Jembatan Dana Desa Kunyi 2019 ‘Diselesaikan’ TMMD 2021

295
Jembatan yang dibangun dari Dana Desa Kunyi 2019 tampak dilanjutkan oleh sejumlah personil TNI dalam Program TMMD 2021 di Desa Kunyi, Anreapi, Polman, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

 

Penyelesaian jembatan di Dusun Tondok Bakaru, Desa Kunyi adalah Sasaran 3 fisik dalam program TMMD 2021 di Kabupaten Polman, Sulbar, dengan waktu pelaksanaan TMMD yakni 15 Juni s.d. 15 Juli 2021. (Foto: Sarman Sahuding)

TRANSTIPO.com, Polewali – Papa Julian (40 tahun) bangga kampungnya dibangun. Ia menikmati pekerjaannya dalam seminggu ini sebagai tukang ojek.

Yang Papa Julian angkut dengan motor tuanya bukan orang, tapi barang seperti semen dan pasir dalam karung.

Sepeda motornya ia permak di bagian perut layaknya model sepeda: besi penyambung mesin ke setir dibengkokkan agak ke bawah. Dengan begini barang bisa leluasa ditaruh di depan sadel. Tampak layaknya model sepeda buatan zaman dulu.

Dulu, Papa Julian angkut buah kakao kering ke pengumpul sampai ke Dusun Kunyi, Desa Kunyi. Mulai dari pintu gerbang Desa Kunyi sudah dibeton. Kendaraan roda empat pun sudah bisa sampai ke ujung Dusun Kunyi.

Di ujung jalan beton inilah Papa Julian bisa mengail rezeki lumayan.

Papa Julian adalah warga Dusun Tappang, Desa Kunyi, Kecamatan Anreapi, Kabupapten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).

Di bawah rerimbunnya pohon kakao (cokelat), lelaki bersahaja ini sumringah. Persis di ujung jalan betonisasi desa, Papa Jualian berbaring di atas batang kakao tua yang nyaris menjungtai ke tanah.

Rantai sepeda motornya baru saja ia basahi dengan oli tua. Ia baru saja turun dari puncak gunung dusunnya.

Sesekali ia menyembulkan asap rokoknya ke udara sembari menjawab pertanyaan transtipo, Rabu, 23 Juni 2021, sekitar pulul 13.45 WITA.

Papa Julian tak sendiri. Lima kawan sekampungnya sedang dalam peruntungan yang sama. Mereka berenam beroleh pekerjaan musiman sebagai pengangkut bahan material bangunan.

Pasir dan semen mereka angkut dengan motor mulai dari ujung beton atau titik nol proyek TMMD 2021 hingga ke titik pembuatan dekker di puncak gunung.

Seorang pemuda dusun bernama Awin (25 tahun). Pemuda ini adalah teman kerja Papa Julian. Ia bilang sudah enam hari angkut pasir yang ditaruh dalam karung.

Bunyi knalpot motor Awin memekak saat ia tancap gas ke pendakian awal begitu meninggalkan Papa Julian di titik nol atau ujung jalan Dusun Kunyi. Sepanjang jalan Dusun Tappang yang dilalui Awin, nyaris tak ada jalan datar.

Papa Julian masih berasyik dengan cerutunya saat kawan-kawannya yang lain turun dari ketinggian. Siang kemarin itu, ramai benar bunyi setengah lusin kendaraan roda dua.

Ojek Pasir Biaya Murah

Seolah telah bersepakat, kawan Papa Julian pun ikhlas dengan pekerjaan angkut pasir dan semen ini. Ia juga tak menyoal soal biaya yang mereka terima sebagai imbalan angkut material proyek.

“Kami terima saja dibayar Rp700 ribu setiap satu truk mobil pasir. Biasa kami habiskan isi 3 mobil dalam sehari,” kata kawan Papa Julian.

Di kebun kakao tempat Papa Julian membaringkan penat sejenak, ia menyela. “Kami tidak terlalu pikirkan soal ongkos angkutnya, aka kampungki’ siami dibangung le. Kan anak cucu kami bisa nikmati.”

Papa Julian benar. Kawan sekampungnya mengangguk pula tanda bersepakat dengan lelaki periang itu.

Sebelum pemuda Awin berlalu ke pendakian terjal, ia sempat bilang, “Sudah dua hari ini cuaca baik (Selasa dan Rabu tak hujan). Jadi kami bisa habiskan 3 mobil pasir. Kalau hujan, seperti beberapa hari lalu, paling 2 mobil bisa kami angkut.”

Hujan tak menyurutkan semangat dan giat mereka angkut material, terutama pasir. “Na kami baku dorong naik. Makanya lama sekali baru sampai ke puncak kalau hujan, licin sekali jalan,” kata seorang pemuda lainnya yang tampak seumuran dengan Awin.

Papa Julian membenarkan kata anak muda itu. “Biasa kami angkut sampai 50 kali dalam satu hari. Tapi, ya, kadang pecah lahar motor ta’tiga.”

Papa Julian istirahat di bawah pohon kakao bukan tanpa alasan. “Ta’tiga kali naik istirahat lagi karena panas mesin motor.”

Dalam sehari para tukang ojek bahan material ini habiskan bahan bakar bensin sampai tiga liter.

“Awal-awalnya pak sewa pasir satu mobil truk Rp500 ribu, tapi karena beliau lihat kami setengah mati, ya dinaikkan jadi Rp700 ribu setiap satu mobil truk,” kata Papa Julian.

TNI Masuk Desa

TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2021 cukup membantu masyarakat Desa Kunyi, terutama 5 dusun di pegunungan. Dusun dimaksud yang warganya hidup di puncak gunung yakni, Dusun Tappang, Dusun Buangin, Dusun, Tondok Bakaru, Dusun Rarekan, dan Dusun Bendang.

“Desa Kunyi terdapat 7 dusun, yang agak rata hanya di Dusun Kunyi,” kata Kepala Dusun Kunyi, Ilyas (50 tahun).

Kepala Desa Kunyi sendiri, kata Ilyas, adalah warga Dusun Rarekan. “Jauh di atas. Belum ada signal Hp di rumah pak desa. Biasa kalau mau telepon, ya cari-cari tempat yang ada signal,” ujar Ilyas lagi.

Di teras rumah Ilyas, juga ada Zainal, kepala bagian Humas Kodim 1402/Polmas. Ketika hujan turun sekitar pukul 14.00 WITA, sejumlah personil TNI dari Kodim Polmas keluar dari rumah Ilyas untuk membantu keluarga Ilyas menutupi terpal buah kakao kering yang sedang dijemur di halaman rumah Ilyas.

Sembari menunggu reda turun hujan, kami mengobrol dengan Tentara Zainal.

“TMMD di Desa Kunyi ini peresmian atau pembukaannya pada Selasa, 15 Juni dan berakhir pada 15 Juli 2021,” kata Zainal.

Zainal bilang, TMMD di Kunyi sasaran fisik ada tiga: perintisan jalan 1.977 meter, pembuatan 11 unit dekker, penyelesaian 1 unit jembatan (di Dusun Tondok Bakaru).

“Kalau tidak salah anggarannya 1 miliar rupiah. Tapi saya tidak tahu kalau soal anggaran. Ada penanggungjawabnya (di kantor),” ujar Zainal.

Sasaran non fisik, sebut Zainal, juga ada, misalnya penyuluhan. “Kemarin ada kegiatan penyuluhan hukum di sini (Kunyi).”

TNI masuk Kunyi di 2021 ini melibatkan 150 personil. Semua matra TNI terlibat. “Ada darat, udara, laut, polisi, termasuk ada dua orang dari kejaksaan dan (penyuluh) kesehatan. Bukan dari TNI saja,” jelas Zainal.

Di Kunyi, belasan rumah warga dijadikan posko oleh tim TMMD. Benar, di kiri kanan jalan, sejumlah rumah warga ditempeli kertas dengan tulisan posko tim TMMD.

Para personil sedang menikmati makan siang pada Rabu, 23 Juni, ada pula yang sedang berbaring di atas bale-bale (dipan) di bawah kolong rumah kayu milik warga Desa Kunyi.

Pada rumah tembok satu lantai, tampak anggota TNI bercengkerama di ruang tamu.

“Selama TMMD ini, anggota tim tinggal di rumah masyarakat, jadi anak asuh,” ujar Zainal.

Dengan begini, tambah Zainal, hubungan emosional terbangun, bahkan sampai selesai TMMD ini diharapkan hubungan tetap terjalin.

Sesuai jadual, program TMMD berlangsung satu bulan: 15 Juni – 15 Juli.

Di lapangan, perintisan jalan sepanjang hampir dua kilometer dengan lebar empat meter sudah selesai. 9 buah dekker juga selesai, sisa 2 dekker yang baru akan dikerja di puncak gunung. Bahan pasirnya juga sedang diangkut oleh Papa Julian dan rekannya.

“Pelaksanaan memang satu bulan, tapi masa pra ini digenjot yang fisik. Ada sasaran tambahan, yakni pengecatan Gereja dan Posyandu,” ujar Zainal.

Sebuah rumah loteng milik warga di Dusun Kunyi ramai benar pada siang di Rabu, 23 Juni itu.

Asap mengepul sejadi-jadinya, menyembul sampai ke jalan. Rupanya, rumah ini dijadikan posko dapur umum. Nasi kotak dalam bungkusan plastik keluar-masuk dari dalam rumah. Sejumlah personil TNI — juga ada kaos BRIMOB — datang ke dapur umum itu silih berganti menenteng kantongan berisi nasi kotak putih itu.

Canda dan tawa menyeruak di antara personil TNI yang senior.

Dari kolong rumah yang ramai itu, kami beranjak menuju ke ujung jalan beton kisaran 100an meter, di situlah titik nol program TMMD itu.

Tampak tumpukan pasir di sisi kiri jalan. Sebuah baliho memanjang dengan dua sisi ujungnya diikat di dahan pohon langsat. Tertulis nama program itu untuk sasaran I.

Hujan belum reda betul saat kami beranjak dari Dusun Kunyi. Sebelum itu, sebuah pemandangan adalah “terjemahan Manunggal Tentara dengan Rakyat”.

Jam dua siang baru lewat beberapa menit ketika hujan sekelebat turun. Kakao milik Ilyas yang sedang disiangi di atas tiga terpal, serentak beberapa personil TNI melipat masing-masing ujung terpal itu, dan semakin rapat sehingga kakao yang sudah dalam pengeringan itu tertutupi terpal.

“Kakao itu saya beli dari warga. Saya kumpul lalu saya jual kembali ke pedagang di kota (Polewali),” kata Ilyas.

Tentara Zainal pun beranjak dari duduknya di teras rumah Ilyas ketika kami hendak kembali ke kota Polewali. Zainal menuju ke Posko Induk TMMD Desa Kunyi.

Kades Anri

Tepat pukul 15.00 WITA, setelah melalui penurunan jalan beton Kunyi, pada jalan datar yang lapang, Kepala Desa Andri menyahut di ujung telepon seluler.

Konfirmasi lewat sambungan suara tanpa kabel itu, Kades Kunyi ini menjelaslan perihal jembatan puncak Tondok Bakaru yang dibangun dari Dana Desa 2019.

Ia tak menampik ketika disebutkan bahwa pondasi jembatan itu berbiaya Rp334.696.200.

“Itu tahap pertama. Rencana akan dilanjutkan pada tahun 2020 tapi karena pandemi Covid jadi batal,” kata Anri di ujung telepon.

Menurut Kades Kunyi Anri, konsultan sebenarnya sudah menghitung biaya penyelesaian jembatan tersebut, tapi batal karena covid.

Suara Anri kadang hilang. Rupanya, seperti kata Kadus Ilyas sebelumnya, di tempat kades itu belum dijangkau jaringan telepon.

Saat itu Anri bisa tersambung karena ia mencari titik tertentu di atas gunung di mana biasa didapati signal jaringan.

Masih menyisakan sejumlah pertanyaan kepada Anri, terkait rasionalisasi anggaran pondasi jembatan di Tondok Bakaru senilai hampir 350 juta itu.

Apa sepadan total anggaran itu dengan pembuatan pondasi jembatan semata?

Warga di beberapa dusun di atas puncak Kunyi layak bersyukur, sebab jembatan yang hanya berpondasi kuat dengan bentangan beberapa bambu, kini telah bisa dilalui berkat TMMD.

Tampak kini jembatan hijau dari ikatan kuat kayu itu mentereng yang di atasnya pemandangan sungguh indah: air mancur.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR