Kurrak pertama, meski di awal pembentukannya, Desa Kurrak sebagai persiapan.

Aris sedang berpose di kebun kopinya di Desa Kurrak. (Foto: Ist)

Lima tahun pertama dengan status desa persiapan dan lima tahun kedua dengan status defenitif, Haji Zainal memimpin desa ini.

“H Zainal itu bukan orang lain, masih kerabat dekat. Beliau om saya,” kata Aris.

Pemuda Aris melanjutkan kepemimpinan pamannya itu di kampungnya, Desa Kurrak.

Per tahun 2020, Desa Kurrak terdiri dari 2000 KK, 800an jiwa. Jika tak ada aral, Desa Kurrak akan melaksanakan pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Polman pada November 2021.

Jarak dari kota Polewali, ibu kota Kabupaten Polman, hanya 40-an kilometer. Bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 45 menit. Jalan beton relatif mulus.

Ada tanjakan di sekitar Desa Riso dan sebelum tiba di perkampungan Desa Kurrak, tapi tak terlampau panjang dan tak terjal pula. Mobil dan motor jenis apa saja leluasa melewati jalan hingga ke Desa Kurrak.

Pemuda Aris resmi menjadi Kepala Desa Kurrak sejak 2009. Haji Zainal rela anak ponakannya ini melanjutkan kepemimpinannya.

Sejak 2009 itu pula, pemuda Aris sudah jarang terlihat di kota Polewali dan sekitarnya. Ia suntuk berdiam di desanya bersama warga yang dipimpinnya.

Berbekal kuliah strata satu di perguruan tinggi negeri di Makassar, Sulawesi Selatan, dan kerja serabutan di sejumlah lembaga beberapa tahun di Polewali, adalah modalnya memimpin desa.

Aris memang dikenal rajin bekerja. Pekerjaan apa saja yang diamanahinya ia kerjakan secara ikhlas. Aris lebih mendahulukan keikhlasan dan kejujuran daripada imbal baliknya dari pekerjaan itu.

Mesin Palver (pemisah kulit dan biji basah). ( Foto: Sarman Sahuding)

“Bahkan ia rela jadi pengantar surat, baik itu lembaga swasta maupun kantor-kantor pemerintahan. Ia tak peduli dapat honor atau tidak. Cukup ia tahu bahwa motor yang ia pakai antar surat ada bensinnya, meluncurmi itu Aris,” kisah Suparman Bada’ali (42 tahun), sahabat Aris dari Mambi, Kabupaten Mamasa.

Aris sungguh telaten. Ia tak pernah malu, apalagi gengsi.

Saat masih bujang dulu, antara 1996 hingga 2005, Aris bukan siapa-siapa. Nyaris tak punya apa-apa — untuk dirinya dalam mengelana hampa di kota.

Pulang ke Kurrak saja saban akhir pekan, ia harus menunggu sepeda motor mana milik kawan-kawannya — tepatnya senior-seniornya — yang free alias tinggal menganggur untuk bisa ia pakai meluncur ke kampungnya.

Meskin bermodal motor asal bisa bunyi mesin saja dengan bahan bakar seadanya, Aris pulang kampung. Tas hitamnya ia lingkarkan di badan, lalu susuri jalan tidak siang tidak malam.

Ia menghilang dua atau tiga hari dalam sepekan. Begitu seterusnya, menahun. Antara tahun 1996 hingha 2005.

Ia pemuda polos tanpa menyadarinya bahwa ia seorang sarjana agama. Aris berpolah tingkah lurus semata.

Dalam hidup Aris, Tuhan seolah takdirkan bahwa “keindahan” hidupnya dimulai pada 2006. Akan dikisahkan kemudian di bagian penghujung untaian kisah ini.

Periode Kedua

Hanya sekitar 8 kilometer jarak antara Kurrak dan Tapango, ibu kota Kecamatan Tapango. Jarak tempuh pendek bagi Aris. Sungguh memudahkan baginya lalu-lalang ke kantor kecamatan: mengurus persuratan dan tentu membawa administrasi kebutuhan identitas kependudukan warganya, misalnya.

Mesin Heller (pemisah biji kering). (Foto: Sarman Sahuding)

Aris terpilih jadi Kepala Desa Kurrak untuk periode enam tahun kedua pada 2015. Sejak itu bejibun urusannya melayani warga desa.

Sejak periode keduanya, Aris beruntung pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa. Turunan undang-undang inilah lahir Dana Desa.

Dana Desa ini kebutuhan membangun desa di seluruh Indonesia. Salah satu filosofinya adalah membangun Indonesia dari pinggiran.

Aris membangun Desa Kurrak. Benar. Dalam visi misinya di periode keduanya, ia menahbiskan pemberdayaan ekonomi Desa Kurrak yang bertitik tolak pada perkebunan.

“Perkebunan yang kami miliki. Ini sudah semacam Kodrati kami selaku warga yang tinggal di pegunungan. Akan mengembangkan tanaman kopi sebagai komoditi unggulan masyarakat di desa kami,” ujar Aris.

Aris punya ingatan sejarah. Sejak dulu, bahkan pada tahun 1980-an, Kurrak dan kampung-kampung di pegunungan lainnya, adalah penghasil kopi. Tapi setelah datang tanaman kakao (cokelat), tanaman kopi seolah termarjinalkan.

Padahal, kata Aris, tanaman kakao ini rewel. Tanaman ini pulalah yang merubah mata pencaharian warga kampung.

“Mulai sejak itu, tananam kakao yang dikerja, maka menurunlah penghasilan kopi,” ketus Aris.

Memori tentang kopi, membenam kuat dalam sanubari Aris. Komoditi tanaman kopi ini ia jadikan tawaran kepada warga desa sebagai komoditi unggulan.

“Kopi saya jadikan sebagai hasil bumi dan saya kukuhkan jadi inovasi Desa Kurrak,” tekad Aris.

Mesin Sortasi (pemisah biji yang sudah standar). (Foto: Sarman Sahuding)

Pasca pelantikan dirinya sebagai Kades Kurrak, ia mempersiaplan diri menata dan meniti di atas visi dan misi yang telah dijadikan branding membangun Kurrak.

2016 ia rapikan pemerintahan. 2017 ia mengemas diri dengan buat percontohan di lahan warisan orangtuanya. 2018 ia mulai menanam bibit kopi pada lahan kebun seluas 30 hektar, bersama-sama warga desa.

Aris tak main-main. Ia tak mau setengah-setengah. Warga desa melihatnya. Telah kukuh dalam bathinnya hendak membawa biduk Kurrak ke bentang yang jauh: membawa tanaman kopi melaju, menjadikan rupiah dan dollar menanjak ke bukit-bukit Desa Kurrak.

Dan, terbukti — kemudian.

Bibit kopi yang ditanam di atas lahan kebun yang jauhnya hanya satu kilometer dari pemukiman warga desa tumbuh subur.

Kebun kopi seluas 30 hektar di Kurrak itu adalah milik warga Desa Kurrak. Masing-masing punya lahan, masing-masing pula mengampunya tanaman kopi. Aris sendiri hanya punya sekitar beberapa hektar yang di atasnya tumbuh 6 ribu pohon kopi. Tumbuh subur, rupiah menanti.

Puluhan ribu kopi tumbuh di Kurrak. Bibit kopi ia datangkan dari Jember, Jawa Timur. Ia pilih Jember sebagai daerah pemasok bibit kopi, sebab yang Aris ketahui, Jember adalah salah satu pusat pengembangan tanaman kopi terbaik di Indonesia.

Atas kesepakatan warga, ia pakai Dana Desa 2018 untuk pembelian ribuan bibit kopi tersebut.

2019 Aris bersama warga desa telah melihat hasilnya. Buah kopi segar, bulat besar-besar keluar dari ranting-rantingnya. Dengan buahnya yang banyak, membuat tak sedikit ranting kopi menjungtai ke tanah.

“Biasa hampir diinjak rantingnya kalau kita keliling di kebun kopi. Saking padatnya buahnya, jadi rantingnya ada yang rapat ke tanah,” cerita Aris bangga.

Awal mula buah kopi diolah secara tradisional: biji masaknya dipetik, ditumbuk, dijemur, lalu ditumbuk lagi sampai kulitnya bersih, barulah biji kopi dijual ke pasar-pasar di kota.

Mesin Roasting (Penggoreng). (Foto: Sarman Sahuding)

Aris tak mau kerja begini. Lambat. Sementara buah kopi dari puluhan hektar kebun warga kian membludak. Olah tradisional ketinggalan. Sementara cara cepat dengan bantuan teknologi tersedia.

Aris beruntung sebab namanya telah dikenal luas sebagai sosok pendobrak pertanian (perkebunan) kopi di Provinsi Sulawesi Barat.

Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpusat di Makassar menuntunkan jalan.

“LSM Ritma Grand yang memfasilitasi saya bermohon ke Kantor Duta Besar Selandia Baru di Jakarta,” kata Aris, merendah.

Beberapa bulan kemudian, cerita Aris, punggawa di Kedubes asing itu menyetujui surat permintaan bantuan yang dikirim oleh Kades Kurrak Aris.

Bantuan hibah pun keluar. “Jika ditotal sekitar 200an juta rupiah.”

Tapi Aris bilang, bantuan tersebut bukan dalam bentuk uang, tapi peralatan modern pengolahan buah kopi.

“Bantuan peralatan itulah yang digunakan sampai sekarang sehingga maju perkopian Desa Kurrak,” ujar Aris.

Belajar ke Jember

Dengan peralatan yang dimiliki Kurrak itu, Aris bersama warga desa hendak melangkah jauh.

Singsingkan lengan baju. Ia harus menerobos. Aris terikat dengan janjinya pada visi misi sebelumnya: Inovasi Desa Kurrak dengan Keunggulan Komoditi Kopi.

Tahun 2019 itu juga ia berangkat ke Kabupaten Jember. Ia berangkat dari Kurrak. Di Makassar, ia naik pesawat untuk tiba di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Di Surabaya ia menyewa mobil untuk mengantarnya selama 4 jam perjalanan ke Jember.

Mesin Pembubuk Kopi. (Foto: Sarman Sahuding)

“Saya melihat potensi kopi di Kurrak, maka saya inisiatif pergi ke Jember (sekitar April 2019). Saya selalu ingat janji saya mengenai Inovasi Desa,” Aris bercerita.

Di Jember, Aris bergabung dengan sejumlah terbatas orang yang juga datang dari pelbagai daerah di Indonesia yang ingin belajar pengembangan kopi.

Mereka belajar selama 5 hari di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslikkoka) Indonesia di Kabupaten Jember.

Gratis? Tidak. Aris dan peserta lainnya diharuskan membayar Rp5 juta. Biaya ini untuk akomodasi, materi pelatihan, dan sertifikat.

“Saya belajar dalam pelatihan itu bersama teman-teman dari Jawa,” kata Aris, bangga.

Aris mencatat tiga hal penting dari pelatihan itu, yakni inovasi kopi produksi kopi dan pemasaran kopi.

Ia sudah mengerti arti tanaman kopi dari hulu ke hilir. Artinya, sejak menanam bibit, memetik buah, hingga menyeduh kopi dalam cangkir lalu menyeruputnya.

Ia juga belajar cara roasting (menggoreng) biji kopi kering, dan tak kalah penting adalah menghadirkan cita rasa kopi yang berstandar SNI.

Ilmu dari Jember amat berguna bagi Aris. Ilmu itu ia padukan dengan peralatan modern atas bantuan dari Pemerintah Selandia Baru.

Bantuan mesin pengolah kopi itu berupa mesin Valfer (pemisah kulit dan biji basah), mesin Heller (pemisah biji kering), mesin Shortir (pemisah biji yang sudah standar), mesim Roasting (penggoreng biji kering), mesin Pembubuk, mesin Pengemas (mesin yang membuat kopi jadi bubuk dan siap pekingan dalam kemasan).

Giat mengemas bubuk kopi di Desa Kurrak. (Foto: Ist)

“Semua ini ada berkat peran besar LSM di Makassar itu,” Aris mengakui dan tak lupa sumbangsih pihak lain.

Buka Lapangan Kerja

Enam ribu pohon kopi di Desa Kurrak miliknya berbuah semua. Aris kini benar-benar telah memanen rupiah tak sedikit dari hasil kopinya itu.

Warga desa pun demikian. Selain menjual biji kopi, warga Desa Kurrak kini kedatangan orang bagai laron-laron.

Ada yang memesan biji kopi kering jenis Arabika dan Robusta, bubuk kopi hasil olahan sendiri, juga bibit tanaman kopi.

Bagi warga yang giat menanam kopi sejak 2018 lalu, ia telah memanen hasilnya. Jutaan rupiah mengalir hingga memenuhi kebutuhan dapur bagi warga desa, setiap bulannya.

Yang semata duduk berpangku tangan, ia jadi penikmat memandangi sesibuknya orang yang datang membeli hasil olahan kebun pertanian, hasil inovasi sang kades.

Aliran rupiah ke Kurrak bisa dibilang telah berlangsung setahun lebih, sejak 2020 lalu. Hampir semua kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat, tak sedikit warga di kabupaten memesan bibit kopi Kurrak. Dari luar daerah juga sudah sering datang.

Di kebun kopi Aris seluas 5 hektar lebih dengan 6 ribu pohon kopi, ia mempekerjakan 6 orang warga desa.

“Digaji harian. Setiap orang Rp100 ribu per-hari,” kata Aris. Tugasnya, memetik buah kopi yang sudah matang dan membersihkan kebun pasca panen.

“Ada satu orang lagi yang khusus angkut biji kopi dari kebun ke rumah. Gajinya dihitung Rp35 ribu perkarung,” jelas Aris.

Aktifitas membersihkan biji kopi dengan memisahkan kopi biji laki dan bintik hitam pada biji di Desa Kurrak. (Foto: Sarman Sahuding)

Panen raya yang lama. Menurut Aris, sejak awal 2020, tak henti-hentinya panen buah kopi. “Musim petik dilakukan setiap dua minggu sekali, biar buahnya matang sekali.”

Berapa kilo hasil sekali pemetikan?

“150 sampai 200 kilo sekali panen atau dua minggu sekali. Ini hitungan biji yang siap jual, ya,” kata Aris.

Hasil itu dari kebun miliknya — seperti halnya kebun milik warga lainnya — adalah kopi yang baru belajar berbuah.

“Ke depannya entah berapa banyak,” Aris berharap.

IKM Uai Limbong

Di tiga dusun yang ada di Desa Kurrak, di pinggir jalan, di pojok rumah, dan dasar kebun tentunya, warga kampung membuat lokasi persemaian sebagai tempat menyediakan bibit jualan.

Harga bervariasi, mulai dari Rp500 s.d. Rp4000 per-pohon. Disesuaikan dengan umur bibit. Yang paling mahal, bibit kopi dengan umur 6 s.d 7 bulan.

“Kalo sudah 7 bulan, paling bagus langsung tanam. Dijamin tumbuh,” kata salah seorang warga Kurrak, Samunding (40 tahun).

Peralatan pengolahan mutu kopi Kurrak yang telah ada sangat membantu warga yang tak perlu memasarkan biji kering kopi.

Semua sudah bisa dikelola secara profesional di Desa Kurrak. Kualitas bijinya hingga bubuknya sangat bagus.

Selain membeli kopi warga, Aris juga sudah mulai memasarkan sendiri bubuk kopi dalam kemasan yang ia labeli KOPI KURRAK Mandar. Semua ada, dari timbangan gram hingga kiloan.

Kunjungan Kerja Kepala BPOM Sulbar di Desa Kurrak, Kamis, 24 Juni 2021. (Foto: Sarman Sahuding)

Nyaris, warga Kurrak sudah tak menjual lagu biji kopi, kecuali dalam pesanan jumlah besar — berton-ton misalnya.

Merek Kopi Kurrak mulai dikenal meluas sejak pertengahan 2020. Label Kopi Kurrak Mandar ini adalah asuhan Industri Kecil Menengah (IKM) Uai Limbong. Nama wadah industri yang Aris beri nama.

Wadah ini pula yang mem-back up usaha Warung Kopi (Warkop) Kopi Kurrak. Warkop ini berada di Jl Poros Polman, tepatnya di Kelurahan Kapputangnga, Kecamatan Matakali, Polman.

“Selain melayani para penikmat Kopi Kurrak, juga menjual bubuk kopi dalam kemasan modern. Namanya tetap Kopi Kurrak,” jelas Aris.

Sejak penjualan bubuk Kopi Kurrak ini meningkat dan pangsanya terus menyebar luas, di kampung Kurrak sana giat warga untuk menanam kopi pun kian tinggi.

Keinginan Aris dulu untuk menggerakkan ekonomi dan partisipasi warga terjawab sudah—perlahan tapi pasti.

“Dalam waktu dekat ini, di Desa Kurrak akan dilakukan penanaman bibit kopi sebanyak 20 ribu pohon di atas lahan sekitar 20 hektar,” ujar Aris.

Kades Aris menyilakan berkunjung le kebun baru yang jalan menuju ke kebun sedang dikeruk oleh mesin raksasa pengeruk tanah: loder dan doser.

Di Warkop Kopi Kurrak sendiri, 4 orang karyawannya nyaris kewalahan menerima para pengunjung.

“Empat karyawan kami ini semuanya adalah warga Dari Desa Kurrak. Setiap orang digaji Rp1,1 juta per-bulan. Awalnya, kita hanya mampu gaji Rp500, beberapa bulan lalu gajinya naik. Selain gaji, semua kebutuhan dasar ditanggung,” urai Aris.

Biji Kopi Kurrak hasil olahan IKM Uai Limbong di Warkop Kopi Kurrak, Matakali, Polman. (Foto: Sarman Sahuding)

Ia bilang, empat karyawan warkop itu sudah mahir jadi Barista—peracik kopi yang siap diseruput dengan nikmat.

BI Sulbar Hadir

Peruntungan yang lainnya datang menghinggapi sosok lelaki polos apa adanya ini.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Sulawesi Barat memilih bubuk Kopi Kurrak sebagai grimbing atau sampel yang diikutkan lomba dalam sebuah ajang pemilihan cita rasa kopi Nusantara, 2020 lalu.

Hasil lomba itu, Kopi Kurrak dinobatkan sebagai kopi dengan cita rasa terbaik ketujuh se-Indonesia.

“Lomba itu diselenggarakan di Jakarta. Dan, Kopi Kurrak memenangi lomba sebagai Speciality Arabika terbaik ketujuh,” ujar Aris.

Di Matakali, Aris menunjukkan sertifikat sebagai pemenang dari Bank Indonesia.

Pada momen Hari Ulang Tahun (HUT) BI di November 2020, Kopi Kurrak kembali menjadi bagian dalam Lomba Karya Ekonomi.

Lomba ini menempatkan Kopi Kurrak sebagai Juara Harapan se-Indonesia Timur. Dan, Aris begitu senang menerima hadiah herupa uang senilai Rp15 juta.

Kpw BI Sulawesi Barat tak membiarkan Aris dan usaha rintisannya yang berbasis kopi itu jalan sendiri.

BI terus melakukan pendampingan kepada IKM Uai Limbong—sebagai induk usaha kerakyatan yang dibina Aris— salah satunya ekspose kopi ke manca negara.

BI turut memperkenalkam potensi Kopi Kurrak sebagai hasil olahan IKM Uai Limbong.

Kepala Desa Kurrak ARIS. (Foto: Sarman Sahuding)

“Atas bantuan fasilitasi dari BI Sulawesi Barat, sample Kopi Kurrak dikirim ke Norwegia. Nah, imbal baliknya, kita berpeluang eksport ke sana dalam jumlah yang besar,” jelas Aris.

Pembinaan BI pula, manajemen usaha pemasaran kopi yang dibina Aris kian maju, salah satunya pemasaran secara digital.

“Sangat banyak ilmu yang kami peroleh berkat pendampingan BI Sulbar,” Aris bersyukur.

Memasuki 2021, Aris belum bisa konsentrasi sepenuhnya di kebun kopi. Ini lantaran Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Kementerian Perindustrian mengundangnya untuk ikut pelatihan bisnis.

Lembaga pemerintah yang berkantor di Makassar tersebut, mengenalkan pendampingan baru yang disebut Inkubator Bisnis. Di sini Aris kian melek bisnis secara digital.

Aris (kanan) di Warkop Kopi Kurrak. (Foto: Istimewa)

“Saya bangga karena satu-satunya pengelola Kopi Kurrak yang diundang ikut pembinaan khusus ini,” pungkas Aris.

Nikah, Titik Awal Aura Sukses

Lahir di Kurrak, 18 Juli 1976, dari pasangan Tibe (Ayah) dan Bonang (Ibu). Ayah Aris sudah pergi untuk selama-lamanya tahun 2020 lalu pada umur 60an tahun.

Bonang (60 tahun), ibunya, masih sehat sampai hari ini. Alhamdulillah. “Beliau menetap di Desa Kurrak. Masih kuat kerja,” Aris memuji Ibunya.

Aris enam bersaudara: 3 laki-laki, 3 perempuan.

Ia mulai menammatkan pendidikan formal di SD Kurrak pada 1990. Ia melanjutkan pendidikan di MTs DDI Kanang, Binuang, selanjutkan menempuh pendidikan lanjutan atas di MAN Polewali di Manding, Polewali Mandar.

Aris menyelesaikan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujungpandang, Sulawesi Selatan.

Tinggal menghitung hari, Aris, S.Ag akan merengkuh gelas Magister Ilmu Komunikasi (S2) di Universitas Fajar (Unifa) Makassar, Sulawesi Selatan.

Aris lelaki pemberani. Jauh-jauh ke Gowa, Sulawesi Selatan, meminang seorang Dara Makassar.

Pada tahun 2006, Aris menutup masa lajangnya dengan menikahi seorang perempuan muda bernama Wahyuni, Sarjana Kesehatan.

Bersama Wahyuni membina rumah tangga, keluarga ini telah dikaruniai 4 orang anak: Ahmad Faqih Aris (15). Ia kini duduk di bangku SLTP di Pesantren Arrisalah Batetangnga, Binuang, Polman; Abd. Wahid Aris (13). Anak kedua laki-lakinya ini sedang duduk di Kelas II SMP 04 Polewali; Jumrianti Aris (7), kini duduk di Kelas II SD 06 Kurrak; dan si bungsu Elisa Aris (1), masih dalam gendongan dan susuan Ibunya.

Di rumahnya di Desa Kurrak, banyak orang datang. Selain sekadar bercakap-capak, dan ini tentu bagi para lelaki dan tetua kampung.

Yang ibu-ibu dan anak remaja, mereka sibuk membersihkan biji kopi. Masing-masing memegang pattapi yang bahan dasarnya dari kulit bambu. Biji kopi ditelisik. Dibersihkan. Yang ada hitamnya dipisahkan.

“Orang barat tidak suka kalau ada bintik hitam pada biji kopi,” Aris menjelaskan.

Penjelasan Aris itu ia sampaikan di hadapan Ibu Netty, Kepala BPOM Sulawesi Barat di Mamuju.

Sore itu, Kamis, 24 Juni 2021, sekitar pukul 16.00 WITA, Ibu Netty bersama tiga orang staf dan satu sopir tiba di Desa Kurrak.

Di teras samping rumah Aris, Kepala BPOM ini memberi arahan kepada Aris. Sejumlah surat tergelar di atas meja.

“Ini kunjungan resmi beliau,” kata sopir yang membawa rombongan kecil dari Mamuju ini.

Sekembalinya Ibu Netty, tepat pukul 17.30 WITA, Aris bicara pada saya.

“Saya mau buat gudang, jadi butuh arahan dari BPOM agar bangunan penyimpanan dan olahan kopi sesuai standar Nasional,” jelas Aris.

Jelang bunyi bedug tanda magrib tiba, di bawah keteduhan rintik hujan yang turun melandai, Aris menuntun saya memelototi tumpukan kecil biji kopi yang telah dipisahkan oleh warga yang kerap membantunya.

“Ini kopi jantan, Man, enak sekali diminum. Kuat orang. ‘Kopi mak ……. (khusus orang dewasa).” Tawa Aris sejadi-jadinya.

Seorang ibu menyela, “Iami todisanga kopi Laki, pak.”

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR