‘Dalam figura design’, Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar dan Wakil Bupati Polman HM Natsir Rahmat. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Polewali – Bupati Polewali Mandar (Polman) Andi Ibrahim Masdar (AIM) dan Wakil Bupati Polman HM Natsir Rahmat sudah pasti—salah satunya—yang paling senang hari ini, dan bagi banyak masyarakat Polman tentunya.

Senang, karena itu ia sumringah—itu pasti—sebab Polewali Mandar Internasional Folk Art and Festival (PIFAF) 2019 resmi dibuka, sebentar lagi. Dalam catatan panitia PIFAF di Polewali, ibukota Kabupaten Polman, terdapat sejumlah delegasi dari Negara di dunia yang hadir selaku peserta di PIFAF kali ini.

Enam Negara peserta PIFAF dimaksud adalah Korea Selatan, Ceko, Timor Leste, Slovakia, Ekuador, dan India.

Pembukaan acara kebudayaan dan pariwisata kelas internasional ini belangsung di Area Sport Center, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Polman pada Kamis, 1 Agustus 2019, dimulai pada pukul 13.00 WITA—sekitar beberapa menit kemudian.

Tahun ini panitia memilih tema, “Lestari Budayaku, Maju Pariwisataku”.

Meski sebagus itu temanya, tapi tak semua masyarakat Polman menyambutnya dengan riang gembira. Salah satu kelompok masyarakat yang ‘bermuka masam’ menjelang pembukaan kegiatan ini, adalah sekelompok Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polman.

Berita sebelumnya disebutkan, selusinan lebih mahasiswa dari HMI ini melakukan unjuk rasa atau demontrasi di depan Kantor Bupati Polman, Rabu, 31 Juli, kemarin.

Mahasiswa HMI ini menilai—dan itu diteriakkan dengan pakai pengeras suara yang mereka tenteng sepanjang jalan yang dilalui—bahwa kegiatan ini hanya menghabiskan anggaran daerah yang cukup besar.

Output yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan masyarakat,” ujar Muhammad Ridwan, koordinator lapangan unjuk rasa ini dalam sebuah orasinya.

Dikatakannya, dengan kegiatan ini yang diasumsi untuk memperkenalkan kearifan atau budaya lokal yang ada di tanah Mandar, dengan menghadirkan sebanyak beberapa negara.

“Hanya pada pagelaran PIFAF saja wisatawan asing terlihat di Polman, setelah itu tidak ada lagi,” katanya, ketus.

Terkait transparansi anggaran PIFAF, salah satunya, mereka juga pertanyakan. Tapi yang ini, Plt Kepala Dispora Kabupaten Polman Andi Masri Masdar punya jawaban.

“Yang namanya promosi itu, ya, tentu membutuhkan waktu, tidak semudah membalikkan telapak tangan, pasti butuh proses, salah satunya melalui PIFAF,” terang Andi Masri Masdar kepada Wahyuandi dari transtipo di Polewali, kemarin.

Setelah pelaksanaan PIFAF yang sebelumnya, tambah Andi Masri, Kabupaten Polman telah memiliki sebuah perusahaan arang tempurung kelapa yang kemudian hasilnya diekspor ke luar Negeri, di antaranya ke Cina dan kawasan Timur Tengah.

“Ini juga salah satu keberhasilan PIFAF sebelumnya. Jadi pelaksanaan PIFAF ini tentu ada efek positif bagi masyarakat Polman secara umum,” katanya.

Terkait anggaran? Anggaran pagelaran PIFAF 2019 ini, sebut Andi Masri, hanya sebesar Rp200 juta, diambil dari APBD Kabupaten Polman.

Apakah benar, hanya Rp200 juta? “Selebihnya itu kami dapat bantuan dari Kementerian Pariwisata berupa non-tunai untuk perlengkapan fasilitas pelaksanaan PIFAF,” terang Andi Masri Masdar.

Apakah cukup jika hanya Rp200 juta untuk PIFAF 2019 ini? Atau, jika nilainya, misalnya, Rp800 juta, apakah itu tak berlebihan pula? Entahlah.

Hari ini, Kamis, 1 Agustus, di kawasan hutan buatan dalam kota yang mengelilingi sebuah stadion sepak bola yang besar milik nama mendiang Haji Said Mengga—yang pernah memimpin Polewali Mamasa (Polmas) selama 10 tahun—benar-benar disesaki pengunjung yang datang dari segala arah.

Puncak acara pembukaan PIFAF, tulis panitia dalam salah satu grup percakapakan WhatsApp khusus kalangan pewarta, “Tepat jam 1 siang sudah bisa masuk di tempat arena.” Kurang lebih begitu, dan tentu jika tak molor acara karena sesuatu dan lain hal.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR