Salah seorang pengunjung Alun-alun Pekkabata, Polewali, tengah bersantai di salah satu sudut taman, Sabtu malam, 28 April 2018. (Foto: Burhanuddin)

TRANSTIPO.com, Polewali – Bagi warga Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, salah satu tempat favorit berkumpul di kala akhir pekan adalah di Alun-alun Pekkabata—sebuah lapangan luas yang di dalamnya ditanami segala rupa tanaman hijau, rerumputan, dan disekelilingnya terdapat jalan.

Pada setiap Minggu malam, misalnya, Alun-alun di Pekkabata ini dibanjiri pengunjung. Tak pelak, kejadian negatif pun terkadang pula hadir.

Misalnya, para kawula muda menjadikan jalan lebar di sekeliling ‘taman kota’ ini sebagai tempat ajang balap motor—balapan liar.

Dengan begini, pengunjung lainnya tentu merasa terganggu, dari bunyi kendaraan roda dua yang bising, pula ancaman kecelakaan.

Mengantisipasi berlanjutnya balapan liar di Alun-alun kota itu, pihak pengamanan di Polewali Mandar pun coba berbuat.

Pada Sabtu malam, 28 April 2018, pihak kepolisian dari Polres Polewali Mandar dan Dinas Perhubungan Pemkab Polewali Mandar buat rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup untuk satu arah.

Di sekitara Alun-alun itu, kru laman ini menanyai Kepala Bidang Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Polewali Mandar Sukri Puanna Rauf.

“Malam ini kita uji coba satu jalur hingga pukul 24.00 WITA. Alhamdulillah, sudah pukul 23.00 tidak ada satupun pengendara motor yang balapan,” kata mantan Lurah Pekkabata, Polewali ini.

“Kita berhasil,” ujar Sukri Puanna Rauf. Dan, dengan cara ini, sambungnya, “Kita akan laporkan ke Kepala Dinas Perhubungan bahwa sistem satu arah bisa kita efektifkan setiap Sabtu malam.”

Sejumlah pengunjung sedang menikmati hidangan kopi panas dan jajanan yang dari seorang pemilik gerobak yang sering mangkal di Alun-alun, Sabtu malam, 28 April 2018. (Foto: Burhanuddin)

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Polewali Mandar AKP Rikki Ramdani—yang hingga pukul 24.00 WITA bertahan bersama sejumlah personil di lokasi itu—mengatakan, syukurlah malam ini tidak ada insiden yang terjadi.

“Tetap dalam kondiisi aman,” katanya. Dan saat meninggalkan Alun-alun, sejumlah personil kepolisian masih disiagakan hingga para pedagang kaki lima telah beranjak dari tempatnya menjual, sekitar Pukul 01.00 dini hari.

Harapan untuk terus ada aparat kepolisian saban Sabtu malam, datang dari Wahyudi, pemilik gerobak Bos Kopi. Udi—sapaan akrabnya—bilang, kita ini hanya cari uang kecil, ya, sekitar 40 gelas kopi saban Minggu malam.

“Kita juga jual jajanan lain. Kami senang jika ada terus pihak pengamanan setiap Sabtu malam,” ujar Udi.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR