Fuji, salah seorang peserta PIFAF 2019 asal Korea Selatan, sedang menikmati salah satu makanan khas Mandar di Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, Selasa, 6 Agustus 2019. (Foto: Humas Pifaf)
Peserta PIFAF 2019 tertarik dengan kain tenun khas Mandar di Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, Selasa, 6 Agustus 2019. (Foto: Humas Pifaf)

TRANSTIPO.com, Polewali – Sehari jelang berakhirnya kegiatan PIFAF 2019, para delegasi negara beserta panitia pelaksana (panpel) mengunjungi Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Selasa, 6 Agustus 2019.

Dari sejumlah desa di Polman, Desa Laliko tercatat sebagai desa yang sangat maju dengan empat pilar yaitu, pendidikan, kesehatan, wirausaha dan lingkungan, di bawah program Kampung Berseri Astra. Maka tak salah jika menjadi salah satu sasaran untuk dikunjungi para delegasi negara peserta PIFAF.

Kampung berseri Laliko dikelola sejak Juli 2017, dimana Astra melakukan performa dengan indikator pada setiap tahunnya perkembangan mencapai satu sampai lima bintang, program ini dalam satu kawasan membina satu desa selama kurun waktu 5 tahun.

Menjadi kampung berseri Laliko telah memasuki tahun ketiga dengan pencapaian bintang berjumlah tiga, artinya pada setiap tahunnya Laliko ini mendapatkan penghargaan satu bintang.

“Artinya semua elemen empat pilar itu cakupannya sudah level minimal kabupaten, jadi minimal pemasaran produk, program punya imbas,” kata Penanggung jawab program Kampung Berseri Astra wilayah Indonesia Timur, Yulika, Selasa siang.

Kedatangan sejumlah delegasi negara peserta PIFAF di Desa Laliko mendapat respon baik dari masyarakat setempat, bahkan kata Yulika, hal ini akan menjadi efek besar bagi masyarakat untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan produk.

“Ini menjadi ruang untuk masyarakat mulai percaya diri, yang selama ini hanya mengembangkan produk untuk lokal saja, sekarang sudah dibeli orang luar negeri,” katanya.

Menurut Yulika, dengan adanya tamu luar ini apalagi go international paling tidak mereka cukup percaya diri bahwa potensi yang mereka miliki layak dikonsumsi, apalagi orang-orang luar dan itu satu pembelajaran yang sangat luar biasa.

Lanjut Yulika menuturkan, kampung berseri Astra kelompok UP2K Laliko telah memproduksi beberapa macam makanan kemasan, yaitu kasippi, kerupuk ikan tongkol, abon ikan tongkol, dan minyak kelapa.

Sejumlah delagasi negara yang berkumpul ke Laliko mengunjungi usaha kecil dan menengah (UKM) yang dibina Asyariah dengan membeli produk makanan dan sarung sutra Mandar.

Salah satu delegasi negara Korea Selatan, Fuji mengaku suka dengan makanan khas Mandar yang disajikan. Tak lupa juga ia mengakui keindahan sarung tenun Mandar yang diproduksi masyarakat Mandar sendiri.

“Makanannya enak, saya suka bentuknya kayak makanan di negara kami namanya nurunji, tapi ini lebih enak,” kata Fuji melalui LO-nya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR